Categories: HikmahSimponi

NKCTHI (Nanti Kita Cerita Tawakal Harus Ikhtiar)

Share

Berbicara tentang kehidupan semua hanya ada istilah ikhtiar dan tawakal. Sering disebutkan bahwa ikhtiar lebih dulu dibandingkan dengan tawakal. Ketika kita sudah berikhtiar semaksimal mungkin sembari menunggu hasil. Tawakal menjadi kunci ketenangan jiwa untuk bisa tegar dan tabah dalam menghadapi setiap kemungkinan yang akan didapatkan nantinya.

Akan tetapi ada sesuatu yang cukup unik ketika saya mendengarkan sebuah pengajian yang saya lupa siapa pengisinya. Namun beliau cukup kondang di dunia maya dan tentunya standar keilmuannya tak diragukan. Beliau mengatakan bahwa tawakal lebih didahulukan daripada ikhtiar. Memang cukup unik mengingat hal ini merupakan sebuah pernyataan yang cukup kontradiktif dengan pandangan yang ada di masyarakat. Mungkin jika kita sedikit mengubah sudut pandang bisa saja hal tersebut masuk dalam benak dan logika kita sebagai manusia.

Ada sebuah ungkapan bahwa, “Manusia boleh punya rencana, tapi Tuhan punya kuasa”. Apapun keputusan Tuhan nantinya adalah sesuatu yang absolut dan tidak bisa diganggu gugat. Namun bagaimanapun kita juga tidak tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan ketika hal itu belum terjadi. Maksud dari bertawakal kepada Tuhan sebelum ikhtiar adalah sebelum kita memulai semua usaha, sudah harus dipastikan bahwa apapun yang terjadi nanti. Baik hasil maupun semua ikhtiar yang akan dilakukan semua adalah kehendak dari Tuhan yang tidak boleh disesali di masa depan.

Hal ini tentu akan memberikan efek mental yang baik pada pelakunya. Karena sebelum dia memulai semua ikhtiarnya sudah tidak ada beban mental dan was-was terhadap hasil yang mungkin mengecewakan. Saya menyetujui hal ini karena memang saya pernah mengalaminya sendiri pada tahun 2019 lalu. Pada saat itu, saya sudah memantapkan hati dan pikiran untuk memasrahkan apapun hasilnya nanti kepada Tuhan. Saya sudah meyakini, Tuhan akan memberi yang terbaik nantinya. Usaha seperlunya namun bersungguh-sungguh dan tidak putus asa akan rahmat dan karunia-Nya.

Baca Juga: Kembali dari Hijrah

Semua usahaku ini, semua karena kehendak-Mu, kupasrahkan semua pada-Mu, kataku dalam hati. Dan ternyata saat menghadapi ujian, soal yang keluar adalah semua materi yang sudah kupelajari. Anehnya pula, materi yang tidak kupelajari tidak ada yang keluar.

Mungkin Anda tidak akan lantas percaya dengan cerita saya ini, namun tidak hanya saya sendiri yang mengalaminya. Akan tetapi, beberapa teman saya pun juga mengatakan hal yang sama meskipun dalam kasus yang berbeda. Mereka awalnya juga tidak percaya dengan cerita ini dan menganggapnya sebagai sebuah bualan belaka, namun ternyata setelah mengalaminya mereka baru membenarkan.

Berkata beliau Bapak KH. Marzuki Mustamar bahwa perbedaan orang yang melakukan usaha dengan berdoa dan tidak adalah pada keberkahannya. Jika dari awal sudah kita doakan dan pada akhirnya tidak tercapai apa yang menjadi keinginan kita, namun kita sudah mendapatkan berkah dari doa yang kita panjatkan. Begitu pula sebaliknya ketika kita berhasil mendapatkan apa yang menjadi keinginan namun tidak disertai doa, maka jangan harap mendapatkan berkah dari Tuhan.

Berkah itu seperti cinta, dia benar adanya. Dia tidak dapat dilihat dengan mata, diungkapkan dengan kata, namun hanya dapat dirasakan jika anda sendiri pernah mengalaminya. Dengan kita bertawakal sejak awal, secara tidak langsung kita sudah berdoa kepada Tuhan. Tak hanya hasil yang kita doakan, tapi juga usaha yang akan dilakukan.

Jika kita bertawakal setelah berusaha maksimal, bukankah usaha itu belum mendapat berkah dari doa?

Ya memang semua hanya masalah sudut pandang dan keyakinan. Saya tidak menyuruh para pembaca untuk membenarkan apa yang saya tulis, akan tetapi saya hanya memberikan sudut pandang serta logika yang menurut saya cukup menarik untuk diulas dan disebarluaskan kepada publik. Berbaik sangka kepada takdir Tuhan di masa depan merupakan sebuah kebaikan, menerima semua takdir yang sudah kita lalui juga sebuah kebaikan.

Di dunia ini banyak sekali kebaikan yang sering kita lupakan hingga yang kita ingat hanyalah semua ujian yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Bukankah nikmat Tuhan lebih banyak daripada ujian dan cobaan-Nya?


Novita Indah Pratiwi – Seni tablig Seniman NU