Categories: AransemenKajian

Tafsir Alfatihah (ayat 1)

Share

RA. Kartini merupakan nama salah seorang pahlawan yang sangat berjasa bagi Indonesia. Karya beliau yang terkenal adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun, bagaimana beliau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Ternyata semua berawal dari ketertarikan beliau pada Alquran. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk menuntut ilmu kepada KH. Sholeh Darat, Semarang. Di sana, beliau diajarkan tentang tafsir Alfatihah, Dengan zaman yang sudah maju seperti saat ini. Apakah kita sudah mengetahui tafsir dari surat tersebut? Atau kah selama ini hanya kita baca saja tanpa tahu maknanya?

Mengingat pentingnya mendalami surat Alfatihah, penulis memutuskan untuk membuat tulisan yang memuat tafsir Alfatihah, tentu tulisan ini bukanlah pemikiran penulis namun dari salah satu mufassir terkenal Indonesia mengingat penulis yang belum memiliki kapasitas untuk membedah ayat Alquran.

Surat Alfatihah merupakan surat pertama dalam Alquran. Surat ini mempunyai banyak sekali nama. Nama yang paling terkenal di antaranya adalah Ummul Kitab/ induknya Alquran dan Assab’ul Matsani/ 7 ayat yang diulang-ulang. Di antara nama yang lain adalah Al Asas/ landasan dan Asy Syifa/ obat. Ulama berpendapat bahwa surat ini merupakan surat ke-6 yang diturunkan oleh Allah, namun ada juga yang berpendapat bahwa surat ini diturunkan di Madinah bahkan ada yang berpendapat bahwa surat ini diturunkan 2 kali, satu kali turun di Mekah dan satu kali turun di Madinah. hal ini karena memang banyaknya riwayat berbeda yang menyinggung perihal turunnya surat Alfatihah ini.

Mengenai ayat pertama dalam surat ini ada perbedaan di antara ulama. Imam Syafii berpendapat bahwa Basmallah merupakan ayat pertama dalam surat Alfatihah. Oleh karena itu, bila salat wajib membaca basmallah dan bila tidak maka salatnya tidak sah. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa ayat pertama dalam surat Alfatihah adalah hamdallah, dan karenanya basmallah bukanlah bagian dari surat Alfatihah sehingga ketika salat tidak perlu membaca basmallah saat membaca Alfatihah.

Meskipun demikian, bukan berarti Imam Malik mengatakan bahwa basmallah bukan ayat Alquran, karena basmallah terdapat dalam QS. An Naml 27 : 30. Basmallah adalah ayat Alquran, hanya saja bukan merupakan bagian dari Alfatihah. Imam Abu hanifah memilih pendapat kompromi di antara keduanya, yakni saat salat membaca basmallah, namun dibaca lirih/ tidak dikeraskan. Hal ini dikarenakan selama 23 tahun Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam terjadi adanya keragaman dalam beribadah. Satu kali membaca basmallah, namun di waktu lain tidak. Maka, hal ini tidak perlu dipertentangkan karena semua mempunyai dasar masing-masing dan bisa dipertanggungjawabkan

Basmallah adalah ayat al quran yang sudah dikenal jauh sebelum ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad khsusunya masa Nabi Sulaiman, hal ini telah disebutkan dalam, QS An Naml 27 : 30 “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”

Bismillaahirrahmaanirraahiim (Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)

  1. Bi (dengan). Ada apa dengan kata “Dengan”, bukankah  semestinya ada kata sebelum “dengan” untuk bisa meluruskan maksud dari kalimat tersebut. Oleh karena itu, para ulama menyelipkan beberapa kata sebelum kata “dengan”. Ada ulama yang menyelipkan (saya memulai pekerjaan saya ini) dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ada juga yang menyelipkannya dengan pola: Dengan (kuasa dan pertolongan) Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maksud dan tujuannnya adalah agar tertanam dalam hati bahwa kita adalah makhluk yang lemah.

Oleh karena itu, dengan Kuasa dan Pertolongan Allah, kita menjadi kuat karena memiliki back up/ pendamping yaitu Allah. Misalnya adalah jikalau ada seorang anak kecil ia maju sendiri, maka ia akan takut. Namun bila ia mengatakan dengan bapak saya, Maka rasa takut itu akan hilang karena sudah memiliki pendamping yaitu bapak.

2. Lalu, kenapa basmallah ini menyebut “nama”, kenapa tidak langsung Allah saja ?

Ada ulama mengatakan bahwa nama/ isim di sini adalah sisipan yang tidak memiliki makna, hanya sebagai kata untuk mengukuhkan/ menguatkan saja.

Lalu, ada juga ulama yang berkata bahwa maksud pemberian “nama” tersebut adalah ingin mengekalkan sesuatu. Contoh, ada bandara bernama Sukarno-Hatta.

Hal ini agar Sukarno-Hatta tidak mudah dilupakan karena sudah dijadikan nama sebuah bandara. Maksudnya adalah kita ingin agar amalan kita menjadi kekal, karena banyak yang mempunyai banyak karya, di dunia saja sudah dilupakan, apalagi nanti di akhirat. Oleh karena itu, dengan membaca basmallah seseorang seakan mengatakan, Saya ingin agar pekerjaan saya ini mendapat ganjaran oleh Allah, dikekalkan, dan mendapat ganjaran yang kekal di akhirat nanti.

Ada juga ulama yang memberi contoh. jika ada orang tua yang memiliki anak dan diberi nama Ahmad/ Muhammad, berarti ia berharap agar kelak anaknya meneladani sifat dari nabi Muhammad. Hal tersebut berarti, ketika Allah menyebutkan nama-Nya, maka kita sebagai makhluk harus meneladani dan mencontoh sifat Allah tersebut sesuai dengan kadar kemampuan kita. Oleh karena itu, beragama adalah bagaimana meneladani sifat Allah sesuai kadar dan kemampuan kita sebagai makhluk-Nya.

3. Arrahman (Maha Pengasih), artinya adalah Allah memberikan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali di dunia ini. Seperti yang sudah dipaparkan di atas, hendaknya kita sebagai manusia mencontoh dan meneladani sifat Allah ini, yakni dengan berbaik hati dan memberi rahmat. Kasih sayang kita kepada siapa saja baik manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam ini. Tentunya sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing

4. Arrahiim (Maha Penyayang), artinya adalah Allah memberikan limpahan rahmat-Nya di akhirat, namun untuk rahiim ini hanya diberikan kepada kaum mukmin atau orang-orang yang beriman saja berbeda dengan rahman yang diberikan di dunia dan kepada siapa saja tanpa kecuali.

Rahasia di balik pembacaan basmallah pada setiap perbuatan adalah saat mengucapkannya lantas hati meyakini dengan penuh, maka akan tertanam dalam jiwa kita rahmat seperti rahmat Allah yang memberikannya kepada siapa saja, yang tentunya hal ini akan berdampak pada output kita. Jika hati kita sudah penuh dengan rahmat Allah, maka tentunya output perbuatan kita juga akan senantiasa penuh dengan rahmat dan kebaikan.

Salah satu alasan kenapa Alfatihah disebut sebagai Ummul Kitab/ induknya Kitab (Alquran) adalah karena semua ayat Alquran yang lebih dari 6000 ayat tersebut semua tertuju pada surat Alfatihah. Semua ayat Alquran adalah rincian dari Alfatihah mulai dari uraian hari kiamat, kisah-kisah, sifat-sifat Allah, ikhlas, dan lain-lain.

Alasan Alfatihah disebut sebagai Assab’ul Matsani atau 7 ayat yang diulang-ulang. Karena 7 ayat tersebut selalu diulang oleh semua muslim sehari-semalam minimal 17 kali dibaca. Juga bisa diartikan bahwa makna yang ada dalam 7 ayat tersebut selalu diulang-ulang dalam semua surat dalam Alquran berupa rincian-rincian


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

View Comments