Categories: opiniSimponi

Saya Hanya Cinta Pancasila, Bukan Paling!

Share

Mendadak ramai ketika ada usulan RUU HIP (Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila). Disimpulkan beberapa kalangan yakni tentang diringkasnya pancasila menjadi trisila, bahkan ekasila.

“RUU ini disusun dengan cara yang sembrono, kurang sensitif dengan pertarungan ideologi,” kata Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya PBNU Rumadi Ahmad sebagaimana dikutip dari Kompas.com

“Selain itu, Trisila juga hanya mencantumkan tiga nilai dan Ekasila hanya mencantumkan satu nilai gotong royong. Trisila dan Ekasila mengabaian nilai ketuhanan Yang Maha Esa dan nilai-nilai lainnya yang telah jelas disebutkaan di dalam Pembukaan UUD NRI 1945,” kata Syarief sebagaimana dikutip dari Antaranews.

Semuanya menentang dan juga gegap gempita menjadi muslim yang pancasilais. Kritik tajam juga dialamatkan kepada Nahdlatul Ulama, khususnya ansor-banser. Meskipun sikap PBNU menolak, tapi tidak disertai dengan gerakan yang “radikal” demi melindungi pancasila. Apalagi gerakan “saya pancaila” juga diinisiasi oleh NU yang kemudian menjadi bahan sindirian kalau NU itu yang paling pancasila, selainnya tidak.

Saat ide RUU-HIP muncul, banyak ormas dari berbagai kalangan menertawakan sikap NU yang tidak “segalak” ketika membubarkan HTI. Padahal jelas-jelas ada niatan untuk mengubah pancasila. Seolah menjadi bumerang.

Saya Hanya Cinta Pancasila

Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik. Semula cinta, bisa benci bukan kepalang. Sebaliknya yang semula benci, bisa cinta mati karenanya. Makanya menyikapi segala hal itu yang sedang-sedang saja.

Saya cinta Indonesia dan di dalamnya ada pancasila sebagai dasar negara serta NKRI sebagai bentuk keutuhan bangsa bernegara. Mungkin karena cintanya, kadang suka marah kalau ada niat atau usaha untuk membubarkan NKRI atau bahkan mengubah falsafah bangsa yang luhur sejak dulu kala.

Cinta itu perasaan yang sukar untuk dijelaskan. Mungkin rasa cinta saya terhadap NKRI berbeda satu dengan yang lain. Tapi bukankah cinta tidak bisa diukur kualitas dan kuantitasnya?

Baca Juga: Pancasila Sebagai Titik Temu

Dari dulu saya selalu mengajak untuk bergotong-royong (ber-ekasila) untuk sama-sama mencintai Indonesia. Menjaganya bersama-sama, hingga Ibu Pertiwi bangga melihat rakyatnya. Yang terjadi adalah sikap berlebihan untuk saling megolok satu sama lain. Saling pamer kecintaan.

Mungkin rasa cinta saya jauh lebih rendah dari kebanyakan orang. Karena sampai sejauh ini pun saya merasa belum melakukan apa-apa untuk Indonesia. Tidak melakukan apapun demi tegaknya pancasila. Saya masih belum bisa khusyuk berketuhanan yang maha esa, belum juga memanusiakan manusia secara adil dan beradab. Belum berpengaruh terhadap terciptanya persatuan Indonesia, apalagi bijaksana dalam mengambil keputusan musyawarah mufakat untuk bangsa. Saya bukan pula pemangku kebijakan yang bisa ikhtiar untuk mewujudkan mimpi negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sedangkan mungkin jauh di sana malah banyak orang yang sudah melakukan segala hal untuk Indonesia. Turut andil mewujudkan cita-cita Indoneisa yang adil, makmur dan sejahtera.

Sekali lagi, saya hanya cinta pancasila yang mungkin sampai sekarang belum begitu detail memahami poin-poin atau butir-butir yang terkandung dalam tiap sila. Saya hanya cinta pancasila seperti halnya semua orang yang melakukan segala hal untuk menjaga marwah kesakralan pancasila.

Semua orang punya hak cinta kepada pancasila. Harapannya, semoga tidak ada kemunafikan satu sama lain dan kita tunjukan kepada Ibu Pertiwi bahwa kita memang tidak sedang akting untuk cinta pancasila.

Pancasila bukan bonekamu bisa kau rayu-rayu. Kalau kau bosan pergi dan menghilang.

Pancasila itu adalah milik semua orang, semua golongan, suku, adat, budaya, dan agama. Bukan milik personal atau kelompok tertentu. Pada akhirnya, RUU-HIP menunjukan kepada kita semua, bahwa kita punya tujuan bersama. Menjaga kebhinekaan, menjaga kerukunan, menjaga keutuhan, dan terciptanya keadilan yang menjadi tujuan utama berpancasila.

Cinta saya kepada pancasila tentu tidak akan berpengaruh terhadap keharmonisan sosial bernergara. Namun dalam cinta saya, selalu terbesit untuk selalu konsisten menjaga pancasila. Jangan sampai diganti dengan ideologi atau sistem lain. Entah bersifat nasionalis ataupun agamis. Karena di dalam kesakralan pancasila, segala hal sudah ada di dalamnya. Pancasila adalah hasil konsensus para tokoh nasionalis, ulama, dan rakyat. Pancasila ibarat piagam madinahnya Indonesia.

Terimakasih yang sudah mencintai pancasila, semoga tidak ada pengkhianatan atas cinta yang terlanjur kita utarakan. Saya hanya cinta pancasila, seperti kalian juga mencintainya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU