Categories: opiniSimponi

Sejarah Jilbab Nusantara

Share

Tentang sebuah artikel sejarah jilbab Nusantara. Pernah enggak sih kalian merasakan perubahan masif wanita Indonesia?

Yak, JILBAB!

Bagi generasai 90-an macam aku ini, tren jilbab tentu sangat mengherankan. Bagaimana dulu sekelas hanya 1 atau 2 yang berjilbab, sedangkan sekarang hanya 1 atau 2 yang tidak berjilbab. Kapal oleng kapten! Bisa berbalik 180 derajat begitu?!

Memang harus diakui bahwasanya masyarakat Indonesia itu gagap kondisi. Gampang marah-marah, gampang membuat viral sesuatu yang sebenarnya biasa saja, gampang terpengaruh, dan gampang bertingkah gila agar diperhatikan banyak orang.

Apakah dengan perubahan yang begitu drastis di kalangan kaum hawa ini bisa disimpulkan level pemahaman Islam manusia jaman sekarang lebih mantul daripada wanita jaman dahulu (yang tidak berjilbab)?

Eits, belum tentu. Sejarah Jilbab – dulu memang jilbab hanya dikenal di kalanganan pesantren. Sehingga menjadi tabu kalau diekspose di depan umum. Kecuali mereka yang menjadi aktivis organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, dan lainnya.

Kalau ditarik jauh ke belakang, sebenarnya sejarah jilbab sudah diawali oleh permaisuri raja Samudera Pasai dan kerajaan Aceh, juga mereka yang menjadi pejuang-pejuang wanita di Minangkabau. Mereka melakukan kampanye berjilbab sebagai kewajiban seorang perempuan ke berbagai daerah, meski hasilnya tidak semeriah sekarang. Minimal ada kesadaran bagi muslimah untuk menutup aurat ketika bersembahyang.

Pada tahun 1870-an mulai muncul tuh istilah mukena di daerah Sunda. Namun masih menjadi pakaian aneh di kalangan masyarakat saat mengenakan jilbab. Hingga masa perjuangan, wanita Nusantara masih tetap dengan pakaian adatnya. Kemudian banyak organisasi Islam yang “memaksa” anggotanya untuk berjilbab. Dimulai dari penggunaan tudung (kerudung), sehingga sebagian rambut masih tetap terlihat. Namun himbauan tersebut hanya eksklusif dalam organisasi saja. Masyarakat masih tetap tak menghiraukan akan pentingnya berjilbab bagi kaum hawa.

Puncak “anti-jilbab” marak saat orde baru. Polemik dimulai dari SK Dirjen Dikdasmen No.052 tahun 1982 yang mengindikasikan pelarangan berjilbab bagi pelajar putri di SMA Negeri. Berjilbab hanya boleh dilakukan di sekolah swasta atau sekolah negeri yang memang mewajibkan seluruh pelajar putrinya berjilbab.

Awal tahun 1980-an memang merupakan periode konflik antara Islam dan Pemerintah. Kedua pihak saling berlawanan atau konflik antara Islam dan pemerintah. Kedua pihak kerap bersitegang. Politik Pemerintah Orde Baru yang represif terhadap umat Islam turut memperkeruh persoalan ini.

Kekhawatiran permerintah tentu ada dasarnya, seperti mencurigai wanita berjilbab dengan golongan teroris atau gerakan politik Islam yang mengancam pemerintah. Hingga akhirnya banyak tokoh yang memberontak dengan melancarkan aksi melawan pemerintah.

Baca Juga: Pakaian Kita

Seperti halnya Muhammad Ainun Najib yang berkeliling dari daerah satu ke daerah yang lain untuk mensyiarkan puisi Lautan Berjilbab yang kemudian juga dibuat naskah teater dan dipentaskan dari kampung ke kampung. Perlawanan yang tiada henti membuat pemerintah akhirnya mencabut kembali perarturan tentang pelarangan wanita muslim menggunakan jilbab.

Setelah itu mulai muncul public figure yang aktif mempertontonkan dirinya di layar kaca dengan jilbab. Perkembangan wanita berjilbab di Indonesia semakin meluas hingga ke pendidikan-pendidikan formal perkotaan. Setelah reformasi, dengan keterbukaan informasi dan kebebasan berekspresi, akhirnya lautan jilbab menjadi kenyataan di Nusantara.

Mulai dari balita hingga wanita paruh baya, semuanya akrab dengan jilbab. Kesadaran akan kewajiban menutup aurat bagi muslimah semakin melekat ketika teknologi dan informasi menunjang kesadaran dan pemahaman mengenai prinsip dalam beragama.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa Islam datang ke nusantara tak lantas memaksa wanitanya untuk berjilbab. Hingga akhirnya mudah diterima. Akulturasi budaya tersebut yang menjadi kunci, bahwa Islam datang penuh dengan cinta dan toleransi, bukan paksaan dan kekerasan. Demikian proses panjang hijrahnya wanita Nusantara. Semoga bisa saling menghargai prinsip-prinsip nilai, bahwa agama bukan hanya sebatas identitas.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU