Agama Sesak

Sudah berapa lama Anda belajar agama? Sejak memutuskan berhijrah? Bagaimana perasaan Anda setelah berhijrah? Bahagia atau Merana?

Agama sesak. Iya, sesak sekali. Sampai bernafas kadang butuh alat bantu Rumah Sakit. Bagi saya, mungkin berbeda pemaknaan dengan Anda. Saya yang memiliki kapasitas paru-paru di bawah standar dan Anda yang memiliki puluhan tabung gas dalam paru-paru. Semoga tulisan ini kembali menjadi perenungan. Seberapa besar kapasitas paru-paru Anda menampung oksigen.

Mungkin sudah lelah kalau menjelaskan tentang syariat agama. Toh, Anda akan ngeyel dengan ribuan argumentasi dari ustaz media sosial, eh maaf. Namun tolong sekali lagi direnungkan tentang argumentasi Anda. Pada intinya, saya hanya mau bilang kalau membenci itu dilarang agama. Saya kira hal itu akan disepakati semua manusia. Membenci yang bagaimana? Pada waktu SD, pelajaran PPkn tidak begitu detail menjelaskan. Intinya membenci itu ya perbuatan tercela. Membenci orang, membenci perilaku, membenci iman orang lain, atau bahkan membenci amaliyah orang lain. Jika Anda tidak mempunyai perasaan benci, maka agama sudah mengalir dalam diri Anda. Jadi silahkan renungkan, sudahkah tidak ada kebencian dalam diri Anda?

Baca Juga : NU Garis Bijak

Saat ini agama seolah terpisah menjadi dua hal yang bersebrangan. Agama yang tekstual dan agama kontekstual. Perbedaan ini yang sering memicu kebenciaan. Kan sekarang lebih memperjuangkan kemenangan daripada kebenaran. Nah, dua aliran ini mempunyai prinsip bermain offense yang lain deffense. Yang konstektual selalu membentengi prinsip mereka dari serangan berbagai arah. Dari sayap gagal, mencari peluang dari long pass pun gagal, serangan tengah melalui seorang playmaker juga kandas. Tekstual bingung.

Sekalinya kontekstual melakukan serangan balik. Seluruhnya menyoraki, membelokan fakta, memotong materi, membuat segalanya jadi guyonan bagi kaum tekstual. Sedangkan pengamat agama kontekstual hanya tersenyum di balik layar televisi dan handphone. “Oh, masih TK. Wajar kalau suka guyon”. Kaum tekstual geram, murka, tidak mau kalah jika dihina. Agama pun sudah terpinggirkan. Seoalah nafsu lebih berkuasa dari kebijaksaan hati.

Melihat mayarakat banyak mendukung aliran kontekstual. Mereka menyusun strategi. Membeli pelatih berkualitas, menyediakan peralatan berlatih tingkat internasional, membeli pemain media sosial dan televisi. Semua diatur oleh manajer yang terlanjur geram dengan sebuah kekalahan.

“Untuk menang, kita kontrak pemain inti mereka”. Berkat dana berlimpah, agama dijadikan ajang komersil untuk memenangkan sebuah paham. Calon orang berpendidikan dari kaum kontekstual dikontrak jangka panjang, kaum buruh disuguhkan dengan hidangan surga cepat saji. Kontekstual yang tahu pergerakan licik kaum tekstual masih saja cengar-cengir di balik layar. Sedangkan kaum berpendidikan dari kaum kontekstual marah-marah dan berperang di media sosial. Berusaha membentengi yang tersisa. Ketika tanya pada sesepuh kaum kontekstual, mereka bilang “Nanti mereka semua juga akan sadar”. Kaum pemuda dan sesepuh kontekstual tertawa terbahak di sebuah cakruk sambil ngopi dan baca kitab.
“Mereka tergiur dengan makna islam murni”
“Mereka tidak suka islam terpecah belah, sedangkan mereka sendiri memecah belah”
“Mereka belum paham agama, dan belajar agama kepada yang belum paham agama”
“Sehingga agama bukan lagi tentram dan nyenyak, tapi menjadi geram dan sesak”

Agama Sesak
Seperti celana kekecilan karena salah penjahit atau belum sempat dicoba saat membeli. Bisa juga seperti orang yang menderita sesak nafas (asma) karena turun temurun. Semoga semua dalam keadaan yang sehat-sehat saja. Amin.

Baca Juga : Pemuda Enggan Berhijrah

Kok agama sesak?
Sekali lagi, kalau Anda tidak merasa sesak, berarti Anda orang yang luar biasa sehat. Mempunyai cadangan tabung gas dalam paru-paru. Sesak itu maknaya sempit sekali. Seprerti yang dijelaskan di atas. Wacana islam murni dari kaum tekstual. Semua harus ada landasan. Kalau itu berkaitan dengan kebiasaan, kesenangan, dan hobi, landasan akan dilenturkan sedemikian rupa.

Mari kita analisa satu persatu ajaran kaum tekstual. Pertama, dilarangnya musik! Haram! Sehingga jamaah buru-buru menghapus mp3 dalam HP-nya, sumpek mendengar konser dekat rumah, marah melihat acara musik di TV. Eits, ternyata gambar juga dilarang!! termasuk di dalamnya, gambar bergerak. Misalkan ada, mukanya harus diblur.

Tapi kok mereka berdakwah di medsos masih menampakkan mukanya? Coba sesekali tanya sekali lagi kepada sang ustaz. Mungkin dia lupa.

Dilarang memainkan atau mendengarkan musik, dilarang nonton film (mungkin menjadi sesak bagi pecandu drakor), terus? Dilarang mendoakan orang lain (tawasul), dilarang membaca Alquran (Yasinan), dilarang mengucap tahlil (tahlilan), dilarang mencintai rasul (selawatan), dilarang puasa (puasa sunah rajab), dilarang mengucapkan hari ibu, hari kelahiran rasulullah, hari pendidikan, hari guru dan hari besar lainnya.

Masih belum merasa sesak?

Dilarang menggunakan segala sesuatu yang diciptakan bukan oleh umat muslim, termasuk di dalamnya handphone, televisi, media sosial, pakaian, sistem, dan paradigma.

Kok mereka (ustaz) masih menggunakan yang demikian? Coba diingatkan, mungkin dia sedang lupa.

Kenapa semua serba dilarang? Iya, seolah ketika berjalan, dipinggir jalan berjejer rambu larangan. Di persimpangan juga ada rambu dilarang belok. Lurus saja terus sampai mereka sadar ternyata jalan buntu.

“Lha bener kan le?! Mereka baru sadar”

Nah itu kesesakan dari segi larangan. Sekarang tengok yang anjuran mewajibkan. Mewajibkan memakai cadar, nikah muda ala-ala, share one day, one hadis, menggelapkan jidak kalau sudah siap, memanjangkan jenggot, dan kewajiban-kewajiban yang tidak wajib lainnya.

“Yowes le, sing penting ngopi”. Kemudian dilarang keluar dari pekerjaan karena menimbulkan maksiat, berpotensi riba, dan mengacu pada ketentuan syariah lainnya.

Kok paham semua ajaran mereka, mbah? Makanya belajar agama yang banyak. Semakin banyak ilmu maka kamu akan semakin toleran. Semakin banyak ilmu maka akan semakin dibenci. Intinya jangan balas membenci. Doakan semua semoga menjadi penghuni surga yang Tuhan janjikan kepada umat-Nya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!