Categories: opiniSimponi

Poligami Sebagai Pilihan Terbaik

Share

Seperti biasa. Hari ini memiliki kesan tersendiri dibanding hari kemarin. Hari ini saya tertarik untuk ikut menyelami diskusi tentang poligami yang seru nan menggemaskan di sebuah grup WA yang saya ikuti. Berbagai pandangan diutarakan. Mulai yang terlihat begitu ilmiah, komplit dengan referensinya sampai opini bak sungai di musim kemarau, dangkal dan kering.

Diskusi berawal dari sebuah poster seminar poligami yang dikirim oleh salah satu anggota grup, sampai akhirnya dialihkan ke topik lain karena mulai tercium aura baper dari para makhluk-makhluk cantik ciptaan Tuhan. Grup serasa lebih hidup dibanding biasanya. Saya menghayati tiap kata yang dikirimkan anggota. Saya perhatikan satu per satu. Saya cerna dengan hati-hati untuk menangkap maksud yang ingin disampaikan.

Padahal belakangan ini saya kurang respon kalau diajak membahas poligami. Paling-paling saya cuma anteng memperhatikan dia bicara sampai selesai, menanggapi seperlunya saja, atau sekedar cengar-cengir gak jelas. Pikir saya, kalau ditanggapi mungkin mereka akan langsung menerima mentah-mentah dan menyimpulkan dari pemahaman yang setengah-setengah. Sama halnya dengan penyampaian saya yang juga setengah-setengah.

Baca Juga: Kelas Poligami Ala Ala

Di satu tempat, saya dianggap kontra dengan poligami. Di tempat lain, saya dicap pendukung poligami, bahkan “bersedia dipoligami”. Sebuah kalimat yang sungguh membuat saya takjub. Tapi kalau memang itu penilaian kalian, saya bisa apa?!

Label pendukung poligami seringkali ditujukan kepada saya lantaran sering menyuarakan agar poligami jangan terlalu dinilai negatif dan jangan ditolak mutlak. Logikanya, kalau tidak menolak berarti menerima. Biar sinkron, kalau suatu saat ada yang meminang untuk dipoligami saya harus menerima. Kalau menolak, berarti saya sama saja dengan menolak mutlak poligami. Begitu kata beberapa orang. Haduh.. Jadi makin repot.

Saya menyuarakan jangan terlalu benci dengan poligami bukan berarti saya bersedia dipoligami. Sama sekali tidak! Kalau saja kalian mengenal saya, kalian akan tau dengan sendirinya bahwa saya terlahir dari keluarga poligami. Meskipun tidak secara langsung. Yang poligami adalah mbah buyut (Ayah kakek) dari garis keturunan Ibu. Lha yo bagaimana mungkin saya membenci poligami? Lha wong kalau saja bukan karena poligami mungkin saya tidak akan terlahir ke dunia ini.

Selama hidupnya, mbah buyut menikah 9 kali. Meskipun tidak menjadikan lebih dari 4 istri dalam satu tanggung jawab (satu waktu). Bukan tanpa alasan, beliau poligami karna begitu mendambakan seorang anak yang diharapkan bisa menyambung garis keturunanya. Sebuah ambisi yang tak bisa dibantah. Bukan hanya pasrah dengan keadaan, beliau melakukan apa yang ia bisa untuk membayar ambisinya. Tapi harga tersebut merembet. Dan harus ikut dibayar oleh orang-orang di sekitarnya.

Saat itu teknologi belum seperti sekarang. Program kehamilan belum nge-trend, bayi tabung belum terjangkau. Sampai pada akhirnya beliau mengambil keputusan besar: Poligami. Sebagai bentuk ikhtiar. Beliau siap menanggung berapa pun risikonya. Sampai akhirnya beliau dikaruniai 3 anak dari salah dua di antara 9 istrinya.

Saya tidak tahu bagaimana kondisi keluarga saat beliau poligami. Yang pasti saat ini anak turun beliau beserta sanak keluarga dari 9 istrinya hidup rukun. Impian beliau menciptakan jalinan kekeluargaan yang luas di antara keturunannya tercapai. Kontras dengan anggapan sebagian kaum feminis bahwa poligami layak diperangi, dibuang jauh-jauh, pelakunya tidak layak diberi respect, wes pokoknya gak ada baik-baiknya blas. Sekali anti, tetap anti. Titik! Tidak pakai koma! Kenapa? Karena sunah poligami dijadikan dalih untuk menutupi pelampiasan nafsu? Karena manusia tidak mungkin adil? Karena merendahkan wanita? Mari bicara dulu.

Banyak hal yang menjadi alasan seseorang malakukan sesuatu. Pun ketika seseorang poligami. Poligami memanglah pilihan, tapi bisa jadi juga garis tangan. Ada saat dimana seseorang harus poligami. Pun ketika poligami menjadi takdir. Siapa tahu memang Allah menciptakan dia untuk menjadi salah satu orang yang mampu melaksanakan syariat yang tidak ringan ini.

Harus diterima dengan lapang dada bahwa poligami ada di dalam Islam. Jadi sudah pasti pada dasarnya poligami itu baik. Yang tidak baik adalah mereka yang menyalahgunakan poligami, yang tetap poligami sekalipun lebih banyak mudharatnya, tidak menempatkan sesuai porsinya dan memaksakan padahal belum mampu. Kita sebut saja oknum. Bukan berarti menciderai mereka yang melakukan poligami dengan niat dan cara yang baik.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh panutan kita. Tercatat dalam sejarah, para ulama banyak yang poligami. Rasulullah pun mampraktikkannya. Sekalipun tidak dapat disederajatkan dengan manusia lainnya, perilaku memiliki istri lebih dari satu yang dilakukan Rasulullah tetaplah disebut poligami.

Poligami diperbolehkan dalam Islam. Boleh, tapi tidak dianjurkan. Bahkan bisa dibilang sangat tidak dianjurkan. Karena dengan hadirnya Islam, poligami memiliki syarat dan ketentuan yang tidak mudah, yaitu adil.

Bukankah Islam adalah rahmat bagi semesta alam? Sebelum Islam hadir, umat berhak beristri berapapun. Ada yang 100, ada yang 10, bebas. Tanpa ada batas. Islam hadir untuk memperbaiki akhlak. Mengangkat derajat wanita dengan membatasi perkawinan maksimal empat.

Kenapa masih 2, 3, atau 4? Kenapa tidak sekalian poligami diharamkan? Ini salah satu bentuk wajah ajaran Islam yang santun, menyesuaikan kondisi masyarakat pada saat itu. Tidak radikal. Islam datang tidak serta merta menghilangkan seluruh budaya yang sudah ada di masyarakat. Tapi mengubah dengan pelan-pelan. Kalau saja dari budaya poligami diharamkan, mereka justru akan lari dari Islam. Islam dianggap tidak sesuai dengan kehidupan mereka. Perubahan peradaban dari istri 10 ke maksimal 4 itu pun sudah ekstrim.

Selain itu, zaman dulu poligami memberi peluang janda-janda korban mati perang untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Sekarang pola pikirnya dibalik. Poligami yang “membatasi” seakan-akan menjadi “menambah”. Yang sebelumnya beristri tanpa batas jadi dibatasi hanya paling banyak 4. Bukan sebaliknya, dari 1 ditambah menjadi 2, 3, atau 4. Itu pun bukan cuma-cuma. Syarat dan ketentuan berlaku. Harus bisa adil. Kalau tidak bisa adil tapi tetap memaksakan poligami, Allah sudah menyiapkan hadiah istimewa di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Wanita Adalah Tiang

“Lho, bukannya ada dalil yang menyatakan kalau manusia tidak akan bisa adil?” Allah tidak akan membebani makhluknya dengan sesuatu yang tidak ia mampu. Sebagaimana doa Rasulullah kepada Allah dalam suatu riwayat, “Ya Allah.. Aku sudah berusaha adil (secara lahir), jangan Engkau bebani aku dengan sesuatu yang aku tak mampu”.

Dari sini kita bisa mengetahui, kemampuan adil bagi manusia (selama ia masih disebut manusia) adalah adil secara lahir. Tapi secara batin, pasti ada kecenderungan. Kita tahu bagaimana Rasulullah yang begitu sangat cinta kepada Khodijah dan Aisyah dibanding istri yang lain. Tapi karena luhurnya akhlak Rasulullah, tidak nampak kecendengungan hatinya. Senyum miring sana miring sini sudah tidak boleh. Waktu kunjungan, pembagian nafkah lahir batin dan segala serba serbi kehidupan suami istri tidak miring sebelah.

Saya gusar dengan adanya seminar poligami yang sudah berbatch-batch itu. “Kiat Cepat Dapat Istri 4”, kok seolah-olah poligami hanya dijadikan ajang cepat-cepatan. Istri 4 dijadikan aksi target. Ibadah istimewa – untuk orang-orang tertentu – ini diobral di pasaran. Apalagi seolah-olah kesempurnaan iman seorang muslim dinilai kalau sudah punya istri lebih dari satu. Ini akan menimbulkan pola pikir berbahaya.

Lebih-lebih saya menilai kalau seminar ini adalah usaha kreatif yang memanfaatkan syariat. Asal mampu membayar tiket masuk yang berkisar antara 2,9-5 juta, siapapun boleh mengikuti seminar bahkan bisa lansung bawa pulang istri tambahan. Tanpa repot-repot mendalami situasi audience.

Tapi saya juga tidak sepakat dengan mereka yang menentang poligami tanpa kompromi. Seakan tidak ada kemungkinan-kemungkinan yang membuat poligami sebagai pilihan terbaik bagi yang orang-orang pilihan. Poligami adalah urusan dapur. Kalau mau poligami ya silahkan. Tapi tak usah ngajak-ngajak atau memotivasi orang lain untuk poligami juga. Karena kemampuan setiap orang berbeda. Tidak bisa dipukul rata. Pun ketika tidak setuju dengan poligami, cukup niatkan saja dalam hati untuk tidak poligami. Tidak perlu menghakimi mereka yang mampu poligami dan mampu dipoligami hanya karena kita tidak mampu.


RNC – Senitabligh Seniman NU