Categories: opiniSimponi

Nissa Sabyan Lovers!

Share

كَلَّ هَذِى الاَرْضِ مَاتَكْفِيْ مَسَاحَةْ
لَوْ نَعِيْشِ بِلَاسَمَاحَةْ
وَانْ تَعَا يَشْنَا بِحَبْ
لَوْ تَضِيْقِ الاَرْضِ نَسْكَنْ كَلَّ قَلْبْ

اَبْتَحِيَةْ وَبْسَلَامْ
اَنْشُرُوْا اَحْلَى الْكَلَامْ زَيْنُوْا الدِّنْيَا حْتِرَامْ
اَبْمَحَبَّةْ وَابْتِسَامْ
ااَنْشُرُوْا بَيْنِ الاَنَامْ هَذَا هُوْا ديْنَ السَّلَامْ

Nah, kalau kalian ngaku penggemar berat Nissa Sabyan, tentu tidak asing dengan lirik di atas. Yups, Deen Salam. Tapi yakin deh banyak yang kurang begitu paham maknanya. Biasa lah anak muda jaman sekarang. Sewaktu SMA dulu juga gitu, sok nyanyi dan suka lagu barat, ketika ditanya artinya dia geleng. Mungkin biar terlihat keren karena lancar menyanyikan lagu barat. Lha kalau hafal lagu Nissa Sabyan biar terlihat apa?!

Gegara ini dulu Seniman NU dicap pendukung paslon 02 lho. Padahal juga posting Mbah Maemun, Gus Muwafiq, Gus Nadir. Ah, dibilangi juga apa. Politik itu bikin hati menciut dan logika merosot. Karena musim pilpres dan pileg sudah kelar, jadi jangan lagi ya setiap tulisan yang memuat unsur tokoh tim sukses masih dikaitkan dengan politik praktis. Move on slur. Lagian kedua tokoh yang dulu berlomba dalam kontestasi pilpres juga sudah baikan. Masak iya masih suka berantem aja. Damai lah wahai saudaraku.

Ngomong-ngomong soal damai. Itu yang mau saya bahas dari dek Nissa Sabyan ini. Kalau santri yang fasih ber-nahwu shorof tentu dengan sekilas mudah saja mengartikan lirik di awal. Barangkali ada yang belum memahami, makanya saya mau kasih terjemahan biar bisa direnungkan, bukan asal teriak-teriak bernyanyi sok paham bahasa Arab.

Baca Juga: Agama Kemanusiaan

Seluruh bumi ini akan terasa sempit

Jika hidup tanpa toleransi

Namun jika hidup dengan perasaan cinta

Meski bumi sempit kita kan bahagia

Melalui perilaku mulia dan damai

sebarkanlah ucapan yang manis, hiasilah dunia dengan sikap yang hormat

dengan cinta dan senyuman

sebarkanlah diantara insan, inilah Islam Agama Perdamaian

Memahami Lirik Lagu Nissa Sabyan

Nah, kurang lebih demikian. Indah bukan. Jadi aneh kalau ngaku fans berat Nissa Sabyan tapi tidak memegang nilai-nilai toleransi. Agama rahmatan lil’alamin yang menebarkan cinta, bukan sebaliknya. Agama yang mengajarkan perdamaian, bukan polarisasi yang semakin meruncing di kalangan umat muslim. Damai itu indah, toleransi itu puncak cinta dalam beragama.

Lagu yang pertama kali dipopulerkan oleh Sulaiman Al-Mughni ini kini dapat didengar di mana saja. Menjadi lagu rutinan di televisi swasta, radio, dan pencarian populer di Youtube. Pemilik nama asli Khoirunnisa yang masih berusia 19 tahun dan merupakan siswa SMKN 56 Jakarta ini dalam sekejap bisa membius jutaan manusia untuk bersendandung melantunkan syair gambusnya. Lucunya, tren Nissa Sabyan ini bisa membuat manusia lupa yang sebelumnya sempat menyatakan bahwa selawat dan musik itu bidah. Atau memang khusus Nissa Sabyan ada toleransi per-bidah-an?!

Selain Deen Salam, masih banyak lagi lagu-lagu dari Nissa Sabyan Gambus. Sebut saja Ya Habbibal Qolbi, Ya Maulana, Ya Jamalu, Rahman ya Rahman, dan lain sebagainya. Ada pesan menarik dari lagu yang dibawakan oleh Nissa Sabyan, yakni pesan damai agama Islam dan nilai-nilai unieversal dari Nabi Muhammad Saw. Merebaknya virus lagu-lagu Nissa Sabyan seharusnya bisa menjadi cambuk bagi muslim yang masih mengabaikan nilai toleransi dalam beragama dan berkemanusiaan.

Sekali lagi silahkan direnungi dan diresapi secara perlahan. Seharusnya begitulah Islam. Jangan menyempitkan dunia tanpa ada sikap toleransi terhadap sesama. Kadang kita butuh ngopi untuk tidak saling mengaku siapa yang paling toleran. Sehingga di dunia tidak ada lagi pembubaran pengajian, demo berjilid-jilid, ceramah provokatif, dan senantiasa menjunjung semboyan Bhineka Tunggal Ika. Karena kita memang tinggal di Indonesia yang melindungi segenap warga negaranya tanpa memandang ras, suku, agama, dan budaya. Demikian sejuknya pesan perdamaian yang dipopulerkan oleh dek Nissa Sabyan. Tetaplah bernyanyi dek, buat paham yang belum paham makna toleransi. Sejatinya cinta yang menyatukan dan benci yang menghancurkan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU