Categories: kolase

Sabar dan Sakit

Share

Dalam sebuah perjalanan, Namines diuji oleh kekasihnya untuk mengembara mencari sebuah cahaya – Sinar Sejati. Sempat bingung dengan permintaan kekasihnya. Cahaya? Lampu? Api? Atau rembulan? Karena tidak ingin menanyakannya lebih lanjut. Takut nanti kekasihnya marah atau tersinggung, maka Namines menuruti keinginan kekasihnya dengan ikhlas dan tidak banyak membantah. Tanpa berbekal apapun, Namines berjalan menuju arah angin, bermodalkan intuisi. Kadang bertiup ke timur – ia ke timur, kadang ke utara -ia ke utara, dan seterusnya.

Berhari-hari ia merenung untuk mencari sebuah petunjuk. Apa yang dimaksud cahaya oleh kekasihnya. Hingga pada suatu hari ia terkena serangan penyakit di sebuah desa yang sangat sepi. Hanya ada beberapa penduduk, dan itu pun manusia yang tak acuh terhadap sesamanya. Namines menggigil di bawah pohon. Tidak ada seorang pun yang berniat menolongnya. Dalam kesakitannya, ia masih bisa tersenyum dengan membayangkan wajah cantik kekasihnya. Saat itu yang dipikirkannya hanyalah sabar.

  1. sabar untuk mengabdi kepada kekasihnya
  2. Sabar dari apa yang dibenci kekasihnya
  3. Sabar atas musibah pada benturan pertama

Namines pernah medengar kekasihnya mengatakan bahwa dengan sabar maka Namines dijanjikan kebahagiaan yang abadi bersama kekasihnya. Tanpa rasa sakit, takut, gelisah, dan dilema kebimbangan. Maka sejak saat itu Namines tidak pernah mengeluh sekalipun sakit menimpanya setiap saat. Baginya keluhan adalah wujud tidak berbaktinya Namines kepada kekasihnya.

Dengan kesabaran menerima sakit, Namines dengan sendirinya sembuh dan melanjutkan perjalanan untuk mencari cahaya. Ditanyakan kepada beberapa penduduk di sana, namun tidak ada yang mengetahui apa yang dimaksud cahaya oleh Namines.

Karena kelelahan mencari cahaya, Namines duduk di sebuah rumah pinggir desa. Ia mendengar perdebatan hebat sepasang suami-istri. Suaminya membentak istrinya dan menamparnya. Dan yang menjadi keheranan Namines adalah bahwa si suami adalah tokoh agama atau yang dihormati di kampung tersebut. Kelakuan yang demikian membuat miris hati Namines. Bahwa ketulusan dan pengabdiaan harus ikhlas. Dan dalam setiap menghadapi permasalahan harus sabar meski sakit hati menghinggapi.

Sedikit yang Namines dengar adalah ketika istrinya akan mengampuni atas kesalahan yang diperbuat suaminya. Namun suaminya bilang, “Apa yang mesti diampuni? Aku tidak pernah berbuat salah kepadamu.” Seketika suami pergi ke luar rumah. Kemudian beberapa langkah di depan rumah, tiba-tiba ia ditabrak sebuah mobil dan suami tersebut menderita cacat seumur hidup.

Mulai saat itu Namines selalu gelisah tentang apa yang telah dilakukan kepada kekasihnya selama ini. Dia berjanji dalam dirinya untuk tidak menyakiti perasaan kekasihnya dan selalu siap menjalankan permintaannya tanpa mengeluh. Kekasihnya adalah harapannya, impiannya, dan gairah hidupnya. Dengan berlaku sabar maka Namines meyakini suatu saat akan dibalas dengan kebahagiaan sesuai yang dijanjikan kekasihnya.

Namines kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari cahaya. Berminggu-minggu dengan diiringi perjalanan yang mencekam. Suara petir, badai dan sengatan matahari membuatnya putus asa dan memutuskan kembali menemui kekasihnya untuk menanyakan maksud cahaya.

Setibanya di depan rumah, Namines was-was menemui kekasihnya. Namun sebelum mengetuk pintu rumah, kekasihnya sudah hadir di depannya. “Selalu mengejutkan”, gerutunya. Namines kemudian mengucapakan permohonan maaf yang sangat mendalam karena tidak bisa memenuhi permintaan kekasihnya. Namun kekasihnya menjawab, “Kamu sudah menemukan cahaya itu.”

Namines kebingungan karena ia merasa pencariannya selama ini tidak membuahkan hasil. Kemudian dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan kekasihnya, ia berkata “Maksud dinda, cahaya itu apa?”

Dengan sedikit senyum kekasihnya menjawab, “Cahaya tersebut adalah tingkat kesabaranmu dalam ketaatan dan menahan kesakitan. Itu ada dalam hatimu.”

Merenunglah ia dalam diksi-diksi yang terucap oleh kekasihnya. Teka-teki dalam ikatan atau hubungan intim kekasih. Saling membahagiakan, saling menghargai, saling menerima, “Aku adalah kekurangan, kekhilafan, sedangkan dia adalah keberuntungan dan kebahagiaan.” Namines beranjak pulang untuk menemukan rumus baru dalam kebahagiaan dalam dirinya. Cahaya- kesabaram, ketaatan.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU