Categories: opiniSimponi

Sungkeman

Share

Sungkem mempunyai arti sujud atau tanda bakti dan hormat. Sedangkan sungkeman yaitu salah satu bentuk permintaan maaf yang mendalam dengan cara bersujud atau bersimpuh terhadap orang yang lebih tua atau yang dihormati. Biasanya dalam tradisi Jawa, sungkeman dilakukan saat pernikahan dan lebaran.

Sejarah awal sungkeman berasal dari keraton Solo yang dipelopori oleh Sultan Mangkunegaran I yang dilakukan secara sakral oleh abdi dalem. Seiring berjalannya waktu masyarakat melestarikan tradisi sungkeman secara turun-menurun untuk menunjukan ketakziman kepada orang yang lebih tua.

Baca Juga : Muslim, Pribumi tapi Bukan Warga Negara

Ungkapan atau ucapan meminta maaf atau “nyuwun ngapura” berasal dari bahasa Arab, ghafura. Kemudian para alim ulama ingin mewujudkan tujuan puasa dengan mengarapkan ampunan atas segala dosa atau kesalahan kepada Allah dan sesama.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imron : 134)

Sungkeman memiliki makna filosofi Jawa yang sangat tinggi. Beberapa di antaranya adalah proses penyadaran diri. Mengingatkan betapa mulianya kedudukan orang tua di hadapan kita. Penyadaran akan kehadiran kita yang tidak bisa dilepaskan dari usaha orang tua melahirkan kita, mengasuh, membimbing dan mendoakan kita sampai sekarang ini. Orang yang tiada lelah untuk membahagiakan kita, meski kita sering berbuat sebalikannya kepada mereka.

Selain itu, sungkeman juga sebagai wujud ungkapan terima kasih yang begitu agung kepada orang tua. Kemudian juga menjadi sarana untuk berlatih merendahkan diri di hadapan orang lain, khususnya kepada yang lebih tua atau terhormat. Secara tidak langsung sungkeman memberi pelajaran kepada manusia untuk bisa menahan ego dari dalam dirinya sendiri.

Paling utama dalam tradisi sungkeman adalah bagaiaman seseorang bisa menyadari kesalahannya dan menyesali segala perbuatan yang bisa menyakiti orang lain, terutama orang tua masing-masing.

Biasanya dalam prosesi sungkeman orang yang lebih tua duduk di kursi atau tempat yang lebih tinggi, kemudian orang yang melakukan sungkem menundukan kepala dan mencium tangan orang yang lebih tua dengan mengucapkan beberapa kalimat permintaan maaf. Setelah itu biasanya orang yang lebih tua membalas permintaan maaf dan mendoakan untuk keselamatan dan kebahagiaan orang yang meminta maaf.

Dilihat dari aspek hukum Islam, tradisi sungkeman tidak melanggar atau bertentangan dengan syariat. Posisi dalam sungkeman tidak melanggar syariat karena hanya sebuah ekspresi memuliakan orang yang lebih tua- bentu takzim. Berbeda halnya jika dilakukan seperti aktivitas gerakan sujud atau rukuk seperti salat.

Sedangkan ekspresi mencium tangan orang yang lebih tua ada beberapa perbedaan tafsir di antara para madzab. Seperti dalam tafsir Al-Imam al-Nawawi mengatakan:

“Tidak makruh mencium tangan karena kezuhudan, keilmuan dan faktor usia yang lebih tua.” (al-Imam al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 10, halaman 233)

Baca Juga : Muslim yang Satu dengan yang Lain adalah Cermin

Kemudian juga tanggapan dari Al-Imam al-Ghazali mengatakan:

“Beretika yang baik dengan manusia adalah engkau tidak menuntut mereka sesuai kehendakmu, namun hendaknya engkau menyesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.” (Imam al-Ghazali, Ayyuhal Walad, halaman 12).

Sungkeman merupakan tradisi turun temurun yang hendaknya dilestarikan oleh kawula muda untuk senantiasa merasa rendah diri di hadapan yang lain. Meskipun saat ini banyak yang sudah melupakan tradisi ini di beberapa daerah.

Menyambut hari raya lebaran, penulis mengucapkan mohon maaf lahir dan batin atas segala bentuk ucapan dan perbuatan yang sekiranya menyinggung, menyakiti, dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Semoga dalam hari yang penuh fitrah ini, kita kembali menjadi insan yang bersih dari segala dosa dan kesalahan, kemudian diterima segala amal ibadah seperti halnya keberkahan di bulan Ramadan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU