Categories: biografiFolkor

Abu Hasan Al Bashri: Sang Pedagang Mutiara

Share

Abu Hasan Al Bashri mempunyai nama lengkap Abu Sa’id al-Hasan ibn Abil-Hasan Yasar al-Bashri lahir di Madinah tahun 30H dan meninggal tahun 110H. Menjadi ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Dalam kitab tabaqat karya Ibnu Sa’ad, Abu Hasan adalah seorang alim yang luas dan tinggi ilmunya, tepercaya, ahli ibadah, dan fasih bicaranya.

Bapak Hasan Al Bashri bernama Pirouz (kemudian dikenal sebagai Abul Hasan), menjadi budak pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Al-Khattab. Pirouz dan seorang perempuan dari kampungnya, diberikan kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah memberikan mereka berdua kepada saudara terdekat dan keduanya lantas menikah dengan tuan mereka dan dibebaskan.

Dia pernah menyusu dengan Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw. Pada usia 14 bulan, Al-Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Hasan merupakan seorang Tabi’in pada generasi pertama setelah sahabat Nabi. Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah Saw. Kemudian muncul menjadi Ulama terkemuka dalam sejarah peradaban Islam.

Sanad Abu Hasan Al Bashri

Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar. Hasan Al Bashri menjadi guru di Basrah dan mendirikan kemudian madrasah. Di antara muridnya yang terkenal adalah Amr ibn Ubaid dan Wasil ibn Atha. Dia merupakan seorang fuqaha yang berani berkata benar di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sangat tekun beribadah.

Hasan Al Bashri menerima hadis dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub Al Bajali, Muawiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadis dari beberapa sahabat antara lain ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka.

Kemudian hadis-hadisnya diriwayatkan oleh Humail At Thawil, Atha bin Abi Al Saib, Abu Al Asyhab, Jarir bin Abi Hazim, Sammak bin Harb, Yazid bin Abi Maryam, Hisyam bin Hasan dan lain sebagainya.

Tokoh Sufi/ Tasawuf

Bagi Hasan Al Bashri, kehidupan dunia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Beliau merupakan tokoh sufi dalam islam yang mengajarkan nilai-nilai kezuhudan.

Abu Hasa Al Bashri adalah ulama generasi salaf terkemuka yang hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah, yakni Hind binti Suhail atau yang lebih dikenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaknya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Sejarawan muslim mencatat bahwa beliau adalah Istri Rasulullah yang paling luas ilmunya.

Seiring dengan akrabnya hubungan antara Hasan Al Bashri dengan keluarga Nabi, pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat Nabi yang berada di masjid Nabawi.

Dalam waktu yang singkat beliau mampu meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik, Utsman bin Affan, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abu Musa Al-Asy’ari, dan sahabat-sahabat Rasulullah lainnya. Abu Hasan Al Bashri begitu mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang tinggi, serta kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu menggilainya.

Baca Juga : Abu Yazib Al Bustami

Perjalanan Hidup Abu Hasa Al Bashri

Pada usia 14 tahun, beliau pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq. Dari sinilah beliau mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah saat itu dikenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu.

Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak menghabiskan waktu di masjid, mengikuti kajian dari Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu hadis, tafsir, dan qiro’at. Sedangkan ilmu fikih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang lain. Ketekunannya dalam menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat alim dalam berbagai ilmu.

Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati dan membuat para pendengarnya bersedih dan menangis. Nama Abu Hasan Al-Basri makin terkenal dan menyebar ke seluruh negeri. Akhirnya sampai juga ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi berkuasa sebagai gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat melampaui batas. Tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengkritik atau menentangnya. Abu Hasan Al-Basri pada akhirnya berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj, beliau beranimenyampaikan kritikannya yang cukup tajam.

Pada malam Jumat, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Penduduk Basrah berduka, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Abu Hasan Al-Bashri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan salat Asar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Hasan Sang Pedagang Mutiara

Pada awalnya Hasan dari Basrah adalah seorang penjual mutiara, sebab itu dia dijuluki sebagai Hasan si pedagang mutiara. Beliau menjual barangnya sampai ke Bizantium.

Ketika sedang berada di Bizantium, Beliau bertemu dengan Perdana Menteri untuk berbincang-bincang. Setelah sekian lama, Perdana Menteri mengajak Hasan ke suatu tempat, dia berkata, “Jika engkau suka, kita akan pergi ke suatu tempat.” Hasan menjawab, “Terserah engkau, ke mana pun aku ikut.”

Menteri kemudian menyuruh bawahannya untuk menyiapkan kuda, satu untuk dirinya dan satu untuk Hasan. Setelah keduanya menaiki kuda, mereka berangkat menuju ke padang pasir. Setelah sampai, beliau melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium. Tenda itu diikat dengan tali sutra dan pancang-pancangnya yang menancap ke tanah terbuat dari emas. Hasan memerhatikan tenda itu dari kejauhan.

Tidak lama kemudian, datang sekelompok pasukan dengan persenjataan yang lengkap. Mereka lalu mengelilingi tenda tersebut, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi. Kemudian setelahnya datang para ahli filsafat dan cerdik pandai yang jumlahnya hampir mencapai 400 orang. Mereka melakukan hal yang sama dengan para prajurit sebelumnya, mengucapkan beberapa patah kata, dan lalu pergi. Hasan merasa sangat keheranan melihat kejadian-kejadian itu, dia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa maksud dari semua ini?”

Hasan lalu bertanya kepada Perdana Menteri. Menteri kemudian bercerita, bahwa dulu Kaisar memiliki seorang putra tampan yang menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tidak seorang pun yang dapat menandinginya. Kaisar sangat sayang kepada putranya itu. Namun tanpa diduga-diduga, putranya jatuh sakit. Semua tabib, semahir apapun tidak dapat dapat menyembuhkannya. Di bawah tenda itu lah tempat sang putra terbaring sakit, dan di tempat itu pula dia akhirnya dimakamkan. Kini, setiap tahun orang-orang datang untuk menziarahi makamnya.

Kemudian sekelompok pasukan yang tadi pergi datang kembali, mereka berkata, “Wahai putra mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan mengorbankan jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu. Tetapi malapetaka yang menimpamu ini datang dari Dia yang tidak sanggup kami perangi dan tidak dapat kami tentang.” Setelah berkata demikian, mereka pun pergi kembali.

Setelahnya, tibalah giliran para ahli filsafat dan cerdik pandai, mereka berkata, “Malapetaka yang menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat kami lawan dengan ilmu pengetahuan, filsafat, dan tipu muslihat. Karena semua falsafah di atas muka bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai hanya seperti orang-orang dungu di hadapan-Nya. Jika tidak demikian halnya, kami akan berusaha dengan mengajukan dalil-dalil yang tidak dapat dibantah oleh siapapun di alam semesta ini.” Setelahnya, sama seperti sebelumnya dengan para prajurit, mereka pun pergi kembali. Peziarah yang datang selanjutnya adalah orang-orang tua yang mulia dan perempuan-perempuan cantik yang berhiaskan emas dan permata.

Diambil dari berbagai referensi


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU