Categories: AransemenKajian

Seni dalam Agama

Share

Kenapa ada agama? Fikih itu jalan, tasawuf itu penghayatannya. Islam ada untuk mengatur hubungan moralitas, etika. Tujuannya adalah untuk menimbulkan rasa tentram, nyaman, dan tertib. Sedangkan untuk mewujudkan etika, muaranya adalah rasa. Kalau bicara rasa, tentang indah, nyaman, dan sebagainya, maka kita sudah membicarakan estetika dan keindahan. Berikut penjelasan seni dalam agama.

Dalam beragama, kendaraannya adalah syariah dan tujuannya adalah estetika. Pengejawantahan keindahan itu dengan seni. Agama adalah kebenaran yang bertujuan untuk menciptakan kebaikan kepada pemeluknya dan muaranya adalah keindahan. Kebenaran tanpa kebaikan akan kehilangan pijakan. Sedangkan kebaikan tanpa keindahan akan jadi formalitas, tanpa rasa. Makanya Islam yang kaffah itu harus memuat 3 unsur – Islam, Iman, dan Ihsan.

Estetika dalam beragama adalah sikap ketauhidan. Dalam pembagiannya, estetika dalam pandangan tauhid dibagi menjadi 5, yakni :

1. Implikasi Doktrinal

Hidup kita harus bertauhid. Memahami bahwa dalam hidup hanya ada khaliq dan makhluk. Untuk itu dalam implikasi doktrinal tidak boleh ada perilaku meninggi (sombong). Karena jika kita merasa lebih dari yang lain, kita bisa mengambil hak khaliq. Satu-satunya khaliq yaitu Allah Swt, selebihnya adalah makhluk, dan mereka sejajar.

2. Implikasi Ritual

Ada hak khusus dari Allah Swt. kepada hamba-Nya ketika sudah mendeklarasikan syahadat. Misalkan meminta waktu 5 kali sehari untuk salat, puasa di bulan ramadhan, zakat dan haji bila mampu, dan lain sebagainya. Jika hanya mengucapkan tauhid tapi tidak menjalankan ritual peribadatan, maka sama halnya dengan omong kosong.

3. Implikasi Intelektual

Mengetahui Allah, Rasulullah, seluk beluk Islam dan sebagainya. Makanya orang pandai lebih bertauhid daripada yang tidak. Ketika manusia mengerti ilmunya, maka kualitas tauhidnya lebih tinggi. Karena mereka yang pintar tidak akan tergantung apapun selain Allah Swt.

4. Implikasi Sosial

Tanggungjawab sosial manusia sebagai khalifah. Belum sah ketauhidan seseorang jika masih menyakiti orang lain, menghina sesama, memutus silaturahmi, dan menghancurkan alam. Etika dalam implikasi sosial membentuk manusia menjadi lebih baik dan diterima dalam masyarakat. Sehingga manusia tidak berdiri sendiri, karena ikatan dan hubungan satu sama lain.

5. Implikasi Estetik

Estetika adalah penyempurnaan dalam beragama. Misal salat bagi laki-laki yang diwajibkan hanya menutup aurat dari pusar sampai lutut, namun jika itu dilakukan tidak terlihat estetik atau indah. Maka mereka menggunakan penutup aurat seperti sarung, baju koko, peci, dan lainnya. Begitupun bagi wanita ketika berpakaian bisa menggunakan busana yang bisa terlihat indah untuk menunjang kesempurnaan dalam beragama.

Maka Sufi sering disebut dalam wilayah estetik daripada wilayah akidah atau intelektual. Karena dia tidak cukup hanya salat 5 waktu, puasa ramadan, dan kewajiban lainnya. Dia menambah ritual ibadah wirid, zikir, puasa sunah, tirakat, dan lainnya. Demikian estetika disebut sebagai penyempurna agama.

Baca Juga: Membeda Konsep Seniman NU – Hakikat Seni

Klasifikasi Seni dalam Agama

1. Seni Sakral

Berhubungan dengan praktek utama dalam beragama. Contohnya, khataman, selawatan, kaligrafi, nasyid, tilawah, dan lain sebagainya. Jadi dalam hal ritual peribadatan, mustahil agama dilepaskan dalam seni. Banyak variabel kesenian yang kita temui dalam beragama. Agama tanpa seni tidak akan nyaman dan enak untuk disaksikan dan dilakukan.

2. Seni Profan

Seni yang tidak menggerakan manusia kepada Allah Swt. Jenis ini juga banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Berkesenian yang malah membawa manusia melupakan Allah Swt dan mengarah kepada kemaksiatan, misalnya.

3. Seni Tradisional/ Religus

Tidak ada hubungan dengan ritual beragama. Seni tradisional banyak menggunakan seni terapan untuk menggiring orang menuju religiutas. Misalkan gamelan yang membawa seseorang mengingat Allah, musik yang lambat laun akan membuat manusia merenung kemudian menjadi baik, puisi yang membuat kepekaan manusia untuk lebih mendekat kepada ketauhidan, dan masih banyak lagi. Seni tradisional sebenarnya merupakan bagian dari seni profan, tapi bisa membawa manusia kepada kebaikan atau ketauhidan.

Level Keindahan menurut Imam Ghazali

Keindahan Inderawi

Keindahan fisik yang hanya bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telingan, dan segala hal yang bisa diketahui melalui indera manusia.

Keindahan Imajinatif dan Emitif

Lebih dalam dari keindahan inderawi, karena lebih mengandalkan rasa atau perasaan dalam mengalami jiwa seni.

Keindahan Rasional

Keindahan ilmu dan pengetahuan. Dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Keindahan Ruhaniah

Penjelasannya lebih rumit. Seperti kenikmatan ketika kita sowan Kiai atau Habaib. Melihat keindahan para salafu shaleh, para alim ulama, dan lain sebagainya.

Keindahan Illahiyah

Level paling tinggi dalam berseni dalam agama. Biasanya hanya dialami oleh para sufi atau wali. Tiada hal yang dilihat selain keindahan dari Allah Swt.

Dalam pemahaman yang lebih ringan, level keindahan Inderawi adalah sifat atau sikap yang gampang bosan akan sesuatu. Secantik apapun pasanganmu, jika masih dalam level inderawi, maka akan cepat merasa bosan. Seperti halnya ketika kita suka lagu tertentu, kemudian kita putar 10 kali lagu tersebut, maka akan bosan untuk mendengarkannya lagi. Maka sebelum menikah, naikkan level keindahan dahulu, sebelum nanti kecewa dan menyesal karena salah memilih pasangan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU