Categories: AransemenKajian

Sifat Allah dalam Surat Al Fatihah

Share

Sifat Allah dalam Surat Al Fatihah. Ada beragam cara digunakan untuk meminta sesuatu kepada seseorang. Seperti seorang anak kecil yang meminta dibelikan mainan kepada orang tuanya. Ada anak kecil yang harus merengek terlebih dahulu agar orang tuanya luluh dan membelikannya mainan. Ada juga yang tidak perlu menggunakan rengekan, hanya dengan memuji-muji atau merayu orang tuanya untuk dibelikan terkadang juga cara yang ampuh agar permintaannya dikabulkan.

Anak yang seperti ini, biasanya, hubungan dengan orang tuanya “baik-baik” saja. Maksudnya adalah anak yang tidak perlu merengek sebelum meminta sesuatu kepada orang tuanya itu adalah bentuk keberhasilan dari pendidikan yang diajarkan orang tua kepada anak. Sedari kecil sudah ditanamkan kepada anak bagaimana cara-cara yang baik dan bijak untuk meminta sesuatu.

Saya merenungi peristiwa di atas dan menemukannya pada surat pembuka dalam Alquran; Al Fatihah. Menurut perenungan dan pemaknaan saya, surat Al Fatihah ini didesain begitu rupa oleh Allah SWT agar para hamba-Nya senantiasa memuji kepada-Nya. Tetapi tidak hanya itu, Allah juga mendesain surat ini untuk mengajarkan kepada hamba-Nya bagaimana cara yang baik yang perlu dilakukan sebelum meminta.

Hal ini dapat dilihat dari struktur ayat yang terbentuk. Ayat pertama sampai ayat kelima surat Al Fatihah berisi pujian-pujian kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Segalanya. Namun, anehnya dalam ayat keenam dan ketujuh tidak ditemukan unsur pujian di dalamnya. Ayat keenam dan ketujuh malah berisi permintaan. Ini adalah pesan tersirat yang Allah berikan dalam surat ini. Bagaimana tidak? Jadi seperti ini, jika ada seseorang sedang membaca surat Al Fatihah, secara otomatis orang tersebut memuji-muji Allah terlebih dahulu baru melayangkan permintaan.

Sebenarnya, Allah adalah Tuhan yang senang dirayu oleh hambanya. Pujian yang terdapat dalam surat Al Fatihah ini juga merupakan bentuk rayuan yang telah dibuat oleh Allah sendiri untuk hambanya agar digunakan sebelum melakukan permintaan. Seperti Abu Nawas, orang yang sangat lucu namun juga cerdas ini juga pernah berdoa yang menurut saya adalah bentuk kedekatannya dengan Allah melalui rayuan. Abu Nawas berkata kepada Allah, Ya Allah, aku ini tidak pantas jika masuk surga tetapi aku juga tidak akan kuat jika Engaku masukkan ke neraka. Rayuan yang cerdas bukan? Merasa tidak pantas jika di surga, tapi ya tidak kuat jika di neraka.

Baca Juga: Tafsir Al Fatihah (Ayat 1)

Jika semua arti dari ayat pertama sampai kelima dalam surat Al Fatihah digabungkan kiranya seperti ini, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya untuk-Mu Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon. Itulah yang saya maksud, semua berisi pujian, semua artinya memuji Allah SWT.

Dan jika semua arti dari ayat keenam dan ketujuah digabungkan menjadi seperti ini, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat. Dua ayat inilah yang berisi permintaan. Meminta agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu yang selalu diberikan nikmat oleh Allah SWT.

Arti dari semua ayat tersebut jika digabungkan dan disuarakan seperti berbicara kepada Allah akan menjadi tampak lagi perpindahan unsurnya. Dari pujian menuju permintaan. Kali ini akan saya gabungkan seperti berbicara kepada Allah namun tidak terlepas dari makna sesungguhnya.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji hanya untukmu, Ya Allah, Tuhanku yang memiliki seluruh alam semesta ini. Engkau Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang. Engkau yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkau, Ya Allah, aku menyembahmu. Dan hanya kepada Engkau, Ya Allah, aku memohon pertolongan. Kiranya begini, Ya Allah, Tolong tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan yang seperti orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan Ya Allah, bukan seperti jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan juga seperti jalan orang-orang yang sesat.

Perpindahan unsur pujian menjadi permintaan saya perjelas pada kalimat “kiranya begini, Ya Allah..”

Seperti pada awal pembukaan tulisan ini, anak yang meminta tanpa merengek terlebih dahulu dan langsung melakukan puji-pujian atau rayuan. Biasanya hubungannya dengan orang tua “baik-baik” saja. Seharusnya hal tersebut juga kita lakukan sebagaimana menjalin hubungan kita kepada Allah SWT, tanpa merengek, langsung memuji dan merayu sebagai bentuk kedekatan dan kasih sayang.

Demikian sifat Allah dalam surat Al fatihah. Semoga hubungan kita dengan Allah seperti anak kecil yang tanpa merengek: “baik-baik” saja.


Faridz Ridha Syahputra Agus – Seni tablig Seniman NU