Categories: SimponiWarganet

Memanusiakan Manusia di Tengah Pandemi COVID-19

Share

Saat ini dunia digemparkan dengan adanya virus baru yaitu COVID-19. Sudah ratusan ribu orang terkena virus ini, serta puluhan ribu meninggal dunia akibat virus tersebut. Hampir seluruh negara di dunia terkena dampak dari virus ini. Melawan Corona, berbagai upaya untuk mengatasi dan mencegah penyebaran virus sudah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah maupun non-pemerintah. Upaya fisik maupun batin juga telah dilakukan agar virus ini cepat berlalu dari muka bumi. Tentu di balik ini semua pasti ada hikmah besar yang tak kalah menarik. Antara lain bumi semakin bersih, udara lebih sejuk, sampah dan polusi juga berkurang.

Di sisi lain hikmah adanya musibah ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran manusia untuk lebih bisa memanusiakan manusia. Dengan saling menolong, saling menghargai, saling menghormati, dan saling memuliakan merupakan bentuk dari memanusiakan manusia. Di tengah musibah ini, kesadaran manusia diuji seberapa besar kadar memanusikan manusia. Seberapa besar manusia menghormati serta menolong sesamanya. Walaupun manusia telah mengetahui bahwa menolong dan menghormati sesama adalah anjuran agama. Namun manusia masih banyak yang belum tersadarkan akan hal itu.

Sudah banyak dalil ayat-ayat Alquran, hadis maupun di kitab-kitab ulama salaf yang telah menganjurkan manusia untuk saling menghormati, menghargai, menolong dan memuliakan sesama. Dalam situasi musibah di tengah keterpurukan ekonomi saat ini. Orang yang mampu dianjurkan untuk mempunyai kesadaran agar bisa membantu orang-orang yang tidak mampu. Berbagai galang dana telah banyak digalakkan oleh sejumlah pihak untuk membantu pihak medis, masyarakat kurang mampu dan beberapa untuk mencegah penyebaran virus ini.

Upaya memanusiakan manusia merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan oleh Agama. Di tengah pandemi ini manusia dituntut untuk terus memanusiakan manusia. Pemerintah dituntut untuk lebih memperhatikan rakyatnya, masyarakat juga dituntut untuk menghormati dan menjalankan kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah. Sehingga antara pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi dalam melawan virus corona ini. Pihak medis yang telah berjuang di garda terdepan yang seolah-olah menyetorkan nyawanya, berjuang siang dan malam untuk membantu para pasien yang terkena ini. Seharusnya masyarakat juga mempunyai empati kepada mereka dan menghargai perjuangan mereka dalam melawan virus ini.

Baca Juga: Jangan Takut Corona

Jika masyarakat tidak bisa memberikan apa-apa untuk melawan virus ini, setidaknya mau menghormati aturan yang telah dibuat oleh pemerintah, dengan melakukan pysical distancing, berdiam di rumah, dan lain sebagianya. Dan juga ketika ada pasien, terlebih tenaga medis sudah tidak sepatutnya untuk menolak jenazahnya untuk dimakamkan. Mereka sesama manusia yang harus dihormati, dimuliakan, tanpa harus ada penolakan. Menolak jenazah sama dengan tidak memanusiakan manusia dan hukumnya haram alias berdosa. Dari sini berbagai upaya yang telah dilakukan semua elemen baik itu pemerintah, masyarakat maupun pihak terkait dalam melawan virus ini adalah bentuk upaya memanusiakan manusia, yang tentunya merupakan sebuah kebaikan yang mendapatkan pahala.

Memanusiakan manusia merupakan bentuk dari habluminannas atau bentuk hubungan manusia dengan manusia lainya dan juga dinilai sebagai ibadah sosial. Tentu hubungan manusia dengan manusia lainya harus baik dan tidak ada masalah. Hubungan ini berbeda dengan habluminaallah, sebab jika kita melakukan kesalahan maka kita harus meminta maaf langsung kepada yang bersangkutan, dan itu sesuatu yang sulit, karena bersangkutan dengan manusia. Sedangkan habluminaallah sangat mudah, jika kita melakukan kesalahan cukup beristighar dan bertobat kepada Allah, permasalahan sudah selesai karena Allah sendiri Maha mengampuni. Dan habluminannas ini akan menjadi pertimbangan kelak di akhirat. Jadi antara habluminaallah dan habluminannas harus seimbang dan beriringan. Sehingga nantinya akan membentuk pribadi yang saleh dan salelah dari segi ibadah mahdhoh maupun ibadah sosial.

Mari untuk terus memanusiakan manusia dengan saling menghargai, menghormati, memuliakan sesama di tengah musibah yang melanda ini. Semoga musibah ini segera berakhir dan tentunya kita semua bisa memetik hikmah di balik musibah ini.


Muhammad Alvin Jauhari – Ketua MATAN Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya