Categories: SimponiWarganet

Santri Di Tengah Arus Digital

Share

Santri secara umum dapat diartikan sebagai seseorang yang mencari ilmu –tholabul ‘ilmi- di pondok pesantren atau mereka yang secara serius mengaji ilmu-ilmu agama. Terlepas dari polemik tentang kata ‘santri’ yang berkaitan dengan ‘hari santri’. Dalam tulisan ini saya menggunakan definisi umum yang di atas.

Sebagai seorang santri pasti ingat betul tentang wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika menjalani uzlah di gua Hira yaitu -iqro’- bacalah. Sebuah perintah membaca dari Tuhan semesta alam kepada Sang Nabi dan seluruh ummat secara universal. Karena Islam diturunkan sebagai rahmat seluruh alam.

Dalam keyakinan kita alam tidak terwujud dengan sendirinya, melainkan diadakan oleh Dzat Yang Maha Ada. Alam juga menjadi hujjah Aqli adanya Dzat Yang Maha Ada, Allah jalla jalaaluhu.

Perintah membaca sebagai wahyu yang pertama kali diturunkan memunculkan sebuah pertanyaan. Ada apa sebenarnya dengan ‘membaca’? kenapa bukan syahadat, salat, puasa, zakat, atau haji?

Saat Nabi saw menginjak usia 40 tahun, beliau kerap mengasingkan diri -uzlah- bertafakkur dan merenungi keadaan masyarakat yang penuh dengan nilai-nilai kejahiliahan. Di sebuah gua yang bernama Hiro di kawasan Jabal Nur.

Saat dalam peyendirian itu, Nabi memikirkan, merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang termanifestasi di alam semesta yang begitu mengagumkan. Dalam perenungannya Nabi semakin menyadari bahwa begitu terpuruknya keadaan masyarakat, lebih-lebih kesyirikan yang merajalela, dan rendahnya nilai-nilai kemanusiaan.

Kesyirikan merupakan keyakinan yang mengangap Allah memiliki sekutu. Jika ada keyakinan atau anggapan bahwa ada Tuhan lain selain Allah maka dalam kitab -tijan daruri-. Dikatakan bahwa keyakinan atau anggapan itu adalah -tasalsul- dengan pengertian bahwa keyakinan menganggap Tuhan bersekutu dengan yang lain akan berakibat pada kerusakan alam semesta. Hal itu menjadi hujjah bahwa yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah agama monoteis, bukan politeis.

Baca Juga: Hari Santri – Nilai Seorang Santri

Diturunkannya wahyu pertama dengan perintah membaca, tak lain adalah membaca dengan merenungi keberadaan alam semesta. Dan bahkan diri sendiri serta membaca keberadaan masyarakat yang tak lagi sesuai dengan kebenaran dan nilai kemanusiaan yang sesungguhnya.

Keadaan itu Nabi baca dan kemudian Nabi ubah, sehingga keluarlah masyarakat dari kejahiliyahan menjadi masyarakat yang beradab dan penuh dengan nilai kemanusiaan.

Di era dunia digital, dimana sempadan negara dengan negara lain di dunia, dengan mudahnya diterobos oleh kecanggihan teknologi. Berbagai hiburan dan informasi begitu membludaknya untuk bisa didapatkan, ruang dan waktu sudah bukan menjadi hambatan. Maka seorang santri di sini dituntut selektif membaca dan menerima informasi di samping juga mampu mengimbangi antara masalah keduniaan dan masalah keakhiratan.

Membentengi diri dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihat, melihat segala gerak-gerik dan bahkan segala lintasan dalam hati dan pikiran. Dengan kesadaran seperti itu santri akan kokoh meski dalam gempuran digitalisasi yang massif. Membaca secara konfrehensif seputar permasalahan masyarakat di tengah gempuran digitalisasai tersebut. Taruhlah dekadensi moral, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan, kondisi yang oleh banyak pihak disebut –wolak-walik’e jaman.

Menjadi tugas santri mengubah kondisi masyarakat yang demikian secara pelan tapi pasti dengan mengedepankan akhlaqul karimah. Menghadirkan pesan damai Islam yang rahmatan lil’alamin. Memecahkan persoalan kemanusian dangan berupaya memasukkan nilai-nilai ke-Islaman dalam kultur maysarakat yang berkembang. Dalam bahasa lain meng-kontektualisasi-kan kandungan dan isi dari Alquran terhadap kondisi bangsa sekarang. Dengan begitu masyarakat akan termobilisasi untuk meningkatkan moralitas dan ke-beradab-an.

Pentingnya peran santri didalamnya tak bisa dipungkiri. Di era penjajahan misalnya Para Kiai dan santri membentuk tentara Hizbullah dalam rangka perlawanan terhadap tentara-tentara Belanda, Panglima Besar Jenderal Sudirman notabene adalah santri yang berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan,dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa yang menunjukkan bahwa eksistensi santri di setiap tangtangan zaman selalu signifikan.

Ini tak bisa dilepaskan dari tradisi santri itu sendiri ketika dalam asuhan Kiai yang mengajarkan tanggung jawab sebagai kholifatul fil ardhi yang meniscayakan santri mau tidak mau harus berperan serta menyelesaikan persoalan zaman. Di sinilah dituntut wawasan dan sikap yang mencerminkan akhlak dan budi luhur yang tinggi. Hablumminallah dan hablumminannas yang dipahami sebagai konsep ibadah tentu juga menjadi landasan dalam mengimplementasikan nilai dan ajaran Islam di tengah arus zaman. Bagaimana mengatur keseimbangan antara keduanya.

Di samping tekun mengorek keilmuan leluhur, santri juga harus cerdas melihat tantatangan yang dihadapi masa kini. Santri dituntut cerdas secara intelektual dan spiritual. Teknologi modern dan dampaknya harus dibaca dan dicarikan solusi agar sejalan dengan nilai Islam yang rahmatan lil’alamin. Kecerdasan intelektual dan spiritual adalah syarat mutlak yang harus dimiliki untuk membaca ayat-ayat kauliyah maupun ayat-ayat kauniyah seperti dalam gambaran di atas agar persoalan dapat terurai dan ditemukan solusinya.


Hadi Pranoto – Alumni Pondok Pesatren Al Falah Jember