Categories: kolase

Takut pada Kekasih

Share

Sudah bertahun-tahun Namines hidup menyendiri. Ibunya pergi entah kemana setelah bercerai dengan bapaknya. Saat itu Namines genap setahun dilahirkan. Bapaknya pun juga telah meninggal saat Namines masih kelas enam 6 SD – saat itu menjelang ujian nasional. Begitulah kisah yang tragis menyelimuti perjalanan hidup Namines yang dilahirkan sebagai anak tunggal dan yatim.

Namun kini, Namines sudah dewasa dan telah mengalami berbagai problematika kehidupan. Mendestruksi dan mendekonstruksi setiap kejadian yang dialaminya. Memahami makna kasmaran yang sejati kepada tambatan hatinya. Begitu sangat dicintainya, membuatnya merasa sangat takut atas segala apa yang akan dan telah dilakukan. Sehingga bercandapun tak sempat ia lakukan saat sedang berhadapan dengannya. Menatap matanya saja terasa getar seluruh tubuh dan membuat berdiri seluruh bulu kuduknya. Semoga bisa mengandaikan betapa sempurnanya kekasih Namines yang begitu ia kagumi dan setiap malam selalu dibuatkan kidung untuknya.

Suatu ketika Namines mencoba mengajak perempuan lain untuk sekedar makan berdua. Lalu perempuan tersebut bilang “Apakah tidak ada yang memberatkan apa yang telah kita lakukan?”

Namines pun tanpa ragu menjawab, “Tidak. Semua orang sudah tidur dan tidak mengetahui”. Kemudian perempuan tersebut lanjut bertanya, “Apakah kekasihmu tidak merasa khawatir atas apa yang engkau lakukan?”. Segera Namines menghentikan perbincangan. Menatap tajam perempuan itu. Tangannya menggenggam erat sendok. Menyesal sekuatnya.

Setelah mengantarkan pulang perempuan itu, Namines pergi menjauh dari bingar-bingar kota metropolitan. Menyepi untuk kembali membuat kidung tentang kekasihnya dengan tangisan yang serba merasa bersalah. Terisak dalam kebuntuan menyalurkan asmara dan kesetiaan.

Namun tangisan yang demikianlah – tangisan penyesalan -, menjadikan kekasihnya semakin mencintai dan menjanjikan kebahagiaan bersamanya. Bagi kekasihnya tangisan adalah penghapus segala kesalahan. Dari situlah Namines memahami arti air mata. Tentang ketakutan, keresahan, dan juga kebahagian. Perasaan bersalah dan harapan yang senantiasa ditujukan untuk kekasihnya. Ketakutan akan ditinggalkan oleh kekasihnya meski hanya melakukan hal yang wajar terhadap diri sendiri. Bahkan saat merasa bahagia karena melakukan sesuatu hal, di hati dan pikirannya selalu membayang kekasihnya. Takut, apakah yang dirasakan bahagia dalam dirinya dapat dirasakan pula oleh kekasihnya atau malah sebaliknya?!

Selama belum menikahi kekasihnya, Namines mesti hidup dalam kesederhanaan. Yang demikian akan dibalas kekasihnya jika sudah menikahinya. Dan berbalik akan mengancam jika Namines berfoya ketika belum menikah dengannya. Meski setiap hari, setiap saat, berualang kali mengcuap janji setia kepada kekasihnya. Semua kesengsaraan sebelum menikah akan dibalas dengan senyum ramah dan kebahagiaan saat menikahi kekasihnya. Janji tersebut yang selalu Namines ingat dan jadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan. Sabar dan berikhtiar serta pasrah kepada kekasihnya. Karena kebahagiaannya adalah memiliki kekasihnya dengan sejuta janji yang ditawarkannya.

Namines meyakini hanya kekasihnya yang dapat membuat jiwa dan raganya menjadi bahagia atau sengsara. Di sinilah ia tidak ingin menyakiti hati kekasihnya. Karena jika ada niat membalas sedikit saja dari kekasihnya, maka sengsaralah Namines dalam menjalani hari-hari berikutnya. Siksaan yang dirasakan bukan hanya tentang perasaan, namun akan berdampak kepada pikiran, naluri, raga dan jiwa. Semua karena kekasihnya yang bisa menjadikannya hidup hingga sekarang. Jadi tubuh dan jiwa diikhlaskan untuk mengabdi kepada kekasihnya, untuk menghindari siksa dari kekasihnya. Untuk bermimpi menggapai bahagia bersama kekasihnya.

“Sepertinya takut yang seperti ini yang aku butuhkan. Dia bersemayam dalam hatiku, mengawasiku setiap saat. Aku tidak ingin menyakitinya, menghianatinya, dan tidak taat kepadanya. Aku akan merasa takut selamanya, kecuali dia ada di hadapanku. Oh, kekasih…. Jika ketakutanku adalah kebahagiaanmu, aku rela selama hidup dalam kesengsaraan dan kekhawatiran demi ridamu.”

Malam itu. Semua terhening mendengar kesaksian Namines. Berbadan tegap dengan jiwa yang rapuh. Penakut!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU