Categories: biografiFolkor

Syekh Jalaluddin As Suyuthi : Pengarang Tafsir al-Jalalain

Share

Beliau bernama Abdurrahman bin Kamal bin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiqudin bin Fakhr Utsman bin Nazirudin Muhammad bin Saipudin, Hadir bin Najmudin, Abi Shalah Ayub bin Nashirudin, Muhammad Ibn Syaikh Hamamuddin al-Hamam al-Hudhairi al-Suyuthi al-Syafi’i. Jalaluddin adalah laqab beliau dan Abu Fadhl kunyah nya. Syekh Jalaluddin As Suyuthi lahir di kairo sesudah maghrib pada malam ahad bertepatan dengan 849 H/ 1445 M dari keluarga keturunan seorang pemuka tarekat dan tasawuf dan bermazhab Syafi’i.

Nama al-Khudhairi diambil dari nama desa al-Khudhairiyah dekat Baghdad. Hal ini diakui oleh Suyuthi sendiri meskipun semasa hidupnya terdapat dua nama al-Khudhairiyah masing-masing di as-suth dan Kairo. Barangkali penegasan Suyuthi ini untuk mengembalikan jejak nenek moyangnya dari sebuah wilayah yang jauh dan terkenal. Ayahnya adalah keterunan terakhir keluarga Hamamuddin yang menetap di as-Suth. Sejak muda ia telah meningalkan keluarganya di as-Suth dan merantau ke Kairo untuk menimba ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kedekatannya dengan Amir Syaikhu.

Selama itu ia mendalami fikih hingga pada tahun 1451 M wafat dalam usia 50 tahun, ketika Abdur Rahman Suyuthi berumur enam tahun.

Ibunya adalah keturunan Turki yang mengandung Suyuthi ketika suaminya telah memasuki usia senja. Sebagian ‘ulama mengatakan bahwa Imam Suyuthi telah dewasa semenjak dalam kandungan. Ayahnyapun sangat gembira saat mendapatka buah hati pada usia hampir 50 tahun.

Pendidikan dan Guru-Gurunya

Karir pendidikan Imam Suyuthi dimulai dari perhatian ayahnya terhadap pendidikannya, karena kehadiran Suyuthi disambut baik oleh ayahnya bahkan ia memberikan perhatian penuh terhadap Suyuthi, mendidiknya menghafal Alquran, bahkan menemaninya belajar Hadits kepadaIbnu Hajar al-Asqalani. Maka Suyuthi kecilnya tumbuh dengan baik karena mendapat perhatian yang utuh dari orang tua dan para gurunya. Ia mampu menyelesaikan studinya di Masjid al- Syaikhuni setelah kematian ayahnya. Berkat kecerdasannya, ia mampu menghafalkan Alquran sebelum genap berusia 8 tahun.

Setelah menghafal Alquran, ia melanjutkan petualangan intelektualnya dengan mendalami fiqih mazhab Syafi’i kepada ‘Alamuddin al-Bulqaini dan diteruskan dengan putra al-Bulqaini. Ia mendalami ilmu-ilmu keagamaan dan bahasa Arab dengan Syeikh Syarafuddin al-Minawi dan Muhyiddin al-Kafiyaji (w. 889 H). Selanjutnya mendalami kitab Shahih Muslim, as-Syifa fi Ta’rif Huquq al-Musthafa, dan sebagainya bersama Syeikh Syamsuddin Muhammad Musa. Kemudian mempelajari Hadis dan bahasa Arab sekitar empat tahun bersama Taqiyuddin al-Syumani al-Hanafi (w. 872 H).

Untuk menambah khazanah pengetahuannya, sebagaimana dilakukan kalangan muhadditsin untuk mencari riwayat dan sanad superior maka Suyuthi mengembara ke Syiria, Yaman, India, Maroko, dan wilayah Islam lainnya. Ia pun berkali-kali mengunjungi Hijaz baik untuk menunaikan ibadah haji maupun menimba pengetahun. Namun, ia belum merasa puas bila hanya mendapatkan pengetahuan lewat buku-buku yang ditelaahnya. Karena itu, ia sering pula berguru secara langsung dengan ‘ulama yang ada saat itu.

Baca Juga: Abu Mansur Al Maturidi – Teolog Islam Ahlussunah Wal Jamaah

Murid-Murid Syekh Jalaluddin As Suyuthi

Saat itu Suyuthi telah menggapai posisi intelektual yang tinggi, melahirkan karya-karya yang beragam, dan memiliki wawasan yang luas sampai-sampai dijuluki dengan kutu buku (ibnu al-Kutub). Ia mewarisi sebuah perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi. Selain itu Suyuthi sering juga mengunjungi perpustakaan al-Mahmudiyah. Maka dalam usia yang masih muda 17 tahun Suyuthi telah menekuni dunia pendidikan dan tulis menulis. Hal ini diakui pula oleh para saingannya yang melihat Suyuthi mampu menulis berbagai buku dalam bermacam-macam disiplin pengetahuan, dapat dikatakan, tidak ada disiplin ilmu yang tidak dijamah oleh karya-karya Suyuthi. ia pernah mengatakan: “sekiranya saya ingin menulis suatu masalah yang mengandung kontroversi disertai bukti-bukti yang kuat, maka akan saya lakukan sepenuh hati karena saya anggap sebagai suatu karunia dari Allah”.

Adapun murid-murid Suyuthi yang menonjol antara lain: Muhammad bin Ali ad-Dawudi (w. 945 H) penulis Thabaqat al-Mufassirin, Zainuddin Abu Hafzh Umur bin Ahmad al-Syama’ (w. 936 H), seorang Muhaddits di Halaba dan penulis al-Kawakib an-Nirat fi al-Arba’in al-Buldaniyat, Muhammad bin Ahmad bin Iyas (w. 930 H), penulis Bada’i al-Zhuhur, Muhammad bin Ysuf al-Syami al- Shalihi al-Mishri, Ibnu Thulun bin Ali bin Ahmad (w. 953 H), dan al-Sya’rani Abdul Wahhab Ibnu Ahmad (w. 973 H).

Suyuthi memiliki perhatian dan minat besar terhadap ilmu hadits bahkan menempati posisi tinggi dalam disiplin ini. Ia termasuk tokoh terkemuka tentang seluk-beluk disekitar masalah hadits dan mengajarkan disiplin ini diberbagai tempat sehingga dianggap sebagai muhaddits terbesar setelah Ibnu Hajar al- Asqalani. Sekiranya ia hanya menulis Jam’u al-Jawami’, maka hal itu sudah memadai untuk mendudukkannya sebagai pendekar hadits karena buku ini, dari segala seginya, merupakan karya yang paling baik.

Karya-karyanya

Berikut ini pembahas kutipkan sebagian karya-karya Imam Suyuthi:

Tafsir dan Ulumu al-Qur’an

  1. Tafsir al-Jalalain
  2. Lubabu an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul
  3. Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Maktsur
  4. Al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an
  5. Iklil fi Istinbathi at-Tanzil
  6. An-Nasikh wa al-Mansukh
  7. Maphamatu al-Akran fi Mubhamati al-Qur’an

Ulumu al-Hadis

  1. Ad-Dibaj ‘Ala Tashhihi Muslim bin Hajaj
  2. Al-Khashaishu al-Kubra
  3. Al-Jami’u al-Shagir
  4. Ad-Duraru al-Muntasyirah fi al-Ahaaditsu al-Musytahirati

Fikih

  1. Al-Washailu ila Makrifati al-Awaail
  2. Al-Raddu ‘ala man Akhlada ila al-Ardi wa Jahlu Anna Ijtihada fi Kulli ‘Ashrin

fardhu

  1. Al-Asybah wa an-Nadzairu al-Fiqhiyah

Ulumu al-Balaghah

  1. Qu’udul al-Jaman fi Ilmi al-Ma’ani wa al-Bayan
  2. Syabihatu bi al-fiyati Ibnu Maliki fi an-Nahwi wa al-Sharpi

Tarekh dan Adab

  1. Husnu al-Muhadharah Akhbaru Mishra wa al-Qahirah
  2. Terekh al-Khulafa’
  3. Syamarikhu fi Ilmi at-Tarekh
  4. Tuhfatu al-Kiram
  5. Bughyatu al-Wi’at fi Thabaqat al-Lughawin wa an-Nuhat
  6. Thabaqatu al-Huffadz
  7. Thabaqatu al-Fuqaha al-Syafi’iyah
  8. Tarekhu al-Suyuthi

Baca Juga: Syekh Ja’far Al Barzanji – Pengarang Qasidah Al Barzanji

Tashawuf

  1. Tanbihu al-Ghabi
  2. Al-‘Aridh

Fikih Lughah

  1. Al-Iqtirah
  2. Muzhar fi Ulumi al-Lughah

Nahwu

  1. Jam’ul Jawami’
  2. Hima’u al-Hawami’ Syarhu Jam’u al-Jawami’
  3. Kitab Asybah wa an-Nadzair an-Naẖwiyah.

Wafatnya Syekh Jalaluddin As Suyuthi

Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Jumat bertepatan dengan 17 Jumadil Ula atau 911 H (1505 M), setelah mengalami sakit selama seminggu akibat pembengkakan pada tangan kirinya. Dimakamkan di daerah Husy Qushun samping Bab Qurafa.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU