Categories: LiputanSimponi

Lembar Maiyah: Halaman 6

Share

Ada yang jarang dipelajari oleh manusia modern. Punokawan hanya dianggap sebagai “badut” dan kisah angin lalu yang tidak dipercayai sebagai sejarah peradaban dunia. Dalam kisah pewayangan lebih dikenal dengan istilah Punokawan, tapi juga ada cerita tentang Ponokawan. Berasal dari kerajaan kediri, ketika Empu Panuluh membuat buku “Gatotkoco Sroyo”.

Punokawan itu bukan pembantu, melainkan teman manusia. Yaitu, yang mau menenami kita di saat susah. Ketika kita bahagia, kemudian banyak teman – itu menjadi sesuatu yang wajar. Tapi ketika kita sedang tertimpa musibah dan masalah, maka akan ada teman sejati, yakni Punokawan.

Sedangkan Ponokawan itu derajatnya lebih tinggi lagi. Pono itu berarti paham, artinya adalah orang yang paham keadaan. Memahami pemerintahan, masyarakat, ekonomi, politik, dan keagamaan. Dia menemani para pejabat dan pemimpin. Sedangkan ia sendiri tidak pernah berambisi menjadi pemimpin, tapi dia yang secara murni mengetahui dan memahami ilmu-ilmu dari rakyat dan kemudian menemani dan membantunya.

Baca Juga: Lembar Maiyah – Halaman 2

Sedangkan dalam struktur pemerintah, yang seharusnya menjadi Ponokawan adalah DPA (Dewan Pertimbangan Agung), MPR (Majelis Perwusyawaratan Rakyat), tapi kita di Indonesia sudah kehilangan “ruh” Ponokawan itu sendiri.

Terminologi Jawa dalam Punokawan

Dalam terminologi Jawa, orang hidup itu memegang 3 alat, yaitu : Cangkul – Pedang – Keris. Cangkul untuk bekerja mencukupi kebutuhan ekonomi. Kegiatan mencangkul dilakukan oleh rakyat.

Untuk menjaga kegiatan “mendapatkan penghasilan” dari mencangkul, maka ada orang yang dibekali dengan pedang. Meraka adalah aparat, lurah, bupati, walikota, gubernur, hingga presiden. Mereka tidak perlu mencari uang, karena sudah digaji oleh rakyat.

Sedangkan yang tidak kita miliki saat ini adalah siapa yang memegang keris. Keris berarti kasepuhan – harga diri. Demikian yang harusnya selalu dibanggakan oleh Indonesia. Keris yang menunjukan jati diri kewibawaan. Pusaka abadi nan jaya. Sehingga selalu layak untuk dihormati oleh siapapun.

Dalam kisah babad Jawa, banyak kisah yang hilang atau dilupakan. Seperti kisah Aji Saka, Dewata Cengkar, dan banyak riwayat lainnya. Semua tidak diakui secara Internasinal. Sejarah dunia selalu mencoba menghilankan kemegahan sejarah Jawa. Yang tujuannya untuk menghancurkan peradaban Jawa dengan segala kekayaan budaya dan sumber daya.

Sunan Kalijaga mengembangkan Punokawan berdasarkan agama Islam. Yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar, berasal dari kata Samara yang artinya bersegeralah atau bergegas. Segera bertobat kepada Allah, mengingatkan kembali tentang kunci kalimat toyyibah, penghambaan diri dengan selalu merasa bersalah sebagai kodrat manusia. Istighfar.

Pesan dari segera bertobat adalah bahwa sejatinya manusia tidak punya hitungan waktu layaknya pertandingan sepak bola. Saat pertandingan berjalan 60 menit, kita masih mempunyai 30 menit lebih untuk bisa mengejar ketertinggalan, menyamakan, dan bahkan membalikkan kedudukan. Sedangkan hidup manusia tidak bisa diukur dengan hitung-hitungan matematika. Lusa, besok, atau nanti, kita bisa saja meninggal.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Perwatakan Tokoh Punokaawan

Dalam cerita pewayangan, tokoh Semar sangat disegani oleh siapa saja, baik kawan maupun lawan. Bisa dikatakan, ia adalah sumber rujukan untuk para kesatria bila mereka hendak meminta nasehat dan petunjuk dalam peperangan. Oleh karena itulah, Semar ini memiliki posisi yang sangat dihormati dalam pewayangan.

Semar

Tokoh Semar memiliki watak yang rendah hati, tidak menyombongkan diri, jujur dalam berbicara, dan suka mengasihi sesamanya. Ia juga memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan yang lain tapi itu tak membuatnya lupa diri. Dalam pewayangan, Semar adalah teladan dan panutan. Jari telunjuknya yang menuding ke bawah digambarkan sebagai karsa atau keinginan yang kuat untuk menciptakan sesuatu. Matanya yang sipit melambangkan ketelitian dan keseriusan dalam mencipta.

Baca Juga: Konspirasi “Iluminati” Maiyah

Gareng

Gareng merupakan anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkannya dengan cara memuja. Nama Nala Gareng berasal dari kata Nala khairan, yang berarti memperoleh kebaikan. Gareng merupakan tokoh punakawan yang tak pandai berbicara. Yang dikatakannya terkadang serba salah. Ia digambarkan sebagai seorang tokoh yang sangat lucu dan menggelikan sehingga orang di sekitarnya menjadi terhibur.

Sebagai seorang tokoh Punakawan, Gareng digambarkan memiliki kecacatan fisik. Matanya juling, kakinya pincang, dan tangannya cacat. Mata yang juling dimaknai untuk menunjukkan manusia mesti memahami realitas kehidupan yang kadang tidak seperti keinginan. Kaki yang pincang menggambarkan manusia harus hati-hati dalam kehidupan. Dan tangan yang cacat disimbolkan manusia bisa berusaha semaksimal mungkin, namun tetap Tuhan lah yang menentukan hasilnya.

Petruk

Petruk merupakan anak kedua dari Semar. Nama Petruk berasal dari kata Fatruk, yang berarti tinggalkanlah. Dalam pewayangan, tokoh Petruk digambarkan sebagai tokoh yang nakal dan cerdas. Selain itu ia juga digambarkan sebagai tokoh yang memiliki wajah yang manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan watak yang lucu. Dengan lawakan-lawakannya, ia suka menyindir segala ketidakbenaran yang terjadi di sekitarnya.

Tokoh Petruk digambarkan dengan fisik yang panjang, seperti tangan dan kaki yang panjang, tubuh yang langsing dan tinggi, serta hidung yang mancung. Hal ini disimbolkan supaya manusia mempunyai pikiran yang panjang, tidak sekedar grusa-grusu, dan sabar. Bila sering grusa-grusu, bisa jadi akan menimbulkan penyesalan di akhir.

Bagong

Bagong adalah anak bungsu dari Semar. Nama Bagong berasal dari kata Albaghoya yang berarti perkara buruk. Diceritakan, bahwa Bagong adalah tokoh pewayangan yang diciptakan dari bayangan Semar. Oleh karenanya, Bagong tumbuh dengan tubuh gemuk dan tambun seperti Semar. Meski demikian, Bagong tumbuh seperti kedua saudaranya yang suka bercanda dan melucu. Ia bahkan suka bercanda saat menghadapi persoalan yang teramat serius, memiliki sifat lancang, dan suka berlagak bodoh.

Tokoh Bagong dalam cerita punakawan digambarkan sebagai manusia yang sesungguhnya. Meski petruk mempunyai kelebihan akan keindahan serta kesempurnaan, Bagong lah yang justru memiliki sifat kekurangan. Seperti inilah manusia, memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga Bagong dianggap sebagai manusia sesungguhnya. Untuk itulah Bagong bersifat sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum dengan kehidupan dunia. Suatu hal yang mestinya juga harus dilakukan oleh manusia seutuhnya.

Kalau kamu bersegera bertobat kepada Allah (Semar), maka kamu akan mendapatkan kebaikan (Gareng). Asal tinggalkan (Petruk) segala keburukan (Bagong).


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU