Categories: biografiFolkor

Abu Mansur Al Maturidi: Teolog Islam Ahlussunah Wal Jamaah

Share

Abu Mansur Al Maturidi mempunyai nama lengkap Abu Mansur Muhamad bin Muhamad bin Mahmud al-Maturidi. Salah satu tokoh Teologi Islam madzab Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah. Beliau dilahirkan di Maturid (sehingga dia lebih populer dengan nama al-Maturidi, dinisbahkan dengan tempat kelahirannya). Sebuah kota kecil di daerah Samarkand, yang sekarang disebut Uzbekistan.

Menurut informasi dari Ayub Ali, kemudian dikutip oleh Harun Nasution. Abu Mansur Al Maturidi lahir pada tahun 248 H/862 M. Kemudian juga disepakati oleh banyak pihak bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 333 H/944 M.

Dengan demikian apabila informasi Ayub Ali tersebut dijadikan rujukan, maka masa hidup al-Maturidi hampir mendekati 100 tahun. Tepatnya 85 tahun menurut perhitungan tahun Hijriah atau 82 tahun menurut perhitungan tahun Masehi. Suatu masa hidup yang relatif panjang pada masa itu. Masa hidup al-Maturidi tersebut kebetulan berada pada masa penguasa Samarkand yang terkenal luhur budi, cinta ilmu, dan senantiasa memuliakan para ulama. Keluarga Abu Saman yang menguasai wilayah Khurasan dan Transoxania pada tahun 261 H/389 M. Keluarga penguasa yang berasal dari sebuah desa bernama Saman itu, salah satunya yang pernah ikut berkuasa adalah Asad bin Saman. Dengan demikian Abu Mansur Al Maturidi menjalani kehidupan pada masa khalifah al-Mutawakkil yang memerintah tahun 232-274 H/847-861 M.

Abu Mansur al-Maturidi hidup dalam satu masa dengan Abu Hasan al-Asy’ari. Keduanya memperjuangkan tujuan yang sama untuk melawan paham Mu’tazilah. Hanya saja jika Abu Hasan Al Asy’ari berhadapan dengan Mu’tazilah di pusatnya yakni di Bashrah, maka Abu Mansur Al Maturidi berhadapan dengan Mu’tazilah di cabangnya.

Para ulama’ pada umumnya meyakini bahwa perbedaan pendapat antara Asy’ariah dengan Maturidiah tidak banyak. Syaikh Muhammad Abduh, dalam komentarnya terhadap kitab Al-‘Aqa’id al-Adludiyyah, pernah mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara Asy’ariah dengan Maturidiah tidak lebih dari sepuluh masalah. Perbedaan itu pada umumnya lebih bersifat redaksional (tidak prinsipil).

Baca Juga: Abu Hasan Al Asy’ari, Guru Ahlussunnah Wal Jamaah

Secara geneologis (dilihat dari garis keturunan). Nasab beliau bermuara pada salah seorang sahabat yang pernah disinggahi oleh Rasulullah ketika awal hijrahnya di Madinah yakni Abu Ayub Khalid bin Zaid bin Kulaih al- Ansari. Oleh karena itu Imam Bayadi pernah menyebutkan nama lengkap beliau dengan sebutan Abu Mansur Muhammad bin Muhamad bin Mahmud al- Maturidi al-Anshari. Informasi dari al-Bayadi ini sangat diperlukan. Terutama dalam rangka menghindarkan terjadinya kerancuannya dengan Maturidi yang lain yakni Ismail Abu Mansur al-Maturidi. Pemberi syarah kitab Fiqh al-Absath karya Imam Abu Hanifah.

Sebagai pemburu berbagai disiplin keilmuan. Abu Mansur Al Maturidi mempunyai sejumlah guru, yang dilihat dari silsilah keilmuannya. Kemudian dinyatakan oleh Fathullah Khalif akan sampai kepada Imam Abu Hanifah. Di antara guru beliau, terutama dalam bidang fikih Hanafi dan Ilmu Kalam, adalah Nasyr bin Yahya al-Balkhi (w. 268 H). Sesuai dengan Fathullah Khalif di atas, Al Kafrawi menegaskan bahwa Maturidi memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada Abu Bakar Muhamad al-Jauzani. Yang silsilah sanad keilmuan al-Jauzani sampai kepada Muhammad Abu Hanifah.

Sementara itu Az Zubaidi mengatakan bahwa Abu Mansur Al Maturidi adalah murid dari Imam Abu Bakar Ahmad bin Ishaq bin Saleh Al Jauzajani. Termasuk guru-guru beliau juga adalah Muhamad bin Maqatil Ar Razi. Hanya saja guru yang disebutkan terakhir ini karir keilmuannya kurang begitu menonjol. Berbeda dengan popularitas para guru yang telah disebutkan sebelumnya di atas.

Berawal dari guru-guru Al Maturidi yang ternyata silsilah keilmuannya bermuara pada Imam Abu Hanifah. Maka wajar kalau kemudian al- Maturidi dikenal sebagai penganut madzhab Abu Hanifah dalam bidang fikih. Lebih dari itu dia tekun mempelajari sejumlah karya Abu Hanifah terutama yang berisi uraian tentang Ilmu Kalam. Misalnya: al-Fiqh al-Akbar, al-Fiqh al-Absath, yang garis besar isinya menyangkut hakikat iman, kewajiban mengenal Allah, qadla dan qadar serta tentang perbuatan manusia.

Lebih dari itu, dikarenakan begitu kuatnya pengaruh pemikiran Abu Hanifah terhadap diri Abu Mansur Al Maturidi. Selain mengakibatkan ia menjadi penganut madzhab Abu Hanifah dalam bidang fikih, ternyata al-Maturidi menjadi begitu berani mempergunakan akal dalam bidang Kalam. Sehingga meskipun dia dikenal sebagai penganut Ahl as-Sunah wa al- Jama’ah Khalafiah, namun dalam masalah akal dan wahyu beliau melampaui Asy’ariyah dalam penggunaan akal pikiran.

Sebagai seorang tokoh besar, baik dalam bidang kalam maupun jurist. Beliau sering dipanggil dengan nama tertentu, terutama dari kalangan para muridnya, antara lain: ‘allam al-huda (cendekiawan pembimbing kebenaran), imam al-huda (imam pembimbing kebenaran), imam al-mutakallimin (imam para teolog muslim).

Meskipun beliau juga dikenal sebagai seorang ahli fikih, namun ketokohannya di bidang kalam telah melampaunya. Karya beliau dalam bidang teologi Islam di antaranya adalah; Kitab Tauhid, Radd al-Imamah li al-Ba’d ar-Rawafiq, Ta’wil al-Qur’an, Ushul li Ushul ad-Din, Maqalat fi al-Ahkam Radd Awa’il al-Abdillah li al-Ka’bi, Radd al-Ushul al-Khamisah li Abu Muhamad al-Bahili, al-Jadal, dan kitab Radd ‘ala Qaramithah. Selain itu, ternyata ada pula karya yang diduga kuat juga ditulis oleh al-Maturidi yakni Risalah fi al-Aqa’id dan Syarh Fiqh al-Akbar.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU