Categories: biografiFolkor

Rabi’ah Al Adawiyah: Sufi Wanita Abad Pertama dan Kedua

Share

Rabi’ah binti Ismail Al-Adawiah mempunyai nama lengkap Ummul Khair Rabi’ah binti Isma’il Al-Adawiah Al-Qisiyyah adalah salah satu di antara para sufi basrah yang paling terkenal. Beliau juga termasuk tokoh sufi pada abad pertama dan kedua. Rabi’ah Al Adawiyah diperkirakan lahir antara tahun 713 – 717 Masehi, atau 95 – 99 Hijriah, di kota Basrah, Irakdan meninggal sekitar tahun 801 Masehi / 185 Hijriah.

Selain kemiskinan yang menyelimuti kehidupan Rabia’ah sejak lahir, ketika dewasa pun ujian selalu menerpanya setelah ditingglakan ayah dan ibunya, kemudian dijual sebagai budak. Tetapi karena keshalehanya dia dibebaskan. Dari kecil Rabi’ah mempunyai hati yang halus, keyakinana yang tinggi serta keimanan yang mendalam sehingga tidak ada satupun ruangan yang tertinggal di hati maupun pikirannya untuk kepentingan yang lain.

Keadaan keluarganya yang miskin menyebabkan Rabi’ah menjadi hamba sahaya dengan pengalaman penderitaan yang silih berganti. Kemampuannya menggunakan alat musik dan menyanyi selalu dimanfaatkan oleh majikannya untuk mencari harta dunia. Rabi’ah sadar betul dengan keadaannya yang dieksploitasi oleh majikannya tersebut, sehingga selain terus menerus mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang pembantu rumah tangga (Budak) selalu memohon petunjuk dari Allah.

Kisah Percintaan

Rabi’ah Al Adawiyah adalah sufi wanita yang seumur hidupnya tidak pernah menikah. Dalam perjalanan merupakan seorang sufi yang mempunyai pengaruh besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubb) khas sufi ke dalam mistisisme dalam Islam. Sebagai seorang wanita zahibah. Dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria saleh.

Ketika beliau ditanya, “kenapa tidak menikah?” beliau menjawab berkali-kali bahwa “ikatan perkawinan berkenaan hanya dengan wujud (jasad), adakah wujud dalam diriku? Aku adalah bukan milikku sendiri, melainkan aku adalah milik-Nya.

Dalam riwayat yang lain beliau menjawab, sesungguhnya dalam hatiku tidak ada lagi ruang yang ditempati untuk menyimpan rasa cinta kepada selain Allah.

Jawaban lain yang ditemukan, ketika beliau dilamar oleh Abd Wahid. Namun Rabi’ah tidak menyambut baik lamaran itu. Bahkan beliau minder membalasnya “wahai lelaki seksual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan engkau. Apakah engkau melihat adanya tanda-tanda seksual pada diriku?”.

Begitupula beliau memberi jawaban terhadap lamaran Hasan al-Basry dengan ucapan yang sangat bijaksana dan di dalamnya termuat maksud-maksud ketidaksiapan beliau untuk bersuami dengan siapapun orangnya.

Baca Juga: Abu Nawas Sang Penyair Jenaka

Kehidupan Zuhud

Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadah, bertobat, dan menjauhi kehidupan duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan yang diberikan orang lain kepadanya. Bahkan di dalam doanya ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam kehidupan zubd dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan.

Sebagaimana halnya para zahid sebelum dan semasanya, dia pun selalu diliputi tangis dan rasa sedih. Al-Sya’rani, misalnya dalam Al-Tabaqat al-Kubro menyatakan bahwa

Dia sering menangis dan bersedih hati, jika ia diingatkan tentang neraka, maka beberapa dia jatuh pingsan; sementara tempat sujudnya selalu basah oleh air matanya” dan diriwayatkan bahwa beliau terus menerus salat sepanjang malam pada setiap harinya.

Terkait dengan kezuhudan Rabi’ah al-Adawiah dikenal sebagai seorang asketis (Zahidan) yang menjalani hidupnya dalam keadaan miskin. Beliau sebenarnya berulangkali ditawari bantuan dan bahkan kemewahan dari berbagai sahabatnya dan orang yang hendak melamarnya. Namun, mereka semua diabaikan oleh Rabi’ah. Beliau tidak sedikit pun merasa tergiur dengan kemewahan atau sesuatu yang mengalamatkan kemewahan duniawi. Ini pertanda sifat dan sikap seorang asketis ada pada kepribadian beliau. Bahkan prestasi beliau dalam hal kezahidan (asketisisme) cenderung mengungguli para sufi lainnya.

Akhir Perjalanan

Menjelang akhir hayatnya, Rabi’ah Al Adawiyah dikelilingi oleh beberapa orang. Lalu Rabi’ah berkata kepada mereka, “keluarlah kalian dari ruangan ini! berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah untuk melaksanakn tugasnya.

Mendengar ucapan tersebut para alim yang duduk di sekelilingnya keluar dari ruangan tersebut. Ketika Rabi’ah sudah ditinggal sendiri tiba-tiba saja beliau terdengar dari dalam membaca syahadat kemudian disusul dengan lantunan ayat Alquran Surat al-Fajr ayat 27 sampai 30.

Selain itu, tidak terdengar suara apapun. Suasana kamar terasa hening, sejuk dan suasana terasa berubah dari yang sebelumnya. Kemudian para alim tersebut memasuki ruangan, ternyata mereka mendapat jasad Rabi’ah al-Adawiah yang tak bernyawa lagi.

Orang-orang mengatakan bahwa ia dikuburkan di dekat kota Jerussalem namun terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini. Mayoritas ahli sejarah menyakini bahwa kota kelahirannya adalah tempat beliau dikubur.

Karya Rabi’ah al-Adawiyah

Karya-karya Rabi’ah al-Adawiyah merupakan aliran Muhabbah atau al-hubb yang berhubungan tentang cinta. Karena itu dia mengabdi melakukan amal shlaeh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya kepada Allah Swt. Karena cintalah yang mendorong ingin selalu dekat dengan Allah, dan Allah baginya merupakan zat yang dicintai, bukan sesuatu yang ditakuti seperti ungkapanya dibawa ini;

Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka…. Bukan pula ingin masuk surga….. Akan tetapi aku mengabdi karena cinta kepadanya. Tuhanku, jika kupuja engkau karena takut pada nerakamu, bakarlah aku di dalamnya, dan jika kupuja engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku daripadanya, tetapi jika kupuja semata-mata karena engkau, maka janganlah sembunyikan kecantikanmu yang kekal itu dari diriku”.

Karya yang diciptakan oleh Rabi’ah al-Adawiyah baik berupa larik syair ataupun ucapannya selalu berhubungan tentang rasa cintanya kepada Allah. Selain itu beliau juga betul-betul hidup dalam zuhd, di antara ucapannya yang terkenal tentang zuhd adalah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyf al-Mahjub:

Suatu ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah, “mintalah kepadaku segala kebutuhanmu!” Rabi’ah menjawab, Aku ini begitu malu meminta hal-hal duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada orang yang bukan pemiliknya.”

Baca Juga: Imam Malik bin Annas

Di antara ucapan-ucapannya yang menggambarkan tentang konsep zuhd yang dimotivasi rasa cinta adalah:

Wahai Tuhan! Apa pun bagiku dunia yang Engkau karuniakan kepadaku, berikanlah semua kepada musuh-mushMu. Dan apapun yang akan Engkau berikan kepada ku kelak di akhirat, berikanlah semua kepada teman-temanMu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup

Salah satu larik syairnya:

Kujadikan Kau teman berbincang dalam kalbu

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku

Dengan temanku tubuhku berbincang selalu

Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku

Dalam liriknya yang lain, lebih tampak lagi cintanya Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Allah.
Dalam mengungkapkan rasa cintanya ini, dia bersenandung:

Aku cinta Kau dengan dua model cinta

Cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta

Adapun inta rindu, karena hanya Kau kukenang selau,

Bukan selainMu

Adapun karena Kau layak dicinta, karena kau singkapkan

tirai sampai Kau nyata bagiku

Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu.

Tapi sekalian puji hanya bagiMu selalu.

Serta fatwa beliau yang berbunyi:

Engkau durhaka kepada Tuhan di dalam batin

Tetapi di lidah engkau menyebut taat kepanya

Demi umurku. Ini buatan yang ganjil amat

Jika cinta sejati, tentu kau turut apa perintah

Karena pecinta, ke yang dicintai taat dan patuh

Itulah kiranya beberapa karya beliau yang seakan menjelaskan kecintaannya kepada Allah.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU