Categories: kolase

Aksara Agama

Share

Namines duduk di atas batu yang lumayan besar. Bersyair suluk aksara agama atau kidung Jawa yang begitu mahsyur di desanya. Warga sekitar duduk melingkari Namines, membaca buku, menyalahakan obor, berdiskusi, dan beberapa di antaranya mengikuti alunan lagu Namines. Jiwa menyatu, rasa melebur, raga menepi, tubuh mereka mengawang-awang.

“Sudah siap?” Sapa Namines.
“Seharusnya demikian, kami tetap setia mendengarkan petuah yang membuatmu begitu mulia” Sela salah seorang berpakaian serba keputih-putihan.
“Jawa dan Islam” Namines membuka buku yang biasa dibacanya akhir-akhir ini. “Hanya institusi. Islam yang meraga, Jawa yang menjiwa. Ruh”
“Kalau dari Batak?”
“Islam yang meraga, Batak yang menjiwa. Ruh!”

Mendadak hening. Sekitar lima menit Namines berdiam dan diikuti kesenyapan suasana kajian malam itu. Episode ke sekian, Namines menampakkan sisi misteri dan penuh teka-teki. Kepekaan rasa dan kebijaksaan melihat perkara. Satu per satu berguru padanya. Namines yang semenjak dilahirkan begitu dihinakan hingga kini begitu dimuliakan. Lelaki tidak begitu perkasa, tapi berjiwa lapang laksana samudra.

“Ha Na Ca Ra Ka”, melengking suara menggema dari balik pohon. Namines menyahut, “Ada sebuah kisah. Antara orang satu dengan yang lain, golongan satu dan yang lain, kelompok satu dengan yang lain, institusi satu dengan yang lain.”

“Da Ta Sa Wa La”, suara memekik yang lebih keras menggugah kelelawar-kelelawar di dalam gua. “Mereka terlibat sebuah perselisihan, pertentangan, peperangan untuk memenangkan dirinya dan kelompoknya”

“Pa Dha Ja Ya Nya”, lebih keras dari sebelumnya. Suaranya kali ini begitu mengguncang alam semesta raya. “Sejak dulu sampai sekarang, mereka terlihat begitu tangguh dan perkasa dengan segala kecerdasan dan kekuatannya. Saling meleparkan serangan yang kritis untuk membunuh lawannya”

“Ma Ga Ba Tha Nga”, suara mendadak lirih, melemah dan mati. Namines diam sejenak dan menghela nafas panjang. “Bukan kemenangan yang didapatkan, mereka sama-sama mati menjadi bangkai. Panji-panji melempem tak berkuasa.”

Seketika warga yang sedari tadi ketakutan, cemas, dan gelisah mendengar wejangan Namines saling berpelukan. Beberapa ada yang meneteskan air mata. “Sebelum menyesal, kenapa kita selalu keras kepala untuk sibuk berdebat dan merasa berkuasa?!” ucap salah seorang pengikut Namines.

Namines kembali melanjutkan petuahnya, “Jangan terlalu sibuk bicara persatuan, jika dalam dirimu masih ada kecemasan dan kekhawatiran untuk kelebihanmu. Merasa congkak dengan seluruh ilmumu. Tidak mau menerima perbedaan pendapat dan merasa paling toleran. Agama adalah pakaian yang seharusnya mencerminkan persatuan dan kedamaian. Bukan beradu kekuatan yang pada akhirnya hanya akan menjadi bangkai di pelataran”

Baca Juga: Mencari Celah

Para tawanan setan mengamuk. Relawan budak agama kembali tersadarkan. Kebencian hanyalah sebuah virus yang begitu ilusi untuk dibuktikan, bahkan dirasakan. Mereka seolah bijaksana, sebenarnya muasal dari kebencian. Mereka yang seolah berbakti, sebenarnya adalah penutup diri dari kemunafikan. Manusia begitu digdaya di hadapan Tuhan. Sedangkan mereka kerap lupa menjadi hamba. Hamba yang tidak pernah berharap menang, berkuasa, dan terpandang. Kerena hamba yang lulus adalah mereka yang mampu menyingkirkan nafsunya untuk berperilaku indah kepada sesama.

Kemudian diikuti suluk yang disenandungkan sangat merdu oleh Namines,

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing Lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Sakathahing Rasul
Pan dadi sarira Tunggal
Ati Adam Utekku Baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku Nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup Pamiyarsaningwang
Yusup ing rupaku mangke
Nabi Dawud Suwaraku
Jeng Suleman kasekten mami
Nabi Ibrahim nyawaku
Edris ing Rambutku
Baginda Ngali kulitingwang
Getih daging Abubakar singgih
Balung Baginda Ngusman

Sungsumingsun Patimah linuwih
Siti Aminah Bayuning Angga
Ayup ing Ususku mangke
Nabi Nuh ing Jejantung
Nabi Yunus ing Otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam sarak
Sammpun pepak sakatahe para
Nabi dadya sarira Tunggal.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU