Categories: SimponiWarganet

Sapi Hindu Menyelamatkan Keimanan Menjadikan Toleran

Share

Dalam sejarah peradaban Indonesia, sudah banyak diketahui bahwa Nusantara lebih dahulu di tempati oleh pemeluk Hindu-Budha. Sejak kedatangan orang-orang dari India. Kemudian membawa pengaruh baru bagi penduduk Nusantara dalam keyakinan Hindu-Budha sebelum Islam datang. Jauh sebelum semua itu, para penduduk Nusantara belum ada yang beragama. Hanya saja mereka menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme di antara kepercayaan-kepercayaan lainnya khususnya di pulau Jawa. Dan ketika Islam datang membawa kedamaian dan ketentraman. Dalam kehidupan bermasyarakat pun membawa dampak perubahan yang sangat baik hingga saat ini. Terutama dalam sikap toleran (menghargai perbedaan) antar penduduk yang berbeda-beda keyakinan maupun kehidupan secara individu. Seperti kisah sapi Hindu sebagai wujud toleransi di kota kudus.

Sedikit membahas tentang kepercayaan asli penduduk Nusantara , yakni Animisme dan Dinamisme adalah kepercayaan-keperyaaan orang Jawa. Sebelum datangnya agama Hindu-Budha maupun Islam. Meyakini tentang kesejatian diri hingga ketuhanan yang mereka anut.

Animisme

berasal dari kata anima, dari bahasa latin animus dan bahasa Yunani anepos, dalam bahasa sansakerta disebut prana. Dalam bahasa Ibrani disebut ruah, arti secara umumnya adalah ‘nafas’ atau ‘jiwa’.

Animisme merupakan ajaran (doktrin) tentang realitas jiwa. Keyakinan ini banyak dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu. Paham animisme ini mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu). Mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini. Juga dapat diartikan sebagai kepercayaan manusia pada roh leluhur. Meraka pun meyakini bahwa orang yang telah meninggal sebagai maha tinggi, yang dapat menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia. Kemudian berkembang menjadi penyembahan roh-roh.

Roh orang yang meninggal dianggap dan dipercayai sebagai makhluk kuat yang menentukan segala kehendak serta kemauannya harus dilayani. Dan juga dapat merasuk ke dalam benda-benda tertentu yang menyebabkan kasaktian atau kesakralan benda tersebut. Maka dari itu masyarakat animisme menyembah pada roh-roh tersebut supaya selamat dari mara bahaya.

Baca Juga: Gusdurian Klaten: Mengulik Makna Toleransi

Dinamisme

berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris ber-arti dynamic dan dalam bahasa Indonesia ber-arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisinya adalah sebuah kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

Dinamisme dalam Ensiklopedi umum memiliki definisi sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Yang disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya atau kekuatan, atau kesaktian yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api, batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri.

Kepercayaan ini lahir dari rasa kebergantungan manusia terhadap daya dan kekuatan lain yang berada di luar dirinya. Setiap manusia akan selalu butuh kepada zat lain yang dianggapnya mampu memberikan pertolongan dengan kekuatan yang dimilikinya. Manusia itu akan mencari zat lain yang akan ia sembah yang dengannya ia merasa tenang jika selalu berada disamping zat itu. (Melacak Jejak Syekh Subakir, M. Romadhon MK , hal. 32-33)

Kisah Toleransi Sapi

Dalam salah satu sejarah mencatat, bahwa satu ketika pernah terjadi, akan adanya penyembelihan hewan sapi sebagai hewan kurban pada hari raya Idul adha oleh santri/ murid Sunan Kudus. Ketika itu Islam sudah menyebar di beberapa wilayah di pulau Jawa. Yang dibawa oleh Wali Songo, namun Sunan Kudus melarangnya atau tidak memberikan izin. Sunan Kudus sangat tahu betul atas apa yang dilakukan oleh orang-orang Hindu pada saat itu. Mereka para penganut agama Hindu mempercayai dan mengagungkan hewan sapi ini. Dalam sejarah mereka, hewan sapi adalah jelmaan Dewa yang membawa kebaikan bagi mereka. Tak ayal alasan itu yang membuat Kanjeng Sunan melarang santri/ muridnya untuk menyembelih hewan sapi itu dan segera memerintahkan menggantinya dengan hewan yang lain. Karena sejak zaman para orang-orang saleh terdahulu sudah diajarkan Sami’an Wa Tha’atana manut-katut kepada perintah kiai. Santri/ muridnya Kanjeng Sunan pun langsung melaksanakan perintahnya.

Dengan apa yang diperintahkan oleh Kanjeng Sunan, ini dimaksudkan agar tidak menyakiti hati mereka orang-orang Hindu yang dikhawatirkan akan dapat memancing amarah dan peperangan antar umat Islam dan Hindu. Kala itu masih banyak pemeluk agama Hindu-Budha di sekitaran pesantren/ tempat belajar agama Islam yang diasuh oleh Kanjeng Sunan Kudus, serta menghormati terhadap kepercayaan orang-orang Hindu. Meski ada sedikit pertentangan dari kalangan santri/ murid beliau, sebelum Kanjeng Sunan menjelaskan apa maksud dan tujuannya melarang untuk menyembelih hewan sapi itu. Dan setelah dijelaskan oleh beliau mereka pun akhirnya mengerti dan menerima maksud dan tujuan Kanjeng Sunan.

Begitu arif (bijaksana) nya Kanjeng Sunan, tak ingin menyakiti hati orang-orang yang berbeda keimanan dengannya. Di sisi lain, Kanjeng Sunan ingin menyampaikan bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kedamaian, keramahtamahan, juga menghargai perbedaan satu sama lainnya. Dalam balutan Rahmatan Lil’alamin. Pada akhirnya banyak dari mereka orang-orang Hindu-Budha perlahan-lahan dan pasti berpindah agama masuk pada ajaran Kanjeng Sunan Kudus, yaitu Islam dengan penuh kasih sayang dan perdamaian.

Baca Juga: Toleransi Level Sudra

Penyebab Intoleransi

Indahnya sosok beliau yang mempercontohkan dengan mengedepankan akhlak budi pekerti yang luhur ketimbang ilmu, seperti halnya yang pernah dicontohkan oleh Rasulallah Saw. Lalu mengapa umat Islam zaman sekarang tidak menghargai perbedaan (Intoleran)?! Padahal Rasulullah saja Toleran atau sangat menghargai perbedaan. Seperti dejavu dalam got (irigasi air kotor) membersihkan kotoran/ penghalang yang menyumbat aliran air dengan menggunakan tangan tidak menggunakan alat bantu, bila melihat kejadian umat saat ini. Memiliki ilmu tapi tak memiliki adabnya atau tak mengedepankan adabnya dahulu baru ilmu. Terutama di Indonesia saat ini, yang mana penduduknya terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Dalam berbagai pandangan hal ini bisa terjadi karena beberapa hal, diantaranya.

  • Banyak orang yang berilmu tetapi tidak diamalkan, atau hanya dijadikan sebagai pusata saja dalam keilmuannya (pajangan).
  • Mereka berilmu tetapi tidak tahu sejarah Islam di Nusantara yang dulu dibawa oleh Wali Songo ketika abad14 M (dengan mengedepankan adab atau bersikap secara toleran).
  • Mereka tidak pernah mencontoh atau bahkan tidak bisa mencontoh suri tauladan Nabi Muhammad Syang membawa Islam Rahmatan Lil’alamin (dengan kasih sayang).

Sehingga terjadilah salah mengerti dalam kehidupan beragama itu sendiri, sebagaimana Rasulullah berjuang dulu dengan kasih sayang. Rahmatan Lil’alamin bagi banyak umat manusia di zaman itu. Meski berbeda dalam hal keyakinan tetapi tetap mendapatkan kasih sayangnya.

Jadi yang perlu diketahui adalah bahwa sikap toleran itu sangat baik sedangkan intoleran itu tidak baik. Agar antar umat beragama di Indonesia ini senantiasa saling rukun dan tidak dapat terpecah belah seperti negara-negara lainnya. Terutama umat Islam.


Kholili Ibrohim – Seniman NU Regional Banten