PROFIL SENIMAN NU

Share

LATAR BELAKANG

Islam merupakan agama Allah Swt. yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw., untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia, demi tercapainya keharmonisan hubungan antara manusia dan Tuhannya juga hubungan manusia dengan sesamanya. Nabi Muhammad tidak hanya diutus kepada umat tertentu saja, melainkan terhadap seluruh umat di muka bumi. Allah menegaskan dalam firman-Nya surat Saba’ ayat 28 yang berbunyi:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh ummat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’: 28).

Ayat di atas sangat jelas, bahwasanya pengutusan Nabi Muhammad Saw, tidak terbatas terhadap umat tertentu, melainkan terhadap seluruh umat meliputi jin dan manusia bahkan alam semesta. Allah Swt menganjurkan manusia untuk berbuat baik terhadap-Nya dan terhadap sesama manusia.

Keharmonisan akan tercipta manakala ada keselarasan antar dua pihak atau lebih. Terciptanya keadaan yang sinergis diantara pihak satu dan pihak lainnya yang di dasarkan pada cinta kasih, dan mampu mengelola kehidupan dengan penuh keseimbangan (fisik, mental, emosional dan spiritual) baik dalam tubuh keluarga maupun hubungannya dengan yang lain, sehingga terciptanya suasana aman, perasaan tentram dan lain sebagainya juga dapat menjalankan peran-perannya dengan penuh kematangan sikap, serta dapat melalui kehidupan dengan penuh keefektifan dan kepuasan batin.

Sementara paham yang radikalis, ekstrimis, dan fundamentalis akan melahirkan acaman terhadap dirinya serta sekitarnya yang akan dirasakan dalam jangka waktu yang perlahan sehingga menjadi isu teror dimana-mana sebagaimana yang telah dan sedang terjadi saat ini.

Sikap kaku dan eksklusif dapat menciptakan adanya perselisihan, perdebatan, pertikaian, hingga peperangan yang terjadi karena kolot dan bebalnya mempertahankan argumen yang diyakini benar oleh setiap individu atau kelompok. Akhirnya lahirlah sikap saling menyalahkan satu sama lain yang membuat kesan agama Islam sebagai agama yang kaku dan penuh ancaman.

“Kebenaran adalah bekal yang diekspresikan menjadi kebaikan dengan tujuan keindahan”

(Muhammad Ainun Najib)

Tagline Seniman NU mengambil quote dari Muhammad Ainun Najib (Cak Nun) tentang hakikat kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Bahwa puncak manusia beragama adalah keindahan. Memahami filosofi seni dan kebijaksanaan. Tidak fanatik kepada kebenaran semu sehingga tidak menerima kebenaran lain yang bisa ditafsirkan oleh setiap orang. Kebenaran adalah bekal atau modal bagi setiap individu untuk berperilaku baik kepada siapapun dan di manapun. Tidak semua kebanaran bisa diterima menjadi kebaikan, sedangkan kebaikan adalah kebijaksanaan hati dalam menerima banyak pengetahauan dan kebenaran dari berbagai persepsi.

Puncaknya adalah keindahan. Bagaimana manusia berbicara, berperilaku, dan mengambil keputusan yang disandarkan pada keharmonisan sosial. Seni untuk menilai keindahan berbeda satu dengan yang lain. Tergantung perspektif dan daya tangkap masing-masing penikmat seni.

Semua orang mempunyai jiwa seni dan mereka adalah kreator karya seni dalam sadar dan ketidaksadarannya. Seni mempunyai cakupan yang sangat luas, bukan hanya tentang tari, teater, lukis, puisi, musik, dan sekitarnya. Segala hal apapun bisa dilihat dari kacamata kesenian.

Demikian yang melandasi berdirinya komunitas Seniman NU. Bercita-cita mewujudkan tatanan sosial yang penuh dengan keindahan sesama manusia.

SEJARAH BERDIRI

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

Sesungguhnya Allah Swt itu Maha-Indah dan menyekai keindahan

Sejarah Seniman NU berawal dari kegelisahan tentang banyaknya dakwah intoleran di media sosial dan di lingkungan kampus. Tahun 2015, membuat akun official yang berisi tentang landasan dalil dan hukum syariat (yang sering dituduhkan bidah dan sesat). Setahun kemudian perkembangan akun official tersebut semakin diminati oleh banyak orang yang kemudian diikuti dengan pembuatan akun Seniman NU di berbagai platform media sosial.

Akhir tahun 2017 dibentuk grup untuk menampung aspirasi dari anggota. Kemudian tanggal 28 April 2018 resmi dibentuk Komunitas Seniman NU. Setelahnya dibentuk kepengurusan Seniman NU dan melebarkan dakwah lewat launching Website Seniman NU (https://senimannu.com). Saat ini Seniman NU sudah memiliki ribuan anggota yang terdiri dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk memfasilitasinya, Seniman NU membentuk sanggar tinggat provinsi dan karisedenan, yakni :

Seniman NU Riau

Seniman NU Sumatera Utara

Seniman NU Lampung

Seniman NU Banten

Seniman NU Jakarta

Seniman NU Jawa Barat

Seniman NU Jawa Tengah

Seniman NU Yogyakarta

Seniman NU Jawa Timur

Seniman NU Bali

Seniman NU adalah komunitas yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Sudah banyak kegiatan yang dilakukan selama Seniman NU resmi dibentuk. Selain itu juga menjadi wadah untuk mengapresiasi pemikiran dan karya lewat platform media Seniman NU.

Seniman NU bukan komunitas eksklusif. Anggota Seniman NU terdiri dari berbagai aliran hingga agama yang berbeda. Sehingga sangat luwes menerima segala bentuk perbedaan dan mengedepankan prinsip keindahan (estetika) untuk mengambil sikap kebijaksanaan.

Komunitas Seniman NU mempunyai marja’ – Habib Alwi bin Nuch Al Haddad (Solo) dan juga Kiai Asyiqudin (Karanganyar). Beliau adalah pengampu serta pembimbing komunitas Seniman NU dalam melangkah dan berjuang.

Seniman NU adalah komunitas non-profit yang berusaha bertahan dengan prinsip sukarela tanpa paksaan. Status anggota dan pengurus juga tidak terikat. Seniman NU membatasi diri dari perihal politik praktis dan mengedepankan sisi moral kemanusiaan dalam berdakwah.

“seni itu bebas, tapi harus sadar batas”