17 Agustus, Kebangkitan Ruh Nasionalisme Pemuda Nusantara

Banyak jalan menuju Roma, ada jalan membangkitkan semangat 45.

Cinta tanah air adalah hak bagi segenap anak bangsa, mencintai dan berdedikasi untuk negeri yang dicintainya adalah jalan para patriot untuk menjaga dan membesarkan tanah airnya, ialah Nusantara kita. Agar selalu tetap berdaulat dalam kedamaian serta dalam rasa kenyamanan, di antara banyaknya suku dan adat budaya di Indonesia.

Jika dulu para pemuda, orang tua hingga para ulama berjuang melawan para penjajah bangsa, baik melawan Jepang, Belanda dan siapapun yang ingin menghacurkan kedaulatan rakyat Nusantara, meski anak bangsa sendiri yang berkhianat sekalipun tak diberi ampun. Semua dilawan dengan darah dan air mata kesyahidan, dengan penuh rasa cinta kepada tanah air dan demi masa depan anak bangsa.

Zaman itu sudah berlalu hampir satu abad lamanya, bahkan ratusan tahun sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia dapat diraih, sejak Belanda menduduki tanah Nusantara dan berkuasa selama tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Baru kemudian kemenangan itu diraih ketika tepat pada tanggal 17 Ramadhan H/17 Agustus 1945 M.

“Apakah dengan itu semua anak bangsa sudah bisa bergembira ria tanpa ada perusak di sisi Nusantara baik dari dalam maupun dari luar, dari kiri, kanan, atas dan bawah?”

“BELUM.”

Semua itu akan terus ada, sebagai ujian untuk negeri yang kita cintai ini. Karena disitulah kita mengetahui bahwa bangsa ini adalah bangsa yang benar-benar kokoh, tidak dapat digoyang bahkan dihancurkan baik dari dalam maupun luar, dari kiri maupun kanan, dari atas maupun bawah dan dari manapun penghancur itu ingin meluluhlantahkan Nusantara tercinta ini. Akan tetapi semua itu tergantung bagaimana dengan sikap para pemuda bangsanya sendiri.

Baca Juga: Hubbul Wathan Halal dan Hubbul Wathan Haram

Milenial adalah sebutan bagi para pemuda masa kini di tahun 2019. Semua serba praktis dan serba digital bahkan mungkin serbaguna nantinya. Kita inilah yang akan menjadi penentu majunya sebuah bangsa yang kita cintai, atau hancurnya bangsa ini.

“Kemanakah kita akan membawa masa depan bangsa kita nantinya?”

Dialah kita sendiri, kita adalah pemuda harapan bangsa. Segala harapan dan cita-cita para pendahulu yang diperjuangkan dengan darah dan air mata telah berada dipundak kita, saat ini dan detik ini juga.

Baik, sejenak kita tinggalkan masa lampau itu, namun jangan pernah dilupakan dalam ingatan juga didalam dada. Ada dimana hari-hari besar Bangsa selalu dirayakan dan diperingati, sebagai cara untuk membangkitkan semangat nasionalisme kebangsaan didalam dada-dada anak negeri.

Iya, 17 Agustus. Ditanggal itulah dimana diantara hari besar negeri yang bernama Indonesia, selalu diperingati dan dirayakan dengan euforia yang begitu tinggi, terutama para pemuda bangsa. Bahkan tak pernah lekang oleh waktu para anak-anak kecil yang begitu bersemangatnya dalam merayakan dan memperingati hari besar bangsa Indonesia.

Di hari itu pulalah, dimana seluruh pelosok di penjuru negeri ini mengumandangkan lagu Nasionalis kabanggaan dan kecintaan yang dapat membangkitkan ruh semangat nasionalisme para pemudanya. Dan hanya merekalah yang benar-benar cinta kepada tanah airnya yang dapat merasakan kebangkitan ruh Nasionalisme itu didalam jiwanya.

Tapi, bukan sampai di situ saja. Sudah sepatutnya sebagai pemuda penerus bangsa tidak hanya bangkit ketika acara perayaan seperti 17 Agustus ini. Namun selalu bangkit dan tetap bersemangat membangun negeri merah putih setiap saat, setiap waktu. Jangan pernah kasih kendor bagi semangat yang ada di dalam diri, terus pompa semangat nasionalisme di dalam jiwa dengan pompa yang baik dan tepat.

Banyak cara bagi pemuda bangsa untuk dapat terus mendedikasikan dirinya terhadap negeri yang dicintainya, melalui berbagai karya, kreativitas seni, terutama yang sedang maju pesat lagi sangat digemari di tahun 2019 ini, adalah seni digital kreatif. Baik itu berupa tulisan, musik, lukis, audio-visual (video) dan lain sebagainya.

Jangan pernah mau kalah, dan jangan mau ketinggalan dengan pemuda-pemuda bangsa lain. Selain dari sisi keilmuan yang mumpuni kita juga sangat perlu dan sangat bisa mengedukasikannya, menerapkannya dengan berupa seni/ kreatifitas yang bisa dinikmati serta dipelajari, atau bahkan menginspirasi banyak orang, terutama di negeri sendiri. Apalagi bisa sampai menginspirasi bangsa lain!?

Dari itu sudah sangat layak, jika para pemuda Nusantara terus berada pada mode on fire dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur bangsa ini dengan segala kearifannya. Serta tetap pula membangun nilai-nilai estetika dalam berkreativitas terlebih didalam berbangsa dan bernegara tentunya. Agar segala hal yang radikalis dan ekstrimis tak dapat lagi berkembang, dan pupus sudahlah mereka.

Kita para pemuda Nusantara memang sudah seharusnya pula mempelajari dan memiliki nilai-nilai moderat (pertengahan) dalam setiap pergerakan, toleransi dalam setiap hubungan, serta harus bisa menyadari bahwa bangsa Indonesia tidak terlahir dengan satu Agama, tidak hanya tercipta oleh satu suku, tidak berjuang dengan hanya satu bahasa, adat istiadat, tidak satu warna kulit, tidak yang berambut lurus saja, tidak hanya diri kita sendiri saja. Akan tetapi Indonesia terlahir dan tercipta oleh seluruh suku dan bahasa yang menjadi satu padu dalam negeri yang bernama Indonesia.

Tetap berkarya, berkreasi dan berdedikasi untuk negeri. Agar siapapun yang ingin menghacurkan kedaulatan rakyat Nusantara, menghapuskan ideologi bangsa Indonesia yang telah tertuang menjadi butir-butir PANCASILA, tidak mampu melebarkan sayap-sayapnya, kemudian mereka hanya menjadi sayap-sayap yang patah.


Kholili Ibrohim – Seniman NU Regional Banten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!