Categories: biografiFolkor

Syekh Subakir Anggota Wali Songo Generasi Pertama

Share

Wali Songo sudah sangat dikenal dalam peradaban Islam di Nusantara, yang membawa agama kedamaian dengan sopan santun dan penuh toleran ke dalam kehidupan penduduk Nusantara. Sehingga yang dahulunya penduduk Nusantara khususnya pulau Jawa, yang secara statistik hampir keseluruhan adalah pemeluk agama Hindu-Budha. Perlahan-lahan dapat masuk Islam berkat Wali Songo (Sembilan Wali Allah) kala itu. Menyebar luas ke seluruh daerah di pulau Jawa dari generasi ke generasi. Dalam buku Melacak Jejak Syekh Subakir karya M. Romadhon MK, Wali songo generasi pertama yang menginjakkan kaki di tanah Jawa pada tahun 1404-1435 M dan di antara anggotanya adalah:

Wali songo generasi pertama

  1. Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dikenal dengan sebutan Syeikh Maghribi. Berasal dari tanah Turkidan ahli dalam bidang Mengatur Negara.
  2. Syekh Maulana Ishak. Berasal dari tanah Samarkand. Ahli dalam bidang Pengobatan.
  3. Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro. Memiliki nama asli Syeikh Jamaluddin Al-Husain Al-Akbar bin Syeikh Jalal. Berasal dari tanah Mesir.
  4. Syekh Maulana Muhammad Al-Maghribi, berasal dari tanah Maroko.
  5. Syekh Maulana Malik Isro’il, berasal dari tanah Turki, ahli dalam bidang Mengatur Negara.
  6. Syekh Maulana Ali Akbar, berasal dari tanah Persia(Iran). Ahli dalam bidang Pengobatan secara Medis (Tabib/Dokter) dan ahli dalam bidang Pertanian.
  7. Sultan Maulana Hasanuddin. Dikenal sebagai Pangeran Suba Kingkingatau Suda Kikin, yang menjadi penguasa Kerajaan Islam Pertama di tanah Banten.
  8. Syekh Maulana Aliyuddin, berasal dari tanah Palestina.
  9. Syekh Subakir, berasal dari tanah Persia(Iran). Ahli dalam ‘Menumbali’ daerah-daerah angker yang dihuni oleh Jin jahat (Ruqyah).

Baca Juga: Raden Rahmat (Sunan Ampel)

Wali songo generasi pertama

Wali songo generasi pertama berada di tanah Jawa karena mendapatkan tugas/ amanat/ mandat dari Sultan Muhammad I sebagai raja negeri Rum dari kesultanan Turki Utsmani. Untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sebelum diperintahkannya Wali Songo generasi pertama ini, sudah ada lebih dahulu ulama-ulama yang diamanatkan juga oleh Sultan Muhammad I untuk menyebarkan Islam di wilayah Jawa. Namun pada akhirnya mereka para ulama tidak ada yang “berhasil”. Dalam buku Melacak Jejak Syeikh Subakir ini. Menyebutkan bahwa alasan yang menyebabkan para ulama yang datang sebelum Wali Songo generasi pertama ini gagal adalah banyak yang meninggal karena keangkeran di wilayah tersebut. Berita ini tercatat dalam serat Jangka Syekh Subakir Pupuh II sekaligus memperjelas adanya Syekh Subakir secara nyata dari beberapa kalangan yang meragukan adanya Syekh Subakir dengan menyebutkan sebagai tokoh yang fiktif dari keanggotaan Wali Songo. Syekh Subakir mengatakan :

“Puwara renge ngendika. timbalana Sech Subakir. tan anatara prapteng ngarsa. ngandika Sri Narapati. bapa sira sun tuding. layar mring pulo Jaweku. sira masanga tumbal kang hardi-hardi. dimen lunga lelembute pulo Jawa.”

Sosok Syekh Subakir

Dalam Serat Jangka Pupuh II dijelaskan bahwa Raja dari negeri Rum atau Sultan Muhammad I. Secara langsung memberikan tugas kepada Syekh Subakir untuk menjamah tanah Jawa. Sultan Muhammad I meminta agar Syeikh Subakir menumbali (mensucikan) dari jin-jin jahat yang menghuni tanah Jawa kala itu. Agar para wali yang lainnya dapat menyebarkan Islam dengan baik dan tanpa gangguan jin jahat atau pengaruh magis yang pada masa itu sangat kuat keberadaannya.

Setelah usaha Syekh Subakir berhasil dengan me-ruqyah daerah-daerah yang angker di tanah Jawa. Syekh Subakir dan para anggota Wali Songo lainnya pun menjalankan misi dakwahnya. Selain ahli dalam bidang ruqyah, Syekh Subakir juga ahli dalam bidang agama dan juga ulama yang berbeda dari ulama Wali Songo lainnya. Dari segi penguasaan ilmu olah batin (tasawwuf) hingga ilmu ruqyah. Salah satu ulama yang dapat berbicara dalam berbagai bahasa, berbicara dengan jin-jin dan juga binatang. Tak ayal Syekh Subakir menjadi wali yang memiliki keistimewaan berbeda dengan para anggota Wali Songo lainnya.  Selama sepuluh tahun menimba ilmu di Masjidil Haram Makkah, sebelum beliau diperintahkan ke tanah Jawa.

Syekh Subakir memiliki nama asli Syekh Tambuh Aly ben Syekh Baqir, yang juga dikenal Syekh Muhammad Al-Baqir. Namun bagi orang-orang Jawa kala itu sulit menyebutkan nama asli beliau, maka dipanggillah dengan nama Syekh Subakir. Lahir di tanah Persia (Iran) tanggal 20 Ramadhan tahun 787 H. Ulama satu-satunya yang memiliki keahlian me-ruqyah dan ‘menumbali’ (menyucikan) tanah Jawa dari berbagai energi negatif di daerah-daerah yang angker.

Dengan kecerdasannya telah mengantarkan Wali Songo sukses dalam menyebarkan Islam. Sesuai dengan gelarnya ‘Al-Baqir’ yang berarti membelah bumi, yang juga sesuai dengan kapasitas keilmuannya yang dimiliki menyatu dengan gelarnya. Arti membelah bumi dalam konteksnya adalah sebuah pengibaratan atas keilmuan dan keistimewaannya Syekh Subakir dalam menaklukan tanah Jawa dari gangguan jin jahat dan energi negatif lainnya. Ketika banyak ulama-ulama sebelumnya gagal dalam tugasnya.

JAS MERAH

Sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa haruslah tetap menjadi pelajaran dan pengetahuan, juga sejarah di daerah bagian lain di Nusantara. Betapa indahnya Islam yang dibawa dengan cara-cara yang baik dan penuh kedamaian. Sehingga sangat kecil pertentangan, serta tidak mengakibatkan konflik yang berkepanjangan sampai terjadinya perpecahan. Islam Nusantara mengacu pada sejarah Islam yang dibawakan oleh para Wali Songo. Agar tetap melekat ke dalam ingatan bahwa Indonesia ini selain berpenduduk mayoritas beragama Islam. Di sisi lain juga memiliki beraneka ragam budaya. Agar antara Islam dan budaya tetap dapat dijalankan, makanya Islam ketika zaman Wali Songo dahulu dalam ketentraman. Karena Wali Songo lebih mengutamakan akhlak yang baik, daripada ilmunya. Masuk dengan akhlak atau budi pekerti yang baik dan kemudian memberikan pengetahuan tentang Islam. Sudah seharusnya ini menjadi contoh bagi umat muslim masa kini.

Baca Juga: KH. Bishri Syansuri, Dedikasi untuk Negeri dan Dunia Pesantren

Sebelum masuknya atau diutusnya Wali Songo, Sultan Muhammad I terlebih dahulu memerintahkan beberapa utusan muslim dari tanah Turki untuk mengemban misi perdagangan di jalur utara Pulau Jawa. Kala itu menjadi tempat favorit para pedagang se-Asia Tenggara hingga Internasional pada abad 13-15 M. Dari jalur Samudera Hindia, termasuk di antaranya dari Cina, Jazirah Arab, dan ikut serta dari Turki. Seiring berjalannya waktu, pangkalan-pangkalan dagang milik pedagang muslim telah mapan.

Baru kemudian Sultan Muhammad I mengutus Sembilan Ulama yang berasal dari berberapa negara untuk pergi menuju pulau Jawa bersamaan dengan para pedagang muslim dari negeri Rum. Dengan suksesnya para pedagang muslim dari wilayah Jazirah Arab termasuk Turki yang berada di tanah Jawa, menjadikan salah satu jalan suksesnya para Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Dengan kata lain sebagai pendukung Wali Songo dalam urusan ekonomi untuk semata-mata kepentingan berdakwahnya di Nusantara.

Namun begitu ada pula yang mengatakan bahwa sebelum Wali Songo tiba di tanah Jawa, terlebih dahulu raja Rum memerintahkan Syekh Subakir untuk menduduki tanah Jawa sesuai dengan titah tujuan sang raja, yaitu menyisir daerah-daerah yang angker dan dihuni oleh berbagai macam jenis jin jahat. Selalu mengganggu para ulama yang berniat untuk menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa. Setelah Syekh Subakir berhasil melaksanakan titah sang raja Rum. Barulah kemudian delapan Anggota Wali Songo lainnya berangkat menuju pulau Jawa bersamaan dengan para pedagang muslim yang menuju pulau Jawa melalui jalur samudera Hindia. Yang kemudian berhenti di lepas pantai utara Jawa, untuk melakukan tugas mulia dari sang raja Sultan Muhammad I.

Sumber Pustaka : Romadhon MK, 2017 : Melacak Jejak Syekh Subakir. Araska Publisher : Bantul, Yogyakarta


Kholili Ibrohim – Seniman NU Regional Banten