Categories: opiniSimponi

NU Abangan

Share

Beberapa waktu terakhir saya kerap ditanyai mengenai pandangan ke-nahdliyian. Mengenai cara pandang dan pengambilan keputusan dalam menyampaikan pendapat. Apalagi ditambah dengan seringnya mengkritisi beberapa sikap dari nahdliyin yang konservatif dan fanatik terhadap sebuah pendapat. Ini hanya curhatan saya sebagai NU abangan yang mungkin bisa menambah khazanah pemikiran dan diskusi di kalangan NU putihan atau para priyayi.

NU abangan hanya sebuah permainan diksi yang saya maknai pribadi sebagai sebuah gerakan atas pilihan sinkretisme terhadap segala perubahan zaman tanpa melupakan prinsip mendasar dari kepercayaan tersebut. Lebih mudahnya adalah sebagai seorang yang mempunyai pandangan untuk menerima segala bentuk perbedaan tanpa harus mengubah sistem dari NU itu sendiri.

Adakalahnya kita harus melepaskan “pakaian NU” dulu, kemudian keluar dari bingar-bingar perdebatan antar golongan atau mazhab. Sikap fanatisme kadang malah membuat seseorang melupakan prinsip mendasar akan tujuan utama dari sebuah organisasi.

Banyak kasus yang karena sikap skeptis dan alergi terhadap golongan tertentu, lantas keceplosan dan menjadi senjata makan tuan. Kita belum siap menerima perbedaan dan terkesan selalu merasa paling unggul. Bahkan prinsip moderat yang selalu digaungkan seolah hanya retorika belaka.

Beberapa hal “konyol” yang sering saya simak di media sosial adalah;

Pancasila

Kita sepakat bahwa Pancasila dan NKRI harga mati. Mengedepankan sikap wasathiyyah dalam melihat perbedaan. Saling bahu membahu menjaga dan memajukan kehidupan berbangsa.

Sehingga langkah yang tepat ketika kita menolak gagasan khilafah sebagai sistem kepemerintahan dan kenegaraan di Indonesia. Tapi ketika ada gagasan RUU HIP, sikap nahdliyin di kalangan bawah menjadi goyang. Meskipun dengan tegas sikap PBNU menolak RUU tersebut, tapi masih banyak pula di kalangan nahdliyin tingkat bawah bingung yang pada akhirnya “seolah” sependapat dengan RUU HIP.

Alasannya adalah tidak adanya sikap tegas dan bersama-sama memusuhi perancang dan penggagas RUU HIP. Mungkin karena sisa-sisa pertempuran politik praktis yang membuat sikap fanatisme menjadi pandangan yang abu-abu.

Baca Juga: Sebuah Kritik atas Kecacatan Pemahaman Toleransi Warga NU

Moderat

Seringkali saya melihat banyak akun nahdliyin yang membagikan postingan akan sikap toleran. Melawan radikalisme, hoak, intoleran, dan kebencian. Sedangkan dalam postingan berikutnya sering terlihat sikap arogan “membenci” tokoh/ aliran/ golongan tertentu. Ditambahi sumpah serapah dengan istilah-istilah melecehkan atau menghina tokoh atau akun tertentu.

Kembali saya ditampar dengan persoalan mendasar dari sikap saudara kami yang kebetulan berasas sama, ahlussunah wal jamaah. Atau mungkin saya sendiri yang salah dalam memaknai kata toleransi, moderat, dan menerima perbedaan.

Dalam perkembangannya saya dituduh aneh-aneh: mata-mata Nahdlatul Ulama. Sejak kapan jadi (mengaku) NU?

Sejak SMA saya sudah menjadi sekretaris Ansor tingkat PAC, kuliah masuk pengurus PC. Aktif di berbagai komunitas NU. Sering ikut pengkaderan, seminar kebangsaan, dan mengajar ke-NU-an di madrasah. Hanya karena saya “mungkin” tidak sependapat dengan arah kebijakan politik, lantas saya dianggap anti-NU atau kurang memahami NU. Lalu bagaimana NU itu sebenarnya?

Kita kadang tidak memahami hakikat dari sebuah makna, jadi nafsu sering mengalahkan diri akibat sikap fanatisme. Misalkan istilah radikal, meskipun secara terminologi bahasa bermakna mengakar, lantas dikonotasikan menjadi sikap arogan dan kekerasan. Lantas benarkah kita serius memerangi radikalisme? Atau malah kita sendiri yang radikal?

Kita yang anti intoleran, sudahkah kita menerima setiap perbedaan? Bukan hanya mereka yang berbeda keyakinan, tapi berbeda pandangan dan golongan. Kita malah asik menebar kebencian dan saling ejek. Sedangkan kita dengar cermah atau tausiyah para ulama sepuh NU yang seyogyanya, “Kebencian itu harus dibalas dengan kebijaksanaan. Kita diludahi, dibalas senyum. Kita disesatkan, kita mendoakan. Kita diserang, kita membela diri.” Tidak perlu melakukan serangan yang lebih radikal dari yang mereka berikan.

Mohon maaf jika saya salah memahami esensi dari berjuang di jalan NU. Mungkin karena saya yang merasa sebagai NU abangan, jadi terkesan sembarangan dalam menyampaikan argumen berke-NU-an. Saya bangga menjadi NU tidak untuk gagah-gagahan, saya mencintai NU karena doa masyhur para alim ulama yang sudah menjaga marwah Nahdlatul Ulama.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU