Categories: biografiFolkor

Syekh Nawawi Al Bantani: Spesialis Ahli Syarah Kitab Kuning

Share

Ada beberapa versi tentang penulisan nama lengkap Syekh Nawawi al Bantani ini. Pertama versi Ensiklopedi Islam ( Jakarta, 1999 : 23), menyebutnya dengan Nawawi bin Umar bin Arabi. Kedua versi The Encyclopedia of Islam (Leiden New York, 1993 : 1040) menyebutnya dengan Muhammad B. Umar B. Arabi al-Jawi. Ketiga versi Abdurrahman Mas’ud (1996 : 86) mengidentifikasikan dengan Muhammad Ibn Umar al-Nawawi al- Batani al-Jawi. Dan keempat versi Ma’ruf Amin dan M. Nasruddin Anshory Ch (1989 : 95) mengidentifikasikan dengan Abu Abdil Mu’thi, Muhammad  Nawawi Ibnu Umar at-Tanari al-Batani al-Jawi.

Yang menjadi persoalan dalam nama ini adalah apakah menggunakan nama Muhammad atau tidak? Berikutnya penyebutan “Nawawi” diletakkan pada sebelum nama ayahnya atau sesudahnya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka dilakukan telaah terhadap dokumen berupa 17 judul kitab karya al-Bantani. Dari sini ditemukan tiga versi. Pertama 15 judul beridentitas Muhammad Nawawi. Kedua, satu judul beridentitas Muhammad bin Umar al-Nawawi (ini terdapat pada kitab Tanqih al- qaul ). Ketiga, satu judul kitab beridentitas Abu Abdil Mu’thi Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi (ini terdapat pada kitab Nihayat al-Zain).

Dari data-data tersebut penulis cenderung mengikuti penyebutan yang mayoritas. Dari 15 judul kitab yang penulis temukan menyebutkan nama lengkap al-Bantani dengan Muhammad Nawawi. Inilah nama aslinya. Dengan demikian dapat kita bedakan dengan al-Nawawi tua yang nama asli/lengkapnya Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Marri al Khazami (Nawa, Damascus, Muharram 631 / Oktober 1233 – 24 Rajab (676/1277). Jika penyebutan “Nawawi” pada Nawawi tua adalah sebagai nisbat dari tanah kelahirannya (bukan nama asli), maka penyebutan “Nawawi” pada al-Bantani adalah sebagai nama asli. Meskipun demikian ada korelasi yang menarik antara Nawawi muda dengan Nawawi tua. Pemberian nama “Nawawi” pada Nawawi muda (al-Bantani) oleh bapaknya adalah karena sebuah cita–cita agar anaknya itu kelak akan menjadi ulama’ besar bermazhab Syafi’i seperti Nawawi tua (Abu Zakaria al-Nawawi al-Dimasyqi).

Adapun penyebutan Abu Abdul Mut’thi sebelum atau di depan nama aslinya adalah sah-sah saja karena al-Bantani mempunyai anak bernama Abdul Mu’thi. Demikian juga tentang penyebutan “bin Umar bin Arabi” juga sah sebagai identitas tambahan yang menunjukkan dia adalah putra dari Umar dan kakeknya bernama Arabi.

Tentang kelahiran syekh Nawawi al Bantani sepanjang pengamatan penulis tidak terdapat perbedaan, yakni di desa Tanara wilayah Banten, Jawa Barat tahun 1230 H bertepatan dengan 1813 M.

Mengenai semangat belajarnya yang tinggi agaknya telah terbina dari suasana keluarganya yang terdidik, karena ayahnya Umar bin Arabi adalah seorang ulama dan penghulu di Tanara, Banten. Apalagi silsilah keturunan ayahnya berasal dari keturunan Maulana Hasanuddin (Sultan Hasanuddin), putra Maulana Syarif Hidayatullah.

Pondasi ilmu keagamaan al-Bantani juga dibangun oleh ayahnya sendiri melalui beberapa pelajaran; ilmu kalam, nahwu, tafsir dan fikih. Pendidikan lanjutan diperolehnya dari Kiai Sahal di daerah Banten dan Kiai Yusuf di Purwokerto. Hal ini dilakukan bersama dengan saudaranya; Tamim dan Ahmad.

Ketika al-Bantani umur 15 tahun (kira-kira tahun 1828 M) ia dan saudara-saudaranya tadi menunaikan ibadah haji ke Makkah dan kemudian al-Bantani sendiri menetap di sana selama 3 tahun. Rupa-rupanya selama waktu itu dimanfatkan al-Bantani untuk menempa diri menuntut ilmu dibawah bimbingan ulama-ulama terkenal seperti Sayyid Ahmad Ibn Sayyid Abdr al- Rahman al-Nawawi Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Ketiganya di Makkah dan Syeikh Muhammad Khatib Sambas al-Hambali di Madinah. Setelah pulang ke negeri asal beberapa tahun lamanya al- Bantani kembali lagi ke Makkah sekitar tahun 1855 M untuk menetap secara permanen di sana.

Baca Juga: Imam Al Bushiri – Pengarang Qasidah Burdah

Waktu demi waktu dijalaninya untuk terus aktif menambah ilmunya di semua bidang ilmu Islam hingga mencapai waktu 30 tahun. Dan sejak tahun 1860-an ia mulai mengajarkan ilmunya baik di Madinah maupun di Makkah yang kemudian memperoleh gelar Imam al-Haramain. Kemudian mulai tahun 1870 menurut cacatan dalam The Encyclopedia of Islam, al- Bantani telah mencurahkan separuh waktunya untuk kegiatan menulis (mengarang). Hanya sayang sekali jumlah yang pasti dari karangan al- Bantani tidak dapat diketahui dengan jelas. Sumber-sumber yang penulis temukan hanya menyebut 100 lebih (Abdrrahman, 1996; 95), Martin Van Bruinessen juga hanya menyebut tidak kurang dari dua kali 22 karya (Van Bruinessen, 1992: 83) dan Ensiklopedia Islam menuturkan “Menurut suatu sumber ia mengarang kitab sekitar 115 buah, sedang menurut sumber lain sekitar 99 buah “ (Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 4, 1996).

Perbedaan penyebutan jumlah karya al-Bantani menurut penulis tidak perlu diperdebatkan secara panjang lebar. Yang jelas ulama asal Jawa ini telah berhasil menyusun banyak karya yang tidak saja mengangkat nama baik pribadinya tetapi juga mengharumkan negara, tanah air  Indonesia tempat ia dilahirkan. Akhirnya pada tahun 1897 M bertepatan dengan tanggal 25 Syawwal tahun 1314 H, al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun.

Karya-karya Syekh Nawawi al Bantani

Melalui tulisannya, al-Bantani berhasil menunjukkan bahwa warisan pesantren tidak terbatas hanya pada “tradisi bicara”, melainkan juga perbuatan dan tulisan. Oleh karena itu fenomena al-Bantani dan pengaruhnya hingga kini mesih begitu nyata tertanam kuat dalam masyarakat Islam. Karya yang ia wariskan tetap digumuli para santri di seluruh pelosok Nusantara, juga di negara-negara Timur Tengah, Malaysia, Thailand dan Filipina Selatan. Dari sekitar 100 karya beliau memang kebanyakan berupa syarah (komentar) atas karangan ulama terdahulu.

Diakui oleh para peneliti semisal Snouch Hurgronje bahwa keistimewaan ulama kita ini (al-Bantani) terletak lebih di bidang pena (qalam)nya daripada lidahnya. Martin Van Bruinessen menyebutkan sebagai pengarang yang paling produktif. Di samping tafsirnya, Marah Labid ia menulis kitab setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren. Lebih jauh lagi Bruinessen menyebut sebagai ulama yang berbeda dengan pengarang Indonesia sebelumnya, karena al-Bantani menulis dalam bahasa Arab dan kitab-kitab karyanya itu berupa syarah kitab. Sebagian lagi berupa kitab tausyih atau hasyiyah atas kitab syarah karya tokoh lain. Oleh karena itu tidak salah jika al-Bantani ditetapkan sebagai ilmuan spesialis syarah.

Berikutnya daftar kitab yang pernah ditulis Syekh Nawawi Al Bantani :
  1. Marah Labid – Tafsir al-Nawawi, al-Tafsir al-Munir Lima’alim al-Tanzil al- Musfir ‘an-Wujuh Mahasnr al-Ta’wil. Kitab ini menurut catatan Rahman selesai ditulis tahun 1886, Rabi’ul akhir 1305.dan dicetak di Cairo juga tahun 1305.
  2. Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in – syarah atas kitab Qurrat al-Ain bi Muhimmat al-Din (oleh Zainuddin Abd Aziz al-Malibari) – dibidang fikih mazhab syafi’i.
  3. Kasyifat al-Syaja, syarah atas kitab Safinat al-Naja fi Usul al-Din wa al- Fiqh (karya salim bin samir). Dalam bidang fikih Dalam catatan Brockelmann dicetak di cairo 1292, 1301, 1302, 1305, dan di bulak1309.
  4. Sullam al-Munajat – syarah atas kitab Safinat al-Salah (karya Sayyid Abdullah bin Umar al-Hadramy). Di bidang fikih (dalam catatan Steenbrink, 1984 ; 120, dicetak1884)
  5. Tausyih ala Fath al-Qarib (cairo 1305) – syarah atas kitab fath al-Qorib (Muhammd bi al-Qasim al-Bazzi, 918 / 1512) sebagai syarah atas kitab Gayah al-taqrib (Abu Syuja’al-Isfahani).
  6. Al-simar al-Yani’ah fi al-Riyad al-Badi’ah – syarah atas kitab al-Riyad al- Badi’ah (karya Syaikh Muhammad Hasbullah). Di bidang usul al-din dan sebagian memuatfiki
  7. Bahjat al-Wasail bi Syarhi Masail – syarah atas kitab al-Risalah al-Jami’ah baina Usul al-Din, wa al-Fiqh wa al-Tasawuf (karya Sayid Ahmad bin Zain al-Habsyi).
  8. Maraqi al-Ubudiyyah – syarah atas kitab Bidayat al-Hidayah (karya Imam Abu Hamid al-Gazali) dibidang tasawuf. Sebagian peneliti memasukkan kitab ini ke dalam kelompok fikih.
  9. Qami’ Tugyan, cairo : 1296 H – syarah atas kitab Manzumat fi Syu’b al- Iman
  10. Nasaih al-Ibad – syarah atas kitab al-munabbihat ala al-isti’dab liyaum al- ma’ad (karya Syihab al-Din Ahmad ibn Hajar al-Asqalami) di bidang tasawuf
  11. Al-Futuhat al-Madaniyyah – syarah atas kitab al-Syu’b al-Imaniyah ( Muh. Bin Abdillah al-Iji)
  12. Tijan al-Darari – syarah atas kitab Risalah al-Syaikh Ibrahim al-Bajury fi al- Tauhid, ( karya syaikh Ibrahim al-Bajuri)
  13. Fath al-Majid – syarah atas kitab al-Durr al-Farid fi Aqa’id Ahli al-Tauhid (karya Syaikh Ahmad bin Sayyid Abdr rahman al-Nahrawy) dalam bidang tauhid.
  14. Nur al-Zalam – syarah atas kitab Manzumat Aqidati al-Awam (karya Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makky)
  15. Qatr al-Gais – syarah atas kitab Masail Abi al-Lais (al-Samarqandi)
  16. Tanqih al-Qaul al-Hasis – syarah atas kitab Lubab al-Hadits (karya Syaikh al-Hafid Jalal al-Din Abdirrahman Ibn Abi Bakr al-Suyuti), dalam bidang hadis.
  17. Madarij al-Su’ud – syarah atas kitab al-Maulid al Nabawi yang populer deng sebutan kitab al-Barzanji (karya Sayyid Jafar al-Barzanji)
  18. Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain – syarah atas kitabRisalah tentang huquq al-zujain (tidak disebutkan pengarang risalah ini).
  19. Syarh Sullam alTaufiq, yaitu syarah atas kitab matn Sullam al-Taufiq karya syeikh Abdullah bin husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim Ba’alawi.

Baca Juga: Ibnu Atha’illah As Sakandari – Pengarang Kitab Al Hikam

Selain kitab-kitab yang telah disebutkan di atas, masih terdapat sejumlah kitab karya Syekh Nawawi al Bantani yang tingkat ketenarannya di pesantren agak berkurang, misalnya :
  1. Dari’at al-Yakin, cairo, 1304 – syarah atas kitab Umm al-Barahim ( karya al-Sanusi), dalam bidang akidah.
  2. Hilyat al-Sibyan – syarah atas kitab fath al-Rahman, Mekkah, 1304, dibidang tauhid.
  3. Salalim al-Fudala’ – syarah atas kitab Manzumat Hidayat al-Azkiya’ ila Thariq al-Auliya’ (karya Syaikh Zainuddin al-Malibary, 928 / 1522),di bidang tasawuf.
  4. Misbah al-Zulam, (Mecca, 1314) – syarah atas kitab al-Manhaj al-Tamm fi Tabwib al-Hukm (karya Ali bin Husain al-Din al-Hindi. 975 / 1567), dibidang tasawuf.
  5. Bugyat al-Awam fi Syarh Maulid Sayyid al-Anam (karya Ibn al-Jauzi)Cairo; 1927 di bidang sejarah.
  6. Al-Ibriz al-Dani, cairo, 1299, – syarah atas kitab Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnani ( karya al-Qastalani)
  7. Kasyf al-Muruthiyya an Sitar al-Ajrumiyya, syarah atas kitab al-Ajrumiyyah, Cairo, 1308 Hdi bidang gramatika.
  8. Fath al-Mujib (Bulak, 1276 H) – syarah atas kitab Manaqib al-Hajj ( karya Muh. bin Muh. al-Syarbini al-Khatib wafat 977 / 1569), dalam bidang fikih
  9. Lubab al-Bayan, cairo, 1884 M / 1301 H – syarah atas kitab Risalah al- Isti’arat ( karya Husain al-Nawawi al-Maliki)
  10. Fusus al-Yaqutiyya, (Cairo, 1299), syarah atas kitab al-Rauda al-Bahiyya fi al-abwab al-Tsrifiyya, karya Abd.Mun’im ‘Iwad al-Jirjawis (kira-kira 1271/1854) dalam bidang gramatika ilmu

Setelah meneliti mayoritas kitab-kitab karangan al-Bantani baik secara langsung dengan melihat kitab-kitab tersebut, maupun melalui penuturan sebagian peneliti lain. Terbukti tipologi karangan Imam Nawawi al-Bantani (jika tidak boleh dikatakan seluruhnya) mayoritasnya berupa kitab-kitab syarah . Hal ini berarti bahwa pernyataan Martin Van Bruinessen dapat dibenarkan. Dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa Imam Nawawi al-Bantani adalah ulama/ilmuan penulis spesialis syarah (komentar) Kitab Kuning atas karya penulis lain.

Karya-karya al-Bantani yang berupa syarah ini memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya;
  1. Kemampuan menghidupkan isi karangan, sehingga dapat dijiwai oleh pembacanya,
  2. Pemakaian bahasa yang mudah dipahami, sehingga mampu menjelaskan istilah-istilah yang sulit.
  3. Keluasan isi karangannyayang menakjubkan.

Kemampuannya sebagai syarih (komentator) menunjukkan ilmunya sangat luas  dan  mumpuni. Dengan  syarah  yang  dilakukan  al-Bantani   sebuah   karangan   yang terasa “agak kering“ menjadi segar dan menggairahkan pembaca untuk menelaahnya. Artinya di sini al-Bantani dalam kegiatan pensyarahan kitab kuning bukan sekedar mengurai kata atau kalimat, tetapi juga melengkapi dengan dalil, pendapat, argumentasi atau keterangan lain yang relevan.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU