Categories: AransemenKajian

Sembah Ragawi

Share

Sembah ragawi merupakan fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan beragama. Ketika kita mengenal konsep keagamaan yang lebih jauh, maka akan menemukan beberapa keganjilan dalam laku syariat agama. Padahal senjata dalam hidup ini tidak cukup menggunakan panca indera dan akal. Hidup itu dinamis. Panca indera tidak bisa dijadikan pedoman, karena suatu saat akan lebur menjadi tanah, membusuk, hancur, dan najis. Semua ada batas.

Begitu juga dengan akal. Budi, pikiran, angan, cita-cita, kesadaran, ataupun imajinasi juga tidak bisa dijadikan pedoman hidup. Akal bisa menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan seringkali tidak jujur. Akal juga yang siang malam mengajak dengki dan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, dan akhirnya jatuh kepada lembah kenistaan. Sehingga menodai nama dan citranya sendiri. Kalau sampai sejauh itu, maka manusia baru menyesali perbuatannya.

Padahal dalam beragama bukan hanya seputar panca indera dan akal, masih ada bagian dari dalam diri manusia yang lebih utama, yakni : Nurani. Hal demikian yang membuat kita susah membaca realitas kehidupan. Batin kita gelap, karena sandarannya hanya pada panca indera dan akal yang orientasinya ke materi.

Saat ini masih banyak di antara kita yang beragama hanya lantaran menjalankan amalan syariat. Orang disebut baik kalau aktivitas syariat agamanya baik. Pergi ke masjid salat jamaah, tidak bersalaman karena bukan muhrim, berpakaian islami, dan lain sebagainya. Sembah ragawi, diukur dari apa yang dilihatnya. Sedangkan masih banyak tugas manusia yang harusnya dilakukan untuk mencapai tataran kemuliaan yang sejati.

Manusia dalam beragama banyak dipengaruhi oleh dogma-dogma, ketakutan neraka, dan bujuk rayu surga. Hal tersebut justru membelenggu raga, akal budi, dan jiwa manusia. Sehingga gagal menemukan Tuhannya. Sibuk mencari halal-haram, aspek lahirnya saja. Segala hal ditanyakan fatwanya apa, dalilnya mana, dasarnya apa. Tidak salah, tapi masak agamanya hanya berhenti di surga, neraka, dan ayat?!

Sehingga agama hanya terkesan sebagai alat, bukan tujuan. Kehilangan esensi mencari Tuhan karena sebab terlalu melakukan sembah ragawi. Kita kerap mengambil otorisasi Allah, seperti menghakimi, menghukumi, merusak, memerintah, dan segalanya. Secara tidak sadar kita turut mendahului jatah atau urusan Allah. Itu karena Allah tidak masuk dalam semesta urasan agama kita, tidak masuk dalam pertimbangan keputusan kita, sedangkan yang kita cari hanya dalil dan ayat.

Baca Juga: Phobia Tuhan

Taqdis al-afkar al-diniyyah

Sakralisasi pemikiran keagamaan. Yang kita sakralkan bukan agamanya, tapi pikiran kita terhadap agama, yang kita sucikan bukan Alqurannya, tapi tafsir kita terhadap Alquran. Padahal semuanya bisa memungkinkan untuk benar dan salah. Buktinya adalah kita selalu merasa tafsir kita pasti benar, tidak mungkin keliru. Pemahaman kita yang paling benar. Jadi kita mensakralkan pikiran dan diri kita sendiri. Padahal agama seharusnya mensucikan batin, sehingga tidak terlalu bergantung kepada akal dan panca indera.

Syariat itu hanya terminal awal yang harus dilalui. Para wali melakukan segala hal yang dirasa bisa mendekatkan diri dengan Allah, bisa membuat senang Allah. Sehingga tidak sempat mengagungkan panca indera dan akal hanya untuk keperluan menilai orang lain.

Manusia itu kalau diperintah selalu merasa berat, tapi menjadi bersemangat kalau diimingi-imingi hadiah atau bonus (surga). Sehingga ibadah merasa menjadi beban, bukan kegembiraan atau kenikmatan. Sesuatu yang dilakukan karena sebab keterpaksaan tidak akan pernah bisa mendapatkan nilai.

Kedurjanaan budi, penipuan sesama manusia. Segala bentuk amalan syariat yang tidak diorientasikan kepada kenikmatan beribadah kepada Allah. Tidak ada bentuk pamer, sombong, dan riya ketika melakukan ibadah. Melepaskan diri dari nafsu ingin dilihat menjadi wali, ustaz, atau kiai. Semua manusia sama, mengalami suka-duka, bahagia-nestapa, dan lain sebagainya.

Tidak perlu merasa lebih alim, lebih pintar, dan lebih mulia. Semua tidak berlaku dihadapan Allah. Manuisa tidak perlu memalsukan diri dengan pakaian agama. Manusia lain bisa tertipu, tapi Allah akan melihat dan mengetahui segala bentuk tipu daya manusia yang berniat untuk pamer agama kepada yang lain.

Diambil dari ceramah Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU