Categories: opiniSimponi

Sertifikasi Ustaz

Share

Akhirnya kemarin saya bertemu dengan seorang ustaz, meskipun ia selalu menolak disebut demikian. Sejak lulus SMA hingga usia sekitar 30-an, dia berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mondok (baca: ngaji di pondok pesantren). Iseng-iseng saya menanyai banyak hal seputar kajian keagamaan di pondok pesantren hingga pertanyaan yang selalu menggerayangi pikiran dangkal saya sebagai manusia awam yang belajar agama, tentang sertifikasi ustaz.

Baca Juga : Belajar Mencintai Ustaz Medsos

Apa yang menjadi faktor sesorang menyandang gelar ustaz?

Berbeda dengan sekolah formal yang jika ditempuh sampai usai seseorang bisa mendapatkan gelar, entah sarjana atau doktor atau bahkan profesor. Lhah ustaz?

Sedangkan fenomena sekarang, banyak sudah yang menggunakan gelar tersebut yang saya tidak tahu bagaimana proses mendapatkannya. Sampai kadang prasangka jahil menggerutu, “Ah, paling dia hanya berpakaian Islami biar pantas disebut ustaz.”

Kegelisahan semakin bertambah ketika dalam beberapa pernyataannya jauh dari keilmuan agama, baik dari segi akhlak maupun kajian ilmiah. Malah terkesan menuruti ego dan nafsu ingin menyadang gelar ustaz, diundang ke mana-mana, dan mempunyai banyak jamaah. Friksi atau perdebatan di antara umat pun terjadi. Selain mempunyai kendaraan berdakwah, juga didukung dengan atmosfir muslim “masa bodoh” yang malas belajar.

Kembali pada pertanyaan awal. Akhirnya saya bertanya kepada ulama muda tadi. Respon pertama hanya tersenyum tipis ketika saya menjelaskan fenomena ustaz-ustazan jaman sekarang. Kemudian dia menjelaskan tentang ilmu dasar seseorang dikatakan faham agama yang kemudian menjadi rujukan pelajaran di pondok pesantren. Ilmu Nahwu Shorof.

Proses Menjadi Ustaz

Paling mendasar dari ilmu Nahwu dan menjadi pedoman dalam mengajar kitab kuning adalah Kitab Jurumiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami. Belajar kitab dasar ini membutuhkan minimal 6 bulan belajar di pondok pesantren. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi yang bisa dipelajari 1 atau 2 tahun. Setelah itu adalah kitab Mutamimah dengan durasi belajar sama seperti Imrithi. Paling tinggi adalah Alfiyah yang bisa dikaji 2 sampai 3 tahun.

Nah, hanya belajar ilmu Nahwu saja membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun. Itu belum Shorof-nya, Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Sekali lagi ini hanya jika seseorang fokus belajar bidang Nahwu Shorof. Sedangkan di pondok pesantren banyak kajian keilmuan seputar agama, mulai dari Kitab Aqidatul Awam yang membahas seputar akidah, Kitab Ta’limul Muta’alim yang mempelajari seputar akhlak dan ilmu, Kitab Arba’in Nawawi sebagai induk hadis, Kitab Mushtholah Al-hadits mengenai seluk beluk ilmu hadis, Kitab At-Taqrib yang merupakan salah satu jenis kitab ushul fikih, dan masih banyak lagi kajian kitab dari segala bidang.

Tak heran banyak lulusan pesantren berpuluh-puluh tahun baru diberi amanah untuk menjadi pendakwah di masyarakat dengan mengajar di langgar atau di pondok pesantren. Karena kayanya ilmu agama untuk dikaji dan dipelajari dengan tekun dan istikamah.

Baca Juga : Pendengar yang Baik

Kemudian dia menjelaskan bahwa gelar ustaz atau kiai atau ulama adalah karena kesepakatan masyarakat, bukan klaim personal. Misalkan masyarakat meyakini tingkat keilmuan dan akhlak seseorang untuk pantas disebut ustaz. Poin kedua adalah yang utama -akhlak-, karena kondisi sekarang banyak manusia yang memanipulasi keilmuan melalui internet atau media sosial.

Manipulasi Gelar

Kita pun bisa mengaku menjadi ustaz dengan membuat konten kajian keilmuan di media sosial. Berpakaian islami dan bicara beberapa dalil yang dihafalkan sebelum pengambilan video. Keterjangkauan era digital informasi membuat semua bisa melakukan apapun untuk mendapatkan “sertifikasi ustaz”. Ditambah dengan mudahnya kita mengganti akun di media sosial dengan menambahkan kata “Ustaz”.

Selain maraknya ustaz bertebaran di lingkungan masyarakat, ada juga istilah kekinian seperti penyebutan “ustaz sunah”. Seolah menjadi platform kajian yang bersifat sunah dan berasaskan Alquran dan hadis. Sedangkan mereka yang masih santri atau lulusan pondok pesantren juga berpedoman Alquran dan hadis. Bahkan banyak cerita kalau ustaz tersebut sering diajak diskusi ilmiah sering mengelak dengan petuah, “Islam dilarang berdebat dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah,”

Geramnya petuah tersebut tidak sesuai kenyataan di lapangan. Sikap sinis dan menyalahkan sesama muslim kerap terjadi. Seolah mengajarkan kebenaran, namun ketika kebenaran tersebut dipertanyakan, sang ustaz selalu mengalihkan pembicaraan. Gelar ustaz pun semakin dipertanyakan. Sejak kapan dia menyandang gelar ustaz? Apa yang dimiliki sehingga bisa disebut ustaz? Bagaimana dia bisa mendapatkan gelar ustaz, meskipun itu hanya nama sebuah akun di media sosial?

Apakah ketika seseorang kuliah di luar negeri langsung mendapat gelar tersebut tanpa syarat? Sedangkan menurut beberapa ahli atau ulama tasawuf tentang betapa beratnya menyandang gelar ulama. Selain harus cakap menguasai ilmu agama, dia juga harus bisa menjadi teladan, seperti Nabi Muhammad Saw. Semoga gelar ustaz memang didapat karena kepantasannya, bukan karena ada yang menjual sertifikasi untuk menjadi ustaz.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU