Categories: opiniSimponi

Sudahkah Kita Beragama?

Share

Mengulas matari mendasar sebelum terlalu ribet mengenai perbedaan pandangan berdasaran rujukan ulama atau golongan tertentu. Agama, yang beberapa di antaranya memperjuangakan mati-matian demi persembahan kepada Tuhan. Agama, yang dikibarkan sebagai simbol kedigdayaan dan keberanian. Agama, sebuah keyakinan yang melekat dan menjadi bagian konsep pribadi manusia.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/ perintah dari kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Agama serupa aturan-aturan atau hukum alam yang mengikat bumi dan langit sehingga berada dalam satu keteraturan memberi manfaat sebesar-besarnya kepada manusia dan makhluk hidup lainnya. Nah, Agama sendiri diambil dari bahasa sansekerta. A- yang berarti tidak, -Gama yang artinya kacau/ merusak. Jadi sederhananya, bagi siapapun yang tidak merusak dirinya, orang lain, dan lingkungan – berarti dia beragama.

Baca Juga: Agama Kemanusiaan

Kedinamisan Hukum Syariat

Lebih jelasnya, jika minum arak dianggap tidak merusak badan, maka dia juga sudah beragama berdasarkan keyakinan yang dianutnya. Pun sebaliknya, bagi seorang muslim yang menganggap arak, daging babi, dan anjing itu bisa merusak badan atau diri. Jika dikonsumsi, maka dia tidak beragama. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang syubhat? Misalkan saja rokok. Bagi yang menganggap bahwa rokok merusak kesehatan – merokok adalah perbuatan yang dilarang dalam agama.

Kemudian terhadap sesama. Beragama sering diekspresikan dalam ucapan dan tindakan yang dilakukan kepada sesamanya. Bagaimana cara berkomunikasi, menjadi teladan, dan cinta kasih lainnya yang diekspresikan dengan berbagai hal. Sehingga konsep agama mengajarkan bagaimana kita berlaku yang tidak merusak hubungan dengan sesama. Entah dalam wujud kebencian, ghibah, memutus tali silaturahmi, perdebatan, dan mungkin peperangan. Jadi sudahkah kita ber-“agama”?

Lebih besar lagi adalah, beragama kepada semesta. Agama yang melarang merusak lingkungan – termasuk membuang sampah sembarangan, membuat polusi, vandalisme alam, hingga mungkin pembakaran hutan yang bertujuan untuk memperkaya diri. Sesederhana itu sebenarnya memahami agama dari muasal kata. Tidak perlu kita jauh mengklaim paling beragama, jika kepada sesama dan lingkungan saja jauh dari nilai-nilai agama.

Agama Identitas

Sebelum agama menjadi identitas yang diturunkan oleh para nabi. Sejatinya ada nurani dalam diri manusia tentang konsep beragama. Entah Hindu, Budha, Islam, Nasrani, Yahudi, semua mempunyai konsep masing-masing yang muaranya adalah cinta, kebaikan yang “tidak merusak”. Mungkin cara dan bentuknya masing-masing, berdasarkan tafsir umat yang meyakinnya. Tapi faktanya adalah mereka juga beragama, meskipun “beberapa” orang menganggap musuh karena tidak sesuai agama atau keyakinannya.

Untung agama tidak mengajarkan kekerasan. Termasuk Islam yang dicontohkan Nabi Muhammad secara lemah lembut dan penuh kasih sayang. Sehingga Islam terlihat menarik dengan segala cobaannya. Tidak marah, meskipun diludahi. Tidak membalas, meskipun dilempari kotoran. Selalu tersenyum, meskipun sering difitnah. Sudahkan kita ber-“agama”?

Nabi Muhammad memang menjadi pribadi yang sudah jelas beragama. Sedangkan kita umatnya akan berusaha mengikutinya. Meneladani dari setiap tindakan, ucapan, hingga prasangka Nabi kepada siapapun dan apapun. Islam tidak bisa dilepaskan dari ajaran yang kaffah. Jika ada beberapa pandangan yang terlihat seperti Islam, namun perilaku, perkataan, dan prasangkanya jauh dari sifat dan sikap Nabi Muhammad, maka perlu kita analisa dalam diri masing-masing.

Seperti dawuh Gus Dur, bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Karena Dia sudah Maha Segalanya. Kitalah yang mestinya dibela. Beragama saja masih belum kaffah kok sok-sokan membela agama – membela Tuhan?!

Mari kembali introspeki di dalam diri. Agama hadir karena cinta, setelahnya memuat aturan-aturan bagi penganutnya. Jangan lantas kita dengan mudah beranggapan paling kuasa dalam beragama, sehingga jika melihat orang lain di luar lingkaran aturan agama, dengan mudahnya kita tuduh tidak beragama. Mending kita tuduh diri kita masing-masing, bahwa sejatinya kita jauh berperilaku dari nilai-nilai agama.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: agamaCinta