Categories: opiniSimponi

Yakin Saja Dulu, Soal Salah Tinggal Menyesal

Share

Menghadapi keruwetan wacana-wacana ngawur masyarakat, hendaknya kita semakin mawas diri. Apalagi era digital yang memungkinkan otak manusia (yang tak lebih dari 1,5 Kg) itu menerima ribuan informasi. Semakin banyak tahu, kemudian mendeklarasikan diri menjadi manusia sok tahu. Kelompok yang yakin akan kepantasan pengetahuan ini lantas seenak jidat merendahkan derajat, harkat, martabat manusia atau kelompok lainnya. Lha padahal keyakinanmu belum tentu menjadi kenyataan!

Soal keyakinan. Sebelum membahas sesautu yang sangat amat sensitif, yakni Agama, kita coba menganalogikan kepada sesuatu yang lebih sederhana. Misalkan ada dua sejoli memadu kasih (pacaran), maka mereka akan meyakini bahwa di antara keduanya adalah jodoh. Tapi apakah keyakinan mereka sudah pasti menjadi kenyataan?! Dan nyatanya masih banyak sobat ambyar karena ditinggal nikah sama pasangannya yang dulu diyakini jodohnya itu.

Keyakinan itu memang belum ada metodologi sains-nya. Bahkan kajian seputar filsafat juga mentok di keyakinan. Psikologi manusia yang berbeda satu sama lain membuat keyakinan tidak mungkin dipaksakan sama. Kadang perbedaan dalam berkeyakinan itulah yang membuat hidup penuh warna dan begitu menggembirakan.

Bicara tentang agama sebagai institusi, tentu manusia diberikan hak untuk meyakini agama tertentu. Meski kadang tanpa disertai dengan kepercayaan. Kadang istilah yakin dan percaya masih menjadi perdebatan alot di kalangan akademisi – apalagi disangkutkan soal agama. Penganut agama boleh meyakini agamanya itu benar, semua orang punya hak untuk itu. Cuma meyakini kebenaran agamanya tidak lantas merendahkan agama lainnya. Toh, mereka juga punya landasan keyakinan masing-masing dalam menentukan pilihannya.

Baca Juga: Arogansi Berkeyakinan

Yakin saja dulu, urusan salah tinggal menyesal. Ini yang sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang sesegera mungkin untuk meyakini sesuatu, kemudian menyebarkan berita hoax. Setelah ketahuan informasi yang diterimanya adalah hoax, maka dengan tanpa kerendahan hati hanya merasa menyesal. Seolah keyakinan waktu lalu hanyalah sebuah kecelakaan atau takdir yang memaksanya melakukan kesalahan.

Dalam konteks agama pun seharusnya demikian. Sebagai penganut agama, seharusnya tidak terlalu berlebihan menyalahkan agama lain. Toh, kita juga tidak tahu siapa yang benar suatu saat (pilihan surga dan neraka). Kita hanya perlu meyakini dan berdoa, mengharap rida Tuhan masing-masing. Semoga agama yang kita yakini benar, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Lebih menyesal lagi, kalau nanti di akhirat ternyata kita yang salah, padahal selama di dunia kita kerap menyalahkan orang lain yang ternyata benar.

Menyesal memang datangnya belakangan. Seharusnya menjadi isyarat untuk selalu berhati-hati memilih jalan atau menentukan keputusan. Jangan jadikan penyesalan sebagai angin lalu. Penyesalan adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang tujuannya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kalau sudah sadar bahwa kesalahan akan selalu menyelimuti manusia, lantas apa dasar untuk selalu menyalahkan yang lain? Sudah merasa yakin paling benar? Sudah merasa menjadi Tuhan?

Agama semula memang hanya sebatas doktrin yang kemudian diyakini masing-masing penganutnya. Tujuan agama sendiri agar penganutnya bisa berlaku baik berdasarkan kitab atau ajaran yang dijadikan patokan. Puncaknya adalah terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan alam.

Batasan tentang keyakinan setiap manusia ini yang mestinya diperhatikan. Kalau kita tidak terima ada orang lain mengacak-acak halaman rumah kita, seharusnya juga tidak etis kalau kita berusaha mengacak-acak halaman rumah orang lain. Jangan menjadi orang yang maunya hanya memukul tapi tidak mau dipukul.

Setiap manusia punya keyakinan. Dan tingkat keyakinan satu sama lain pasti berbeda. Ada yang menghibahkan segala harta benda untuk agama, ada pula yang hanya memasukkan koin 500 perak ke kotak amal waktu salat Jumat. Ada yang tidak pernah bermaksiat karena meyakini Tuhan selalu mengawasinya, ada yang hobi bermaksiat karena beranggapan semua dosa bisa diampuni Tuhan. Semua mempunyai persepsi dan anggapan.

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah : 105)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU