Categories: AransemenKajian

Ujian Soal Nikmat

Share

Kiai Luqman – senyum yang tak pernah jarang dan tak pernah kecil itu selalu jadi pembuka pada pengajian rutinnya. “Ngaji Tasawuf Al-Hikam” adalah pengajiannya yang rutin diselenggarakan di tiap-tiap kota. Kalau di kota saya, mendapat giliran pada hari Sabtu pekan IV. Kala itu, Kiai Luqman membuka pengajiannya dengan membahas ujian nikmat. Dawuh beliau, “Orang akan menyesal ketika nikmat itu sudah tidak tampak.”

Kata-kata itu terus melekat pada ingatan saya. Juga sering terjadi pada kehidupan saya. Sebagai contoh, saat baru mendapat uang gaji, banyak sekali keinginan kita untuk membeli segala sesuatu yang kita inginkan. Bahkan yang kita butuhkan bisa menjadi nomor sekian dari keinginan kita.  Ketika sudah mendapatkan semua yang diinginkan, dan sebagian uang sudah habis, di situ lah rasa menyesal akan muncul pada permukaan kesadaran kita yang menyebabkan kita bergumam sendiri “Iya.. ya.. kenapa mesti membeli ini dan itu..” Saat itu Kiai Luqman berhasil menyentil kita sebagai hamba “amatiran”.

Berbicara soal ujian nikmat, banyak dimensi-dimensi nikmat yang mesti dijabarkan. Misal, besaran nikmat, asal-muasal nikmat, sebab-akibat dari nikmat, dan nikmat-nikmat lainnya. Musabab ujian nikmat bisa terdapat dua hal yaitu syukur dan kufur. Ada nikmat yang mengakibatkan syukur dan ujian nikmat yang mengakibatkan kufur. Sebenarnya bukan nikmat yang mengakibatkan kufur, melainkan respon masing-masing perorangan dalam menerima nikmat itu sendiri.

Baca Juga: Mari Bersyukur, Kenikmatan Menjadi Umat Muslim

Besaran nikmat

Dawuh Kiai Luqman, nikmat yang Allah berikan kepada kita itu lebih besar dan lebih banyak jika dibanding rasa syukur kita. Berjuta-juta syukur yang kita haturkan kepada Allah itu saja tidak bisa membalas banyak dan besarnya nikmat yang Allah berikan. Bahkan pada penutup surat Fatihah berbunyi tentang nikmat:

“Shirathalladzina an’amta’ alaihim, ghairilmaghdubi’ alaihim waladhdhalin,” yang artinya:

“yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”

Nah, dalam penutup induknya Alquran saja berkata “yang telah Engkau beri nikmat” bukan “yang telah Engkau beri rohmat, anugerah, dan lain sebagainya.” Menurut saya sendiri, Allah Swt sedang “mendeklarasikan” dalam surat Fatihah bahwa dirinya mudah dan sering sekali memberi hambanya nikmat ketimbang yang lain.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Sebab-akibat nikmat

Ada yang unik ketika membahas sebab-akibat dari nikmat. Sebab dan akibat dari nikmat itu adalah satu hal yang sama. Yang menyebabkan seseorang mendapat nikmat adalah dengan bersyukur dan nikmat juga dapat menyebabkan seseorang bersyukur. Jadi, syukur adalah satu hal yang dapat memengaruhi dua hal sekaligus. Yang menyebabkan seseorang mendapat nikmat adalah dengan bersyukur, berdasar dari Alquran surat Ibrahim ayat  7:

”Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’”

Mendapat nikmat juga mengakibatkan seseorang untuk bersyukur. Namun ada beberapa yang tidak seragam responnya terhadap nikmat itu sendiri. Ada beberapa orang yang walau sudah diberi nikmat oleh Allah terus menerus tetapi kufur terhadap nikmat itu sendiri.

Dari fenomena di atas, Kiai Luqman menegaskan, kita sebagai manusia dilahirkan di bumi ini berada pada maqom syukur.

Apa pesan yang terkandung dari ucapan Kiai Luqman?

Bahwa, sebagai manusia kita harus selalu bersyukur, karena pada dasarnya kita berada di tingkatan itu sendiri. Jadi yang hanya bisa kita lakukan adalah menjalankan kemampuan sesuai tingkatan masing-masing, yaitu syukur. Sebagai contoh, seorang anak tingkatan sekolah dasar hanya memiliki kemampuan berhitung sesuai kapasitas dan levelnya masing-masing. Berbeda dengan kemampuan berhitung anak sekolah menengah pertama, dan akhir.

Kesalahan terstruktur, masif, dan brutal (seperti pernah dengar…. heuheu) yang sering orang-orang lakukan adalah memerintahkan untuk bersabar. Ketika kita mendapat cobaan, lalu kita ceritakan kepada seorang teman, kemudian kebanyakan teman selalu berkata “yang sabar ya..” nah jawaban seperti ini lah kesalahan yang terstruktur, masif, dan brutal. Kan, tadi Kiai Luqman berkata kita berada pada maqom syukur, seharusnya ketika teman mendapat cobaan kita berkata “yang bersyukur ya..” Nah, insya Allah dengan jawaban seperti itu akan menempatkan kita sebagai manusia pada maqomnya masing-masing.

Kiai Luqman telah membukakan kita tentang rahasia-rahasia yang belum diketahui soal nikmat. Mulai dari rahasia kuantitas nikmat yang sejatinya kita tidak mampu membalas. Tentang hal yang menyebabkan dan mengakibatkan nikmat, dan soal maqom manusia pada saat dilahirkan di bumi. Singkatnya, Kiai Luqman berhasil menyentil saya dan kita semua untuk selalu bersyukur, juga ingat kepada Allah Swt. Akhirul kalam, semoga sentilan Kiai Luqman sampai juga pada calon pembaca lain yang akan terkena sentilan.


Faridz Ridha Syahputra Agus – Seni tablig Seniman NU