Categories: kolase

Perbedaan yang Berakhir

Share

Jumat Pon awal Januari 2020 bertepatan 7 Jumadilawal 1441 Kang Rohman khotbah di masjid al-Hidayah –masjid kampung terpencil yang dihuni empat RT. Dia seorang yang baru belajar agama Islam sekitar tiga tahun dua bulan di salah satu ustaz kota. Seorang yang begitu semangat dalam menjalani hidup –termasuk beragama.

Jumat Pon saat dirinya khotbah di kampung yang dihuni oleh masyarakat berprofesi sebagian besar sebagai petani, baru segelintir orang yang datang ketika Kang Rohman datang –yaitu orang yang membersihkan lantai masjid dan menyalakan murotal Alquran. Lima menit sebelum khotbah Jumat dimulai jamaah belum pada datang karena pekerjaan di sawah begitu banyak (saat itu di sawah sedang musim tanam, banyak petani yang beraktifitas di sawah untuk menanam). Kang Rohman sebagai khatib datang setengah jam sebelum khotbah Jumat dimulai, dalam hatinya menggerutu “emang masyarakat jahiliyah! Jam segini belum pada datang untuk melaksanakan ibadah sholat Jumat. Astaghfirullah, semoga laknat segera ditimpakan kepada kaum ini.”

Adan dimulai pukul 12.00 tepat yang muadzainnya adalah Pak Dhohir – adan Jumat di masjid ini biasa dilakukan dua kali sebagaimana di kampung sekitar, setelah adan pertama melaksanakan salat sunah qabliyah Jumat, sedangkan khotbah dimulai setelah adan kedua. Kang Rohman naik mimbar pukul 12.07 dengan membawa tongkat dan berdiri menghadap para jamaah yang sedang terpukau melihat dirinya khotbah. Suaranya lantang menggelegar, badannya tinggi tegap menghadap timur dengan memakai jubah dan peci putih layaknya orang Arab. Kang Rohman mengawali khotbahnya dengan memuji Allah, selawat kepada Nabi Muhammad saw. dan membacakan wasiat untuk ketakwaan serta membaca sepenggal ayat suci Alquran. Tidak ada satu pun jamaah yang tertidur ketika Kang Rohman berbicara –karena begitu kerasnya suara khatib.

Setelah membaca sepenggal ayat Alquran, Kang Rohman mengingatkan kembali kepada jamaah untuk bertakwa kepada Allah swt. tidak lupa juga Kang Rohman mengungkapkan kejengkelannya karena para jamaah telat datang ketika khotbah telah dimulai, setelah ruang masjid penuh dengan jamaah Kang Rohman menyisipkan kejengkelannya “para jamaah yang berbahagia, hendaknya kita sebagai umat Islam yang kaffah (totalitas) harus datang untuk melaksanakan ibadah Jumat di waktu yang awal, itulah yang diajarkan nabi.

Barang siapa yang datang paling awal dan duduk di shaf paling depan akan mendapatkan pahala unta. Tidak seperti tadi, perbuatan jamaah yang telat (datang ketika khatib sudah naik mimbar) merupakan cerminan dari perilaku setan, nabi tidak mengajarkan perbuatan seperti itu”. Begitu kerasnya ucapan seperti itu di sampaikan tanpa melihat konteks masyarakat yang sebagian besar para petani dan musim tanam kembali, banyak yang sibuk di sawah. “dasar jamaah gak tau diri, sudah begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepadamu namun dirimu melalaikannya. Mampus kau mendengarkan khotbahku” dalam hati Kang Rohman, begitu bahagianya dapat menasihati jamaah.

Baca Juga: Kisah Cinta Galuh Candra Kirana

Banyak jamaah yang merespon ucapan Kang Rohman tersebut. Johan yang duduk di shaf kedua dari depan paling utara hanya dapat mengelus dada mendengarkan khotbahnya. Pak Marwan yang mondok puluhan tahun duduk tepat di belakang mihrab (tempat imam memimpin salat jamaah) hanya menundukkan kepala mendengar ucapan khatib yang sebegitunya.

Isi khotbah yang disampaikan Kang Rohman begitu banyak sekitar 45 menit ia berdiri di atas mimbar. Tema yang disampaikan tidak jelas, nglantur ngalor ngidul semua yang ada dalam pikirannya diucapkan –Kang Rohman ketika khotbah tidak membawa satu lembar catatan pun, ia merasa dirinya sudah paling pandai dalam agama di kampung. Beberapa kali dirinya berhenti karena lupa apa yang ingin diucapkan.

Gus Rohmin yang duduk tepat di depan mimbar menyimak khotbah yang disampaikan oleh Kang Rohman. Beliau begitu khusyu’ mendengarkan, kepalanya menunduk dan tangannya membawa tasbih. Terlihat tenang. Dari awal sampai akhir khotbah yang disampaikan oleh Kang Rohman diperhatikan dengan baik oleh Gus Rohim.

Menurut Gus Rohim, ada beberapa hal yang kurang tepat apa yang disampaikan oleh Kang Rohman. Saat Kang Rohman mengucapkan lahaula wala quata illa billahil alaiyil azhim ada kekeliruan, bagi Gus Rohim seharusnya lahaula wala quata illa billahil aliyyil azhim (aliyyil adzim bukan alaiyil adzim). Saat Kang Rohman menjelaskan tentang memahami tanda-tanda kebesaran Allah “Wahai jamaah sidang Jumat yang berbahagia, dalam memahami kebesaran Allah tidak hanya melalui Alquran saja. Namun kita dapat memahami kebesaran Allah melalui kitab kauniyah dan kitab qauliyah. Kitab kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah di sekeliling manusia dalam bentuk benda, kejadian alam, maupun peristiwa yang terjadi. Sedangkan kitab qauliyah adalah tanda kebesaran Allah yang berbentuk tulisan, yaitu kitab Alquran”. Bagi Gus Rohim seharusnya yang dimaksud bukanlah kitab namun ayat kauniyah dan ayat qauliyah.

Menjelang berakhirnya khotbah, Kang Rohman menjelakan tentang rukun iman. Dalam penjelasannya rukun iman ada enam, yaitu: iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir. Kang Rohman memaparkan satupersasatu dari enam rukun tersebut. Penjelasanya cukup bagus, namun ada yang kurang tepat bagi Gus Rohim ketika Kang Rohman menjelaskan iman kepada kitab Allah. Kang Rohman menjelaskan bahwa kitab Alllah yang wajib kita imani ada 173, menurut Gus Rohim kitab Allah yang wajib kita imani ada 4, yaitu: Zabur, Taurat, Injil, dan Alquran.

Pada Jumat berikutnya, yaitu Jumat kliwon khatib yang seharusnya Kiai Abdul Ghani digantikan oleh Gus Rohim karena ada urusan di luar kota. Hal itu atas keinginan Kyai Abdul Ghani agar digantikan oleh Gus Rohim yang tidaklain adalah keponakannya sendiri.

Gus Rohim adalah anak dari Kyai Abdul Kohar. Dirinya sangat tawadu’ (rendah hati), pengetahuannya sangat luas, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Setiap hari selalu belajar, belajar berbagai hal. Kepada orang yang lebih tua dirinya sopan dan hormat. Menghargai perbedaan terkait hal furu’ (cabang) bukan hal ushul (pokok). Kehidupan sosial dengan masyarakat sangat baik, tidak pernal ada masalah.

Saat dirinya khotbah, ia menyampaikan khotbah dengan baik dan santun. Suaranya lembut (tidak terlalu keras), enak didengar, dan isi khotbahnya jelas tidak ngelantur ngalor ngidul. Tema yang disampaikan yaitu tentang rukun iman, sebagaimana yang dijelaskan oleh Kang Rohman menjelang berakhirnya khotbah pertamanya. Gus Rohim menjelaskan rukun iman dengan gamblang, detail, semua jamaah mendengarkan pemaparannya. Namun ada yang beda dengan Kang Rohman, Gus Rohim menjelaskan tentang kitab Allah yang wajib diimani ada 4. Kang Rohman yang juga sebagai jamaah Jumat mendengarkan isi khotbah, tapi dirinya agak jengkel karena beda dengan dirinya.

Sebelum berakhirnya khotbah pertama, Gus Rohim membenarkan kekeliruan yang sering terjadi pada jamaah –termasuk Kang Rohman. Kekeliaruan itu tentang pelafalan alaiyyil azhim yang seharusnya aliyyil azhim. Tujuan Gus Rohim agar kekeliruan itu tidak terus terulang dan ditirukan oleh orang lain, terus menyebar. Tujuan Gus Rohim yang baik justru membuat diri Kang Rohman merasa direndahkan –Kang Rohman merasa dirinya paling benar dan tidak mau menerima perbedaan dengan orang lain.

Di Jumat pahing khatibnya adalah Kyai Abdul Kohar. Satu jam sebelum waktu Jumatan Kang Rohman menemui Kyai Abdul Kohar ingin menggantikan sebagai khatib –setengah memaksa. Akhirnya Kiai Abdul Kohar mempersilan dengan baik.

Dalam isi khotbah yang disampaikan oleh Kang Rohman yaitu berisi tentang sindiran-sindiran kepada Gus Rohim terkait isi khotbah yang disampaikan Jumat lalu. Kang Rohman bersikukuh dengan apa yang disampaikan, tidak mau menerima pemaparan yang disampaikan Gus Rohim.

Gus Rohim hanya diam dan tidak merespon isi khotbah yang disampaikan oleh Kang Rohman. Di Jumat-Jumat berikutnya Gus Rohim tidak mau mengomentari Kang Rohman. Gus Rohim beranggapan bahwa masyarakat dapat menilai sendiri mana yang benar dan mana yang kurang benar.


Bayu Bintoro, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga