Categories: opiniSimponi

2019 Tahun Seni

Share

Hiruk pikuk dunia politik agaknya membuat pusing para “seniman”. Satunya bertekad melanjutkan, lainnya menuntut perubahan. Saya urungkun budaya resolusi di tahun 2019 (Tahun Seni). Asal manusia tetap menjadi bijaksana dan tetap waras berkesenian. Kubu yang kalah tidak ngamuk, sedangkan yang menang tidak umuk (sombong). Andaikan simbah Gus Dur masih ada, pasti setiap hari disirami pesan, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”.

Berkesenian sepertinya menjadi langkah ideal menghadapi problematika atau kekacauan pola pikir generasi milenial. Mengekspresikan segala kegelesihan dalam sebuah kanvas. Menulis, menggambar, dan melukis indahnya dunia. Meleburkan diri dalam digdaya sang maha agung. Tiada cukup lautan dijadikan tinta untuk menuliskan ayat Allah, dan teramat sempit meski seluruh dedauanan di dunia ditata menjadi kertas untuk menuliskannya.

Refleksi untuk memahami diri. Menaklukan nafsu dan segala bentuk ambisi. Merenung dalam kesunyian untuk menciptakan ide berkesenian. Karena tahun 2019 adalah tahun seni. Menjadi air tatkala hati kebakaran, menjadi oase di tengah gurun jiwa, menjadi bulan di tengah gelap nurani, menjadi senja saat seharian lelah bermusuhan. Seni adalah kehidupan yang abadi. Mengabdi kepada sang illahi. Jika agama sudah dipertaruhkan dalam percaturan politik, sepertinya memang seni harus eksis untuk mengekspresikan bentuk keindahan dalam beragama.

Biarkan ayat Allah kembali suci, menghiasai insan pendosa seperti kami. Jika tidak bisa berkaligrafi, jangan ada laku untuk sekedar niat mengotori. Meskipun Tuhan tidak akan pernah marah dengan segala perilaku cacat kita, setidaknya jangan membuat najis sehingga tidak ada kelayakan untuk kita disebut manusia. Kalau beragama dirasa terlalu berat, minimal ada kelas berkemanusian yang mengajarkan saling asah, salih asih, dan saling asuh. Gotong royong seperti kebanyakan tembang atau petuah para leluruh kita.

Tidak ada musuh dalam agama. Tidak ada lawan, semua adalah kawan. Pihak yang dengan sengaja memecah belah adalah mereka yang belum siap untuk berkesenian. Sepertinya butuh kurikulum khusus untuk mengingatkan, menegur, dan menghukum segala bentuk pertentangan. Sepakat islam adalah agama damai, bukan agama “ramai”.

Jika masih bersikeras untuk memeriahkan pertikaian pemilu. Bijaklah dan lebih bermartabat dalam mengambil keputusan. Jika susah menerima, teguhkan hati bahwa presiden kita adalah Allah, menterinya para malaikat, sedangkan para nabi menjadi caleg di masing-masing daerah. Setidaknya begitu runtutan cerita yang memang sudah digariskan oleh Allah.

Jangan saling menuduh yang lain Dajjal, karena dia selalu bersemanyam dalam setiap diri manusia. Dajjal sering berubah peran, mengombang-ambingkan kejatidirian manusia. “Rendahkanlah dirimu serendah-rendahnya, sampai tidak ada satu orang pun yang bisa merendahkanmu”. Menghilangkan perasan sok suci. Sehingga kita tidak pernah berhenti beristighfar dan berzikir,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Kemudian disusul,

لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Seni adalah proses mengagumi ciptaan Allah dan mengakui keterbatasan menjadi hamba. Sehingga karya yang dihasilkan hanyalah wujud kecintaan kepada Allah. Mengagumi suara burung dengan menciptakan seruling, mengagumi suara detak langkah kaki hewan dan menciptakan perkusi, dan mendengar segala bentuk suara alam yang kemudian menciptakan piano. Mengagumi pemandangan dengan ekspresi melukis, mengagumi sebuah adegan cerita dengan mengkaryakan sebuah pertunjukan teater atau film, memuji setiap kejadian berasal dari Allah. Melihat bahwa semua yang terlihat adalah keindahan. Tidak ada cacat, musuh, lawan, dan kekurangan. Semua begitu cantik dan saling melengkapi seperti puzzel yang mesti kita susun secara hati-hati dan penuh suka cita.

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah Swt maha indah dan menyukai keindahan

Belajarlah menjadi indah. Memapankan hati menjadi lebih ikhlas, istikamah, tulus, dan penuh kasih. Setiap diri manusia mempunyai jiwa berkesenian, tinggal bagaimana kita mengolah hasil ide cipta kita menjadi lebih bermanfaat bagi sesama, khususnya bagi sendiri agar tidak terkekang sifat iri, dengki, sombong, dan lain sebagainya.

2019, tahun seni! Mari berkesenian, mumpung masih diberi kesempatan oleh sang Maha Seni…..


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU