Categories: AransemenKajian

Puasa untuk Orang Sabar

Share

Kali ini saya mau menulis ringkasan materi puasa untuk orang sabar. Dalam menempuh perjalanan hidup, jangan menjaga jarak dan menjauh dari Tuhan. Betapapun kita memegang kemudi untuk menuju bahtera kebahagiaan, tapi angin dan arus yang menguasai adalah Allah. Sebelum sampai ke tempat perhentian, jangan pernah merasa puas dan bangga diri. Bersyukurlah. Jika ada angin besar, bencana, masalah dan kesulitan, maka hendaklah bersabar untuk melihat indahnya dunia. Karena dengan kesabaran, kebahagiaan akan diraihnya.

Harmonisasikan syukur dan sabar dalam menentukan formula hidup kita. Enak bersuyukur, tidak enak sabar. Jika istikamah sabar dan syukur maka Insyaallah bisa khusnul khatimah.

Puasa untuk orang sabar itu seperempatnya iman, kalau kita tidak puasa maka kita akan kehilangan iman yang seperempat.

الصوم نصف الصبر

Puasa itu setengah dari sabar

dan

الصبر نصف الإيمان

Sabar itu setengah dari iman

Jadi sabar, puasa, dan iman itu saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Silakan amati di sekitar kita, bahwa siapa yang tidak sabaran, emosian, dan suka marah, maka dia kehilangan setengah dari imannya. Misalkan orang yang tidak sabar dan tidak puasa, maka imannya tinggal seperempat.

Orang beriman harusnya sabar. Dan di antara banyak jalan, salah satunya adalah dengan berpuasa. Tidak hanya puasa lahir, tapi juga puasa batin. Sabar itu adalah jenis puasa batin. Dihina, dicaci, dimarahi, disalahkan, tapi kita sabar. Itu adalah berpuasa. Jika kita membalas, maka “puasa” kita akan batal.

Seperti halnya ketika puasa lahir, kita diberikan kebebasan untuk makan dan minum sepuasnya. Tapi dengan kedewasaan dan pengetahuan kita, mampu menahan untuk tidak melakukannya sampai saat berbuka. Pun begitu dengan sabar yang harus bisa ditahan sampai kapanpun.

Baca Juga: 5 Watak Sejati Manusia

Orang yang tidak siap berpuasa biasanya cenderung tidak sabar. Sehingga setiap apa yang dipikirkan akan mudah dikeluarkan atau dikatakan, apa yang diinginkan mencoba segera diraihnya. Tidak mampu menahan atau mem-filter mana yang baik dan mana yang buruk baginya dan orang di sekelilingnya.

Sabar itu dibagi menjadi dua jenis; sabar dari dan sabar untuk. Sabar dari adalah sesuatu yang menimpa diri kita, sedangkan sabar untuk adalah kalau dalam agama disebut istikamah. Setiap hari rutin untuk salat dhuha. Kebiasaan tersebut ditempa terus-menerus dengan penuh kesabaran. Proses melatih diri untuk melakukan hal yang baik menurut dirinya itu adalah sabar untuk.

Setiap orang harus mempunyai kualitas sabar, tetapi juga harus cerdas membedakan kapan harus menggunakan sabar dari dan kapan harus menggunakan sabar untuk. Berjuang dan kerja keras itu bukan berarti tidak sabar atau tergesa-gesa, dia termasuk kategori jenis sabar untuk. Sedangkan jika kita mengalami masalah maka bersabarlah untuk keluar dari masalah. Kalau sedang tidak punya uang, bersabarlah dengan berusaha agar segera mendapatkan uang. Kalau sedang mendapatkan nilai jelek, belajarlah agar nanti mendapatkan nilai bagus.

Jadi sabar bukan sifat yang bisa dipukul rata dengan istilah pasrah. Rumusnya bukan seperti itu. Karena sabar itu bisa dari sesuatu dan untuk sesuatu. Tapi untuk membedakannya, kita membutuhkan satu hal, yakni kebijaksanaan. Sedangkan kebijaksanaan itu ilmunya antara lain adalah belajar filsafat atau tasawuf.

Puasa itu dialektika keimanan dan kesabaran. Jadi seharusnya pada bulan puasa tidak ada lagi orang yang marah-marah dan malas-malasan. Malas belajar, malas bekerja, malas beribadah dengan dalih lelah atau kelaparan. Berarti memang kita belum siap untuk berpuasa dan bukan jenis orang yang sabar. Karena dengan puasa itu kita malah melatih tingkat kesabaran kita.

Semoga puasa kali ini bisa menjadikan kita manusia yang sadar diri dan lebih bersabar. Karena segala bala bencana dan peristiwa adalah hak mutlak Allah Swt. Kita hanya mengemudikan diri kita masing-masing menuju kebahagiaan yang kekal bersama Allah Swt. Belajar mengemudi dengan sabar. Berpuasa dengan sabar, karena puasa hanya untuk mereka yang sabar.

*Diambil dari ceramah Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag


Muhammad Raiz – Seni tablig Seniman NU