Categories: opiniSimponi

Virus Ideologi Islam

Share

Empat hari yang lalu, di suatu sore yang temaram. Saya berdiskusi hangat dengan kawan baik saya, Kukuh Susanto dan Bayu Sugiarto. Menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Karena terlalu banyaknya bahasan, jadi saya hanya akan mencatat salah satu di antaranya. Tentang sebuah ideologi Islam!

Begitulah kalau diskusi dengan teman-teman cerdas seperti beliau berdua. Otak harus bisa diasah sedemikian mulus untuk bisa mengikuti arah pembicaraan. Wawasan yang luas akan mengalirkan diskusi sampai terhapusnya senja di balik ujung Merapi.

Bagaimana faham radikalisme/ ekstrimisme/ intoleran sekarang ini bisa begitu masif menyebar di banyak daerah? Ideologi! Pun begitu ketika Walisongo dakwah secara santun dan toleran di nusantara. Maksudnya ideologi? Agama adalah sesuatu yang delusif. Orang awam disuguhkan tentang sebuah angan. Surga-neraka, bidadari, siksa kubur, dan sebagainya. Ketika mereka mengatakan tahlilan, yasinan, selawatan, kenduri, sesuatu yang sesat (baca: bidah). Maka mereka akan dengan segera meninggalkannya karena tawaran sebuah ideologi: Takut masuk neraka!

Faham ini sangat mudah menyebar seperti MLM kelas kakap. Ditunjang dengan ustaz berpakaian rapi nan islami ditambah wewangian harum kasturi kw. Menyampaikan beberapa dalil dengan bacaan yang fasih. Seolah kebenaran menjadi mutlak ketika disampaikan oleh ustaz tersebut. Tidak ada benteng atas geriliya yang mereka lakukan. Para faham dalil sibuk ngaji di pondok pesantren dan perang di media sosial. Sedangkan bapak dan ibu kita dijajah oleh faham intoleran melalui masjid, langgar dan musola-musola kampung.

Strategi bukan hanya melalui kajian terselubung di kampung-kampung. Anak-anak mereka juga dicekoki materi faham intoleran di lembaga pendidikan. Mulai dari SMP hingga jenjang kuliah. Kaderisasi, katanya. Organisasi atau komunitas yang menawarkan surga instan bagi kalangan pemuda hijrah. Saat pulang kampung, mereka mendebat amaliyah orang tua seperti biasanya, dengan beberapa dalil yang mereka dapatkan dari broadcast dan literatur web ‘anu’.

Ah, Indonesiaku yang dulu dipuja-puja bangsa lain karena kesantunannya, kini tercemar dengan berbagai isu radikalisme dan terorisme. Di mulai dari ideologi anti-NU yang merusak pikiran masyarakat. Virusnya cukup berbahaya jika tidak dicegah dari kesadaran diri untuk merubah pola pikir menjadi sehat.

Semoga di wadah Seniman NU ini, kita bisa bergandengan tangan untuk menawarkan ideologi yang baru dan segar. Karena nama besar NU kurang begitu efektif meyakinkan kalangan masyarakat buta ngaji kitab untuk melawan arus faham yang suka menuduh neraka umat lain. Jika mereka menakuti seseorang karena melakukan sesuatu yang bidah dengan suguhan neraka. Maka saya ingin meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah hamba yang selalu merasa tak pantas masuk surga. Karena tujuan kita adalah Allah. Bukan surga, takut neraka, bidadari, dan air susu yang mengalir di bawah rindangnya pohon-pohon nan hijau.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments