Categories: kolase

Utang Mbak Dar

Share

Darsi Kumalasar. Nama panggilannya mbak Dar, usianya masih muda sekitar 30an tahun. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang punya tiga anak. Suaminya, pak Parman adalah seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati, mempunyai akhlak yang baik, suka menasihati orang lain, dan sering ceramah agama di masjid.

Pekerjaan suaminya sehari-hari adalah sebagai petani. Sawahnya sangat luas berhektar-hektar. Banyak orang yang bekerja di sawah mereka. Tidak hanya orang-orang sedaerah saja, bahkan ada juga beberapa dari tetangga desa. Suguhan makanan yang diberikan mbak Dar untuk para kulinya di sawah sangat baik, melebihi suguhan dari petani lain. Hampir setiap kiriman makanan mbak Dar menyuguhkan daging, tidak jarang juga ikan laut.

Setiap tahunnya sawah pak Parman dapat ditanami tiga kali atau mengalami tiga kali panen. Musim pertama (musim rendheng) dan musim kedua sawahnya ditanami padi, sedangkan musim ketiga (musim panas) sawahnya ditanami kacang hijau, kedelai dan semangka. Hasil panen sawah yang dimiliki pak Parman sangat melimpah.

Seiring dengan banyaknya hasil pertanian pak Parman, keluarganya menjadi perbincangan masyarakat di kampung. Hal tersebut karena pak Parman tidak memberikan uang hasil panen ke mbak Dar sama sekali. Pak Parman beralasan hasil panennya untuk membiayai ketiga anaknya. Bahkan untuk membangun rumah pun pak Parman tidak mengeluarkan uang.

Untuk biaya membangun rumah, biaya pengelolaan sawah, dan kebutuhan sehari-hari mbak Dar hutang ke berbagai tempat dan orang. Mbak Dar hutang ke bu Darsam 10 juta, koperasi 300 juta, dan pak Darmo 17 juta. Untuk mendapatkan hutang sebanyak itu mbak Dar menjanjikan hasil panen sawah. Perbuatan hutang kemana-mana tidak diketahui oleh suaminya. Intinya apapun yang dibutuhkan pak Parman harus bisa dituruti oleh mbak Dar.

Perbuatan yang dilakukan mbak Dar sudah lama bertahun-tahun. Banyak masyarakat di kampung yang membicarakan mbak Dar. Apapun yang terjadi di kampung tempat tinggal mbak Dar, masyarakat banyak yang mengetahui lantaran kampungnya terdiri dari 70 keluarga, termasuk kampung kecil. Namun masyarakat di kampung kecil ini sangat makmur dan sejahtera.

Minggu pagi bu Durno dan bu Sukmi jalan-jalan keliling kampung dan melihat pemandangan sawah. Mereka jalan-jalan sambil bawa cemilan dan ngobrol ngalor-ngidul berbagai hal. Ketika melewati Sawah milik pak Parman mereka teringat perbuatan mbak Dar yang suka ngutang dan akhirnya membicarakan mbak Dar. Mereka ngobrol sambil istirahat di gubug yang biasanya digunakan untuk istirahat para kuli di sawah.

Baca Juga : Hamparan Ladang Kebaikan di Sekitar yang Tak Boleh Dilewatkan

Bu Durno memulai pembicaraan “lha iyo to bu Mi, pak Parman sawah e sak mono akeh e mosok ra ngerti kelakuan e bojone”.

“iyo bu, pak Parman ki yo kebangeten.  Sawah e akeh, hasil e pirang-pirang ton nanging bojone gak dinafkahi blas” tambah bu Sukmi.

Jangan-jangan kelakuan e mbak Dar tarah wes direncanakene bu?” bu Darno curiga.

Loh, direncanakne piye to bu?” bu Sukmi penasaran.

Mosok to bu, utang akeh, ra umum, pak Parman gak ngerti. Yo opo mungkin? Paling pak Parman pura-puragak ngerti”

Bu Beni dan bu Karni juga jalan-jalan ketemu bu Durno dan bu Sukmi, akhirnya mereka menghampiri dan ikut berbincang bersama. Bu Beni “monggo bu”.

Bu Durno dan bu Sukmi “nggih bu…., mampir bu nyantai teng mriki”.

Nggih, wonten nopo to bu” bu Karni.

Niku lo bu, mbak Dar utang e kok soyo tambah. Wes setaun utang neng pak Darmo telat gung di saur, utang neng koperasi nunggak pirang-pirang jalan” bu Sukmi.

“iyo lo bu, wingi wong-wong sing ngutangi mbak Dar podho moro neng omah nglabrak. Pak  Parman kaget ra karu-karuan nek bojone due utang” bu Beni. “mosok to bu” bu Darno penasaran.

“iyo bu, malah pak Parman sak iki ngedol i sawah kanggo nutup utang. Sawah kidul kui yo wes di dol. Sak iki sawah keri sawah sewan. Kui wae durung iso ngelunasi utang” tambah bu Beni.

Bu Karni, “pak Parman ki wes ra karu-karuan sak iki, bangkrut. Duit karep e ditekem dewe ben cepet sugih malah bojone ngono kui. Ketok e omongan e alus, due toto kromo, seneng nuturi wong liyo nanging ngatur bojone dewe gak iso. Saben panen gak gelem zakat, sedekah ora pernah, karo wong yatim gak gelem nyantuni”. “paling kui yo azab bu” kata bu Sukmi sambil ngejek.

Sampun bu. Ojo sok gambang ngomong aib e wong liyo. Becik ketitik olo ketoro. Eling o kabeh kui enek balesane” pungkas bu Karni.

Perilaku pak Parman bisa menjadi pelajaran bahwa sebagai seorang suami atau tulang punggung keluarga mempunyai kewajiban untuk menafkahi keluarga. Penghasilan yang dimiliki tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kebutuhan bersama. Perilaku mbak Dar dapat dijadikan pelajaran agar para istri dalam mengambil keputusan melibatkan suami, tidak seperti mbak Dar yang hutang tanpa sepengetahuan suami.


Bayu Bintoro mahasiswa UIN Sunan Kalijaga