Categories: FolkorHikmah

Oh Ibu

Share

الجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu.

Sosok ibu dalam banyak tradisi filsafat perennial dilambangkan dengan Bumi. Di Bharatawarsa dan Nusantara dikenal dengan Ibu Pertiwi atau Bhoomidevi (Dewi Bumi). Sifat utama Bumi adalah Rahim. Rahim adalah sifat feminin Tuhan, pasangan dari sifat maskulin Tuhan, yaitu Rahman (pengasih). Rahim bermakna penyayang. Kata Rahim ini, yang berasal dari bahasa Arab, diabadikan oleh leluhur kita sebagai nama untuk menyebut kandungan seorang wanita. Layaknya Bumi, seorang ibu sejati pasti akan menyayangi apa pun yang berada di dalam rahimnya dan akan menjaga dengan penuh kasih sayang apa pun yang terlahir dan tumbuh dari rahimnya. Jika seorang wanita, ibu, tak mampu menyayangi dan menjaga apa yang keluar dari rahimnya dengan layak, maka ia telah mengingkari kodratnya sebagai wanita, ibu, yang akan menyayangi dan menjaga apa yang keluar dari rahimnya, anak-anaknya sendiri. (javanica)

Perempuan adalah tanah, bumi. Leluhur Jawa Kuno menyebut tanah ini dengan sebutan Ibu Pertiwi. Leluhur Jawa Kuno menyebut vagina perempuan dengan sebutan yoni. Kata “yoni” sering diidentikkan dengan aji (kesaktian). Sebuah benda, keris atau akik, misalnya, dibilang memiliki aji jika memiliki yoni. Sebuah benda tidaklah memiliki aji jika tidak memiliki yoni atau ditinggal yoninya. Maka benarlah ketika Kanjeng Nabi Muhammad bilang bahwa perempuan adalah tiang negara. Kehormatan dan kesaktian suatu negara sangat ditentukan oleh perempuan. Kehormatan dan kesaktian suatu negara sangat ditentukan oleh bagaimana kaum lelaki di negara itu memperlakukan perempuan dan kaum perempuannya memperlakukan dirinya sendiri.

Bagaimana bisa negara ini memiliki kehormatan dan kesaktian jika para perempuannya banyak dikirim ke luar negeri untuk menjadi buruh? Tidakkah kaum lelaki di negara ini bisa merawat dan menjaga perempuannya sendiri, tanahnya sendiri? Di luar negeri sana, di Jazirah Arab sana, mereka bahkan sering dianggap budak, yang halal disetubuhi oleh majikannya, bahkan anak-anak majikannya. Itu artinya tanah kita dieksploitasi sedemikian rupa. Bagaimana pula negara ini bisa dibilang memiliki kehormatan dan kesaktian jika para perempuannya lebih bangga dinikahi bule? Itu artinya tanah ini seakan lebih bangga diolah bangsa lain daripada bangsa sendiri. Ini bukan isapan jempol belaka. Banyak perempuan pribumi yang begitu bangga mempunyai suami atau pacar bule, seakan-akan derajat dan nilainya melambung tinggi jika berhasil menggamit seorang bule pulang ke rumah.

Baca Juga: Poligami sebagai Pilihan Terbaik

Keutamaan Ibu

Ibu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti wanita yang telah melahirkan seseorang. Sedangkan dalam definisi lain, Ibu adalah seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran. seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman. Dalam kata kerja, Ibu adalah mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, dan lain sebagainya.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari Muslim)

Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi. Ada dua kata yang selalu dipakai Alquran untuk menyebutkan ibu, yakni “Umm” dan “Walidah”. Kata “umm”, digunakan Alquran untuk menyebutkan sumber yang baik dan suci untuk hal yang besar dan penting. Maka Makkah Al Mukarramah disebut “Ummul Qura” karena kota ini adalah tempat turunnya risalah yang diberikan Allah kepada umat Islam. Ada juga istilah “Ummul Kitab” yang ditujukan kepada surat Alfatihah.

Baca Juga: Wanita adalah Tiang

Peran Wanita

Masyarakat Indonesia dikenal dengan sistemnya yang patriarkis salah satunya adalah Jawa. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang memiliki pembatasan-pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperlihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Hal ini didukung oleh Handayani dan Novianto (2004) yang menyatakan bahwa dalam budaya Jawa yang cenderung paternalistik, laki-laki memiliki kedudukan yang istimewa dibanding wanita.

Istilah wanita itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wani ditata (berani ditata). Pengertian ini telah mencirikan adanya tuntutan kepasifan pada perempuan Jawa. Selain itu istilah putra mahkota (bukan putri mahkota), kawin paksa, dan babakan pingitan yang diberlakukan kepada perempuan yang akan menikah.

Dalam perkawinan ada istilah kanca wingking, yakni bahwa perempuan adalah teman di dapur akan mewarnai kehidupan perkawinan pasutri Jawa. Kemudian pula dengan konsep swarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka turut) menggambarkan posisi perempuan Jawa yang lemah sebagai seorang istri.

Selain itu bagi masyarakat Jawa, perempuan sejati adalah perempuan yang tetap tampak lembut dan berperan dengan baik di rumah sebagai ibu maupun istri, di dapur maupun di tempat tidur. Masyarakat Jawa berharap perempuannya bersikap dan berperilaku halus, rela menderita, dan setia. Ia diharapkan dapat menerima segala sesuatu bahkan yang terpahit sekalipun.

Namun demikian, sebagian orang menganggap perempuan Jawa memiliki kekuasaan yang tinggi mengingat sumbangannya yang umumnya cukup besar dalam ekonomi keluarga yang dicapai melalui partisipasi aktif mereka dalam kegiatan produktif membuat posisi kontrol perempuan Jawa menjadi lebih kuat.

Selain itu adanya konsep istri atau garwa (sigaraning nyawa), bukan sekedar konco wingking juga memberikan gambaran posisi yang sejajar. Sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya tetapi dapat menentukan jalannya film.

Saat ini memang telah terjadi pergeseran kedudukan dan relasi gender masyarakat Jawa. Menurutnya, modernisasi, emansipasi perempuan, dan masuknya pengaruh budaya Barat, telah menggeser pola relasi gender mengarah kepada persamaan derajat dan kedudukan. Sedikit banyak diperkirakan pergeseran pola relasi gender ini dapat pula mempengaruhi kehidupan perkawinan masyarakat Jawa meskipun belum ada penelitian empiris mengenai hal ini.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU