Agama Sudah Tidak Penting

Dalam KBBI, Agama berarti ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan/ kepercayaan serta peribadatan kepada Tuhan semesta alam. Dalam perjalanannya, agama telah mengalami banyak dinamika mulai dari kepercayaan mutlak dari penganut hingga kini menjadi sekedar formalitas bagi sebagian pengikutnya. Tidak sedikit orang yang menganggap agama hanyalah bagian dari mata pelajaran umum yang wajib diikuti untuk bisa mendapatkan predikat kelulusan. Agama hanya sekedar data yang diperlukan untuk pengisian identitas diri pribadi. Banyak contoh yang bisa diambil, salah satunya para siswa dengan “terpaksa” menghafalkan bacaan dan tata cara salat jenasah untuk persiapan ujian praktik, namun ketika ujian sudah selesai begitu pula hafalan mereka, selesai tak berbekas. Dari sejumlah siswa di kelas bahkan di angkatan, hanya hitungan jari saja yang masih hafal bacaan dan tata caranya serta dipraktikkan dalam kehidupan ketika takziah dan melayat, selebihnya entah kemana, akan kah sirna dan terbuang layaknya kenangan bersama mantan? *eh.

Dalam era sekarang, terdapat golongan kiri. Golongan ini adalah mereka yang menganggap agama sebagai pelengkap saja seperti yang sudah saya utarakan di atas tadi. Mereka juga berpandangan bahwa agama adalah visi imajiner para kaum tradisionalis yang sudah tidak relevan dengan zaman yang serba maju, dimana semua menggunakan data dan analisa. Selain itu, surga neraka sudah tidak laku lagi karena pemahaman surga adalah apa-apa kenikmatan yang nampak di depan mata, sedangkan neraka adalah dimana Anda tidak memiliki uang dan tak bisa memiliki apa yang Anda inginkan. Hidup hanya satu kali, buat apa jika tidak digunakan untuk bersenang-senang? Toh besok jikalau nyawa sudah melayang, sudah keluar dari tubuh, yang ada hanya tinggal tanah di atas, kiri, kanan, dan bawah. Mereka seakan lupa bahwa Alquran adalah data paling lengkap yang memuat berbagai macam rahasia di alam semesta. Ada 3 bagian waktu yang diceritakan di dalamnya, masa lalu, masa kini (ketika turun), dan masa depan. Semua itu akan selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Kitab ini seolah “spoiler” dari Tuhan tentang rahasia kenapa Ia menciptakan makhluk, terutama manusia. Manusia diberi pilihan boleh percaya boleh tidak dengan isinya, namun jika apa yang telah di-spoiler-i oleh Tuhan sendiri mengenai kehidupan setelah kematian ini benar adanya, lantas hanya dianggap sebagai bualan belaka, bagaimana nasib nanti di alam sana? Jika Alquran dan agama (islam) dianggap bukan sebagai sebuah data, namun hanya sekedar dongeng saja, maka sesungguhnya justru orang seperti ini yang tidak menggunakan akal. Ia seolah sedang menggunakan rasionalitas, lalu mempertentangkan ke-absah-an dari Alquran, padahal Tuhan sendiri sudah menantang manusia seluruhnya bahkan dari kaum jin, untuk bisa menandingi kitab ini, untuk menjelajah alam ini sejauh mungkin. Tidak ada pertentangan, justru akal akan semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, mengetahui betapa Maha Besarnya Tuhan, dan betapa sempurnanya Dia.

Golongan kiri tidak akan lengkap tanpa adanya golongan kanan, menurut penulis golongan kanan ialah yang tampak luar biasa dalam pemahaman agama. Semua yang terucap dalam mulutnya adalah dalil-dalil yang -katanya- murni dari nabi dan para sahabatnya. Wow, luar biasa menyeluruh pemahamannya tentang agama, seolah semua masalah bisa diselesaikan tanpa masalah. Namun, lama kelamaan entah kenapa semakin terasa janggal. Agama yang katanya menyelesaikan masalah tanpa masalah, justru hal sebaliknya yang terjadi, yaitu mempermasalahkan apa yang seharusnya tidak menjadi masalah. Dalil-dalil dimasak, digoreng, di-godhog, dan dilainsebagainyakan oleh kaum kanan. Masakan yang disajikan sesuai dengan kasus yang sedang dihadapi, namun bukan dalam artian menyeluruh, yakni sesuai dengan kepentingan dan keuntungan pribadi. Dalil seakan menjadi dalih untuk melakukan sesuatu yang menurutnya benar secara mutlak. Jika ada orang yang memiliki dalil/ pendapat yang berbeda darinya, lantas sebutan kafir, murtad, dan lainnya keluar dari mulut yang biasa ia gunakan untuk membacakan ayat suci Alquran.

Aku awalnya kagum karena masih adanya manusia yang menganggap agama adalah sebuah hal penting, namun kenapa harus dicemari dengan kepentingan pribadi dan golongan yang lebih parahnya dinisbahkan kepada kepentingan agama, katanya. Ternyata agama tidak penting secara komprehensif, namun hanya sekedar bungkus menarik dan merek terkenal untuk bisa menjalankan aksi agar tidak dicerca oleh orang lain karena jika mencerca dia, berarti mencerca satu agama tertentu dan akan menimbulkan kemarahan umat, katanya lagi.

Golongan tengah adalah mereka yang benar-benar secara jujur dalam beragama. Ia beragama karena memang ingin menegakkannya dan mencapai tujuan dari agama tersebut, sebagai rahmat atau cinta bagi seluruh alam. Tak hanya manusia saja, tetapi untuk alam semesta. Mereka yang secara istikamah dan tekun nguri-uri agama ini, bersambung dari Nabi, dan selalu mengikuti Nabi dalam hal perilaku dan senantiasa menebar kebaikan. Mempelajari agama tak hanya sebagai sekedar data untuk melengkapi identitas, bukan juga yang menggaungkan masalah keagamaan dan menebar dalil namun dengan maksud untuk menutupi sebuah tujuan. Mereka yang beragama karena memang menjalankan perintah dari Tuhan karena menyadari bahwa manusia adalah hamba yang lemah dan tak punya daya apa-apa jika dibandingkan sang Pencipta. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi orang-orang ini agar senantiasa istikamah di jalan Allah dan selalu menebar kebaikan, menjadi penyejuk dalam kegersangan dan kepanasan sosial karena mereka yang selalu mempermasalahkan perbedaan.

Penulis hanya beropini mengenai pembagian ini, tidak ada dasar yang pasti, apalagi jikalau ditanya, siapa maupun apa saja kriteria yang masuk dalam golongan kanan-kiri maupun tengah. Kita semua tidak bisa menentukan yang jelas. Tulisan ini hanya untuk instrospeksi diri sendiri menilai diri sendiri, sampai di mana kah agama kita? Apakah kita masuk ke kanan, kiri, atau bahkan ada juga golongan atas, bawah, atau yang lainnya. Namun harapannya, semoga kita semua selalu ada di dalam golongan tengah yang memberi dan menebar kebaikan di mana pun kita berada, selalu mengingat Tuhan dengan segala nikmat, ujian, dan lain sebagainya. Bagaimana cara kita bisa menjalani hidup dan berterima kasih kepada Tuhan jika tidak dengan perantara agama? Benar sekali judul tulisan ini, namun perlu ditambah sedikit. Agama memang sudah tidak penting, namun bagi orang-orang yang tidak berpikir.


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!