Categories: opiniSimponi

Antara Wanita Katolik, Masjid dan Anjing Ciptaan Tuhan

Share

Sudah diperkirakan sebelumnya jika ada persoalan yang bisa diselesaikan tingkat RT maka akan diperbesar sampai tingkat malaikat Malik. Tentu yang memaksakan adalah sebagain kelompok Islam Kecil Baru (IKB). Sedikit gambaran buat yang beneran tidak tahu atau pura-pura sawan kalau dikasih tahu.

Supaya lebih mudah dipahami penulis akan mengklasifikasikan kelompok Islam Indonesia dalam 3 kategori. Pertama kelompok Islam Besar Lama (IBM) di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (MD) dengan jumlah anggota menurut IndoBarometer menyebutkan sekitar 75 persen mengaku warga nahdliyin. Artinya jumlah warga NU sekitar 143 juta tahun 2000. Survei yang dilakuka oleh LSI menunjukkan warga yang teridentifikasi Nahdlatul Ulama (NU) 36,5%, sedangkan Muhammadiyah hanya 5,4%. Kedua kelompok yang terlahir sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia ini tepatnya tahun 1926 dan 1912 yang eksistensinya dapat dirasakan masyarakat luas sampai saat ini.

Berikutnya yang kedua kelompok Islam Menengah Lama (IML) yiatu Al Irsyad, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Al Khoiriyah, Persyarikatan Ulama Indonesia (PUI), Al Hidayatul Islamiyah, Persatuan Islam (Persis), Partai Islam Indonesia (PII), Partai Arab Indonesia (PAI), Jong Islamiaten Bond, Al Ittihadiyatul Islamiyah dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang lahir juga sebelum proklamasi kemerdekaan. Namun dengan jumlah anggota jauh lebih sedikit dari dua kelompok yang disebut sebelumnya.

Ketiga kelompok Islam Kecil Baru (IKB) yang terlahir setelah Orde Lama tumbang atau setelah era Reformasi. Mereka inilah kelompok Islam yang “very-very small” seperti tong kosong nyaring bunyinya. Namun di era digital seperti saat sekarang ini menjadi angin segar bagi mereka mempropagandakan kepentingnya dengan memanfaatkan kebebasan berpendapat dari sistem demokrasi yang selama ini mereka cela dengan mengatakan sistem kafir, thogut, buatan setan, minimal diragukan “kehalalnya” untuk bisa masuk surga bertemu 72 bidadari. “Yoh opo iyo sih?!“.

Baca Juga: Gusdurian Klaten, Mengulik Makna Toleransi

Plin-plan sudah menjadi standar berfikir mereka kadang ditambahi dengan ilmu “ngeyel” alias susah diberikan informasi kebenaran. Kalau istilah kerennya tidak “open minded“. Seperti kejadian viral belakang ini yang menimbulkan rekasi pro maupun kontra di tengah masyarakat. Bermula saat seorang wanita yang mengaku katolik masuk ke dalam masjid membawa seekor anjing, mencari suaminya yang diduga akan menikah di masjid tersebut.

Kasus tersebut telah ditangani oleh pihak berwajib akan tetapi kasus tersebut tidak selesai sampai situ saja tentunya, malahan menjadi bahan untuk lagi-lagi mengangkat popularitas sebagian dari yang dilabeli ustaz-ustaz dengan mengipasi kejadian tersebut seolah kejadian antara Katolik dan Islam. Lihatlah bagaimana mereka mencari panggung akan kejadian tersebut di berbagai media terutama media mainstream. Padahal kalau mau diselesaikan secara bijaksana persoalan tersebut dapat diselesaikan oleh setingkat RT atau tukang pentol keliling. Apa lagi wanita tersebut sudah dipastikan mengalami gangguan jiwa jenis skizofrenia oleh tim dokter Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Meskipun proses hukum tetap berjalan hal tersebut tidak membuat mereka puas dalam mempropagandakan permusuhan antar umat beragama terutama di media sosial.  Mereka yang selama ini merasa paling Islami, paling nyunah, paling terluka saat simbol-simbol agama dilecehkan. Tetapi melihat ciptaan Tuhan -sebut saja wanita tersebut- yang berbeda dengan mereka dan berbuat kekeliruan tidak lebih parah dari yang dilakukan orang badui dalam suatu riwayat. Mengencingi masjid akan tetapi dibiarkan oleh Rasulullah sampai hajatnya beres. Memang melihat muslim sekarang sangat jauh prilakunya dari bijaksana terutama jika berbicara dakwah bil hikmah.

Saat diingatkan tentang tauladan sikap mulia Rasulullah mereka pura-pura Budek bahkan menutup mata mengingkari sejarah tentang betapa mulianya sikap beliau. Anehnya mereka menyebut ahli sunah yang mengikuti jalan Nabi Muhammad. Tetapi ternyata yang diikuti hanya sesuai dengan nafsu piciknya. Sungguh melihat fenomena kelompok IKB ini penulis merasa “dawuh” Rasulullah tentang umatnya di akhir zaman seperti buih di lautan. Bertanformasi menjadi ujaran kebencian di media sosial seperti sekarang, banyak tetapi tidak bernilai pancaran cahaya rahmat ilahiah.

Wallahu a’lam.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU