Categories: LiputanSimponi

Maha Semau Gue

Share

Kemarin alhamdulillah bisa mengikuti Sinau Bareng bersama Cak Nun dan Gus Mus meski hanya via YouTube, tapi full – tidak sepotong-potong. Saya tertarik ketika Gus Mus mulai menjelaskan tentang sifat atau sikap Tuhan yang Maha Semau Gue.

Sungguh tidak masuk akal jika Indonesia yang jauh dari peradaban Arab. Hampir seluruhnya tidak bersanad kepada Rasulallah, tapi bisa menjadi dengan penduduk muslim terbesar di muka bumi. Kita yang lahir belum mengenal alim ulama dengan sangat beruntung diberikan hidayah untuk beragama Islam. Sehingga punya harapan untuk mengharap syafaat kanjeng Nabi dan menyembah hanya kepada Allah ta’ala.

Sifat Lembut Nabi Muhammad

Allah berkehendak menentukan takdir hamba-Nya, apakah menjadi muslim atau kafir. Kemudian Gus Mus menjelaskan dalam kisah perang uhud, salah seorang sahabat meledek Rasulullah karena tidak kuasa. Bukankah beliau seharusnya bisa dengan mudah melaknat kaum Quraisy melalui Allah ketika perang?!

Tidak! Ketika gigi geraham Rasulullah patah ketika perang, beliau tetap tersenyum dan berdoa agar suatu saat musuh Islam tersebut bisa menjadi bala tentara dan pendakwah kelak untuk umat muslim.

Sebuah pesan betapa lembutnya sifat dan sikap Nabi – kepada kaum kafir sekalipun. Sejatinya hanya Allah lah yang mengetahui kemana seseorang akan ditentukan takdirnya. Apakah suatu saat dia akan meninggal dengan khusnul khatimah atau suul khatimah?!

Untuk itu, kita sebagai manusia hendaklah berhati-hati dalam menilai seseorang. Karena keterbatasan manusia, kita tidak mengetahui takdir apa yang akan membawa seseorang kelak. Mereka bisa murtad, tobat, sesat, ataupun taat. Kita hanya diberikan batas untuk menasehati, bukan menghakimi.

Baca Juga : Pengalaman Berguru kepada Habib Luthfi bin Yahya

Kita tidak punya kuasa Maha Semau Gue. Dalam koridor dakwah, kita hanya berikhtiar untuk menasehati dan mengajak semua orang berjalan menuju kebaikan (hijrah). Dengan berbagai metode atau cara, seperti berkunjung ke club malam, mengunjungi komunitas preman, atau lebih ekstrem merayu para PSK untuk mengenal agama.

Menunjukan kepada semua orang bahwa agama yang kita imani adalah agama yang indah untuk dipamerkan. Sehingga bagi mereka yang tidak seagama bisa tertarik. Bukan malah menciptakan kesan-kesan sebagai agama yang penuh fitnah, caci-maki, dan kekerasan. Islam dicontohkan oleh Kanjeng Nabi dengan ajaran yang santun dan penuh kasih, kepada kafir yang memusuhi beliau sekalipun.

Kisah Ikrimah bin Jahal

Beberapa tokoh yang membuat kita hendaknya merenungi akan kuasa Tuhan Semau Gue. Ikrimah bin Jahal, “Aku memohon kepadamu, ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu, dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”

Maka Rasulullah saw. pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu, dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku maupun tidak.”

Mendengar doa Rasulullah saw. itu, alangkah senangnya hati Ikrimah. Ketika itu juga ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersumpah, demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya. Aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”

Begitulah tekad Ikrimah setelah memeluk Islam. Dan itu ia buktikan dengan selalu ikut dalam setiap peperangan. Salah satunya Perang Yarmuk. Di perang ini Ikrimah ikut sebagai pasukan perang yang berjalan kaki. Khalid bin Walid berkata, “Jangan kamu lakukan hal itu. Karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”

Kisah Hindun Binti Utbah

Kemudian Hindun binti ‘Utbah adalah istri dari Abu Sufyan bin Harb, seorang perempuan yang sangat berpengaruh di Mekkah. Dia ibu dari Muawiyah I, pendiri dinasti Umayyah dan Ramlah binti Abu Sufyan adalah salah satu dari istri Muhammad S.A.W.. Abu Sufyan dan Hindun awalnya sangat menentang penyebaran agama Islam. Statusnya sebagai sahabat nabi dipertanyakan karena aksinya yang sebelum memeluk Islam, telah memakan hati dari Hamzah paman Muhammad S.A.W. sewaktu Perang Uhud.

Kisah Suhail bin ‘Amr

Suhail bin ‘Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut orang-orang agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan. Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin. Sampai-sampai ‘Umar bin Al-Khaththab, ketika melihatnya tertawan dalam perang Badar meminta izin kepada Nabi, “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya).” Tapi Nabi hanya mengatakan: “Biarlah. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.”

Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah. Tatkala datang Suhail bin ‘Amr sebagai delegasi Quraisy, dan Nabi berkata dengan optimis, “Sungguh urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah. Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.”

Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu. Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah.

Baca Juga : Tragedi Umat – Ikut Nabi atau Al-Mu’tashim?

Rasulullah memasuki Baitullah, lalu keluar seraya berkata, “Apa yang akan kalian katakan?”. Maka berkatalah Suhail bin ‘Amr, “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. (Anda) saudara yang mulia, putra saudara yang mulia dan anda menang.”

Kata beliau, “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya), “Tiada celaan atas kalian pada hari ini. Pergilah. Kalian semua bebas.”

Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu, segan melihat pekerti agung Nabi dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.

Kisah cinta Suhail kepada Islam

Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi Muhammad. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya Abu Jandal (yang telah muslim) agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi Muhammad.

Rasulullah memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah. Kemudian Rasulullah memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail.

Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail, hingga dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya. Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta. Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka.

Daya Pikat Suhail

Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan, “Tidak ada satu pun pembesar Quraisy yang belakangan masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak salatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail. Bahkan tidak ada yang lebih semangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan Suhail bin ‘Amr.”

Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Alquran.

Pernah terlihat, dia selalu menemui Mu’adz bin Jabal yang ditugasi Rasulullah mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam. Lalu ada yang berkata kepadanya: “Kamu mendatangi Mu’adz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?”

Suhail menukas: “Inilah yang telah mereka melakukan sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Allah mengangkat dengan Islam ini suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal di masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.”

Itulah keikhlasan. Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Karena hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dengan taubat nasuha.

Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga Ar-Rahman dan untuk menebus apa yang luput darinya. Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini: “Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga. Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.”

Setelah Nabi Muhammad Meninggal

Setelah Nabi wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam, bahkan penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya, “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad, maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya….”

Kemudian dia melanjutkan, “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.”

Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah dahulu melarang ‘Umar bin Al-Khaththab mematahkan gigi seri Suhail. Dikisahkan, ‘Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail terhadap Islam ini.

Masih banyak lagi kisah sahabat yang masuk Islam karena akhlak dan budi pekerti Nabi. Menujukan bahwa Islam agama yang santun dan damai. Banyak yang masuk Islam bukan karena paksaan dan ancaman. Sesungguhnya hanya Allah yang akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Dia-lah, Tuhan yang Semau Gue.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU