Categories: kolase

Akidah Impor!

Share

Aku diajak teman-temanku kampus untuk melakukan aksi demo di depan balai kota. Mereka menuntut untuk penghentian impor beras dan gula. Atas nama organisasi agama yang paling besar di kampus kami. Spanduk-spanduk dibentangkan. Bendera bertuliskan istilah-istilah keagamaan. “Tuhan pasti merestui”, celetuk salah seorang teman.

“Tuhan akan merestui untuk diajak berdemo dan menuntut keadailan?!”, batinku.

Aku menolak. Lebih baik membaca buku dan melanjutkan menulis sebuah kisah tentang hidupku. Di sebuah danau kampus, yang kemarin aku bertemu dengan kakek misterius, aku kembali bergelut dengan tulisan-tulisan. Hingga pada akhirnya ada salah satu temanku mengajak untuk berdiskusi karena ketidakikutan berdemo tadi pagi.

“Kenapa?”, tanyanya.

“Apa yang dimasalahkan dengan impor?”

“Impor itu berarti tidak percaya dengan identitas bangsa. Merasa tidak mampu. Sedangkan kita itu sebenarnya mampu”

“Lalu kenapa kamu juga mengimpor akidah?”

Seketika dia memicingkan mata. Teman yang satunya bergerak tak beraturan dengan gestur panik. Kemudian dia kembali mendebatkan karena merasa agama atau akidah yang dibawanya itu benar, bukan impor. Kemudian dia kembali berceramah panjang lebar, bahwasanya agama itu diajarkan untuk memberantas kemaksiatan dan kemungkaran. Sifat kemusyrikan dan tidak diajarkan oleh kanjeng nabi. Dalil pun bertebaran menghiasi seluruh suasana sore itu.

Setelah selesai berceramah. Aku bilang, “Kenapa kamu bisa merasa bahwa semua yang kamu bicarakan adalah kebenaran?”. Kemudian dia kembali menjelaskan dengan dalil-dalil lainnya. Sampai aku tersenyum dengan begitu idealisnya dia mempertahankan argumen.

“Mas, menurutku kita ini juga sudah cukup mandiri dalam beragama dan berakidah. Sedangkan kita banyak mengimpor ajaran dari timur tengah yang kata mas-nya tadi sebagai sumber kebenaran. Makanya aku tidak mau ikut demo, karena aku merasa ketika agama saja bisa diimpor tanpa ada yang mendemo, kenapa beras dan gula diperlakukan berbeda?”

“Apa kamu tidak percaya pada ajaran agama dari Arab?”

“Misalkan itu agama atau akidah sebelum kerajaan yang sekarang aku setuju mas, karena agama di sini kan juga belajarnya dari Arab. Sayangnya karena adanya pengalihan kekuasaan karena politik dan sebagainya. Akidah dan ajaran yang sebelumnya dihancurkan dengan melakukan pengusiran ulama-ulama yang dulu juga menjadi panutan ulama di negara kita mas”

Seketika kedua orang tersebut terdiam mendengar banyak penjelasanku. Ah, sepertinya membaca buku bisa membuat orang yang sebelumnya terlihat gagah menjadi lemah. Semoga di kemudian hari, banyak orang yang jarang bicara tapi banyak ilmu. Daripada orang yang sering bicara tapi tidak punya ilmu

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan” )


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU