Categories: opiniSimponi

Surat Cinta untuk Osamah Asaubi

Share

Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk Osamah
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya Ansor-ku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau Arab membenci
Ku kan tetap di sini

O… samah. Saya tidak tahu Anda ini berasal dari gen mana. Saya kira paman dari Osaman Dembele. Karena lagi viral, saya kepo deh akun @os_alshuibi dan ternyata Anda dubes Arab Saubi, eh, saudi. Dubes itu duta besar tapi Anda malah membuat kesan menjadi duta kecil. Ah, sudahlah…

Waktu pertama kepo tweet Anda isinya tulisan arab semua. Kiraan sok-sokan ke-ngarab-en, e ternyata Anda memang dari Arab. Untung saya tidak begitu paham tata bahasa Arab, jadi ya lihat artinya harus via google translate atau tanya seseorang. Bukankah sejatinya bahasa adalah media berkomunikasi? Jadi intinya ya ekspresi menyampaikan sesuatu untuk ditangkap lawan komunikasi. Dan saya sudah menangkap pesan Anda.

Soal 212 ya? Sebelum saya menanggapi cuitan kiai Osamah, saya coba sedikit mengulas aksi yang maha dahsyat di monas minggu kemarin. Bangga! Bisa menyelenggarakan acara dengan jumlah peserta 700 – 800 ribu orang. Mungkin hanya 212 yang bisa menyelenggakan kegiatan serupa tanpa diiming-imingi nasi bungkus dan dana PP Medan-Jakarta. Luar biasanya lagi, aksi 212 berjalan secara damai sentosa. Jadi jelas, minggu kemarin itu tidak ada radikalisme seperti yang beberapa media sosial mainstream sampaikan. Saya kira, misal kemarin melakukan aksi radikal malah bisa “salah alamat”, masak iya berjihad atau perang atau memasang bom yang kebetulan dihuni banyak umat muslim? Jelas itu teroris dungu!

212 merupakan berkumpulnya umat muslim sebagian di Indonesia. Tidak ada unsur kekerasan, tempat bersih dari sampah (meskipun yang membersihkan dari elemen komunitas tertentu), dan bendera tauhid berkibar mesra di angkasa. Seharusnya semua yang terlibat, termasuk panitia reuni 212 bangga dengan acara minggu kemarin. Meskipun tidak dihadiri Habib Rizieq Shihab sebagai ulama sejuta umat. Apalagi ada janji – demi Allah – bahwa kegiatan tersebut tidak disusupi kampanye atau acara politik! Kan luar biasa, zikir dan selawat dari subuh sampai zuhur. Muslim mana yang tidak bangga coba?!

Tapi kan kemarin ada salah satu capres yang memberikan sambutan? Kemudian turun dielu-elukan? Ah, itu kan biasa. Coba kalau capres satunya diundang, mungkin juga akan diperlakukan sama. Mungkin. Iya mungkin! Anggap saja itu bukan salah satu motif politik. Kasian panitia yang sudah “demi Allah”. Allah itu kan tidak suka di-PHP.

Sekarang mulai masuk materi yang kebutulan bersinggungan dengan duta besar Arab Saudi, Mr. Osamah Asaubi. Berikut arti cuitan mesra dari baginda Osama :

Jutaan Umat Muslim berkumpul dalam rangka menentang terhadap pembakaran bendera tauhid oleh salah satu ormas yang MENYIMPANG, sekitar sebulan yg lalu. Acara dihadiri Gub DKI Anies, Capres Prabowo, dan hadir pula wakil ketua DPR  Fadli Zon. Peserta acara ini meluber sekitar Monas.

Kalau ana tidak mempermasalahkan tweet ente yang berkaitan dengan campur tangan urusan politik. Itu ormas menyimpang menurut ente itu siapa wahai baginda Osamah yang ana cintai? Antum dari tanah Arab yang banyak dicap sebagai percontohan umat – mengingat kanjeng Nabi lahir di tanah Arab – tapi perilaku antum ini kok gitu? Ah, antum pasti belum masuk grup Seniman NU!

Demi cintaku yang senantiasa berkembang untukmu kakang Osamah! Tolonglah minta maaf, klarifikasi! Jangan berprasangka buruk gitu. Kalau menurut kakanda itu ormas menyimpang, mbok ya diingatkan supaya tidak menyimpang! Kalau perlu ada diskusi terbuka dengan ormas yang dituduh kemudian disiarkan seluruh televisi nasional dan internasional soal apa yang dituduhkan menyimpang.

Terakhir, pesan untuk adek-adek kaum islam kagetan dan gumunan. Tolong belajar sejarah dulu dek sebelum memfanatikkan diri terhadap kerajaan super power Arab Saudi. Jangan terus dianggap kalau saya tidak setuju dengan kakanda Osamah, terus adek tuduh saya sebagai anti-islam. Masak islam itu Arab? Masak Arab itu islam? Masak Arab itu biar mateng?

Antum mau wahabi, suni, syiah, NU, HTI, muhammadiyah, FPI, Seniman NU, terserah. Yang penting bisa saling menghargai. Saling cinta. Kemudian kita nikah. Punya anak-cucu yang unyu-unyu. Kemudian kita jadikan anak-cucu kita duta besar di akhirat! Amin….


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments