Categories: opiniSimponi

Pancasila Kok Buat Menghujat

Share

Halo, ada orang di sana? Pancasila kok buat menghujat, apa lagi menghujat orang yang tidak lancar menyebutkan butir akhir sila keempat dan lima. Sebegitu salahkah mereka, orang yang tidak lancar menyebutkan nilai-nilai Pancasila?! Dalam situasi dan kondisi hiruk pikuknya jutaan penonton yang menyaksikan langsung di studio maupun layar kaca televisi?!

Jangan-jangan kita sendiri, saat diberi kesempatan untuk berbicara di depan kelas dengan jumlah penonton terbatas. Berisikan teman-teman sendiri yang setiap hari ketemu, ghibah bareng, mengambil gorengan tiga bayar dua, lirik-lirik ganti baju di dalam kelas saat pelajaran olahraga, sambil bergumam, ada yang tegak tapi bukan keadilan. Malah saking groginya sampai kencing di celana.

Halo apa kabarnya manusia tanpa celah?

Mungkin saat melihat penampilan ulang Kalista Iskandar (salah satu finalis Miss Indonesia asal Sumatera Barat) beberapa waktu lalu, yang bersangkutan salah menyebutkan poin Pancasila dan kita pun tertawa dengan lepas. Sambil berkomentar. “Masa gitu aja gak bisa.” Apa lagi saat melihat Yang Mulia Bapak Ketua MPR yang memberi pertanyaan ikut tertawa dengan riangnya. Duh, senengnya.

Anehnya kita dan Yang Mulia Bapak Ketua MPR kok melihat Kinerja legislasi DPR 2014-2019 yang dinilai sangat mengecewakan tidak ikut tertawa. Kurun lima tahun, DPR hanya menghasilkan 80 UU, di mana 40 persen di antaranya UU di luar prolegnas. Termasuk RUU KUHP yang telah mangkrak puluhan tahun lamanya.

Dengan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 meningkat menjadi Rp 5,11 triliun. Angka tersebut naik Rp. 833 miliar dibandingkan alokasi dalam RAPBN 2020 yang sebesar Rp 4,28 triliun. Alasanya kenaikan anggaran DPR dalam APBN 2020 bertujuan untuk menjaga performa anggota dewan periode mendatang. Mari sekarang kita tertawa bersama. Hahaha

Baca Juga: Pancasila Sebagai Titik Temu

Berlebihan menurut penulis jika kita menanggapi seorang WNI yang salah dalam mengucapkan butir Pancasila sampai pada tahap menghujat, menghina, yang paling mengerikan, seolah dengan satu kesalahan orang lain kita menilai diri kita lebih baik dari orang lain.

Boleh jadi dia yang tidak hafal lafal Pancasila karena lupa atau gugup merupakan seorang yang taat bayar pajak, senang membantu orang yang dalam kesulitan, hormat pada orang tua. Saat lampu merah tidak pernah berhenti di Zebra Cros, tidak pernah nilep duit lebih SPP dari orang tua, kalau ditagih hutang tidak lebih galak dari yang memberikan pinjaman, dan masih banyak lainnya.

Dia yang tidak hafal Pancasila di lisanya tetapi prilakunya senantiasa wujud dari keluhuran nilai-nilai Pancasila, jauh lebih baik dari orang yang tiap hari mengampanyekan Pancasila tetapi di dalam perilakunya khianat terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Pancasila memang merupakan pondasi yang fundamental bagi bangsa Indonesia, tapi kadang setiap pengantnya (masyarakat Indonesia) lupa akan kandungan nilai di dalamnya. Seolah membelas pancasila, tapi lupa filosofi pancasila. Seolah menegakkan kebenaran pancasila, tapi selalu jauh dari butir-butir pancasila. Seolah pancasila menyatukan keberagaman, tapi tidak sadar bahwa perilaku kita menyebabkan perpecahan.

Mari berhenti saling menghujat dan mempermalukan manusia yang menurut kita bodoh karena tidak hafal pancasila. Mari biasakan untuk menghujat diri sendiri atas keangkuhan dan kesombongan atas segala perasaan dan perilaku ‘sok’ kita. Lha padahal sekarang banyak lho masyarakat Indonesia – yang berpendidikan tinggi sekalipun – kalau ditanya Sila Keempat harus dikasih waktu sejenak karena hendak mengurutkan sila pertama, kedua, dan ketiga dulu.

Pancasila kok buat menghujat….. Salam dan peluk hangat dari rakyat jelata untuk yang mulia manusia tanpa celah.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU