Categories: opiniSimponi

Musim Paradoks

Share
Lha piye, wes musim je?

Musimnya sudah sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini mungkin sedang puncaknya. Mereka dari segala bidang ilmu sudah begitu mahir memparadokskan sesuatu. Selain mudah seperti membalik telapak tangan, paradoks juga menjadi alat ampuh untuk tetap idealis, fanatis, dan setia pada diri dan kelompok.

Dalam asmaul husna, Tuhan sendiri mencontohkan sifat-sifat paradoks. Bahkan semua yang dijalani makhluk semesta selalu bertautan dengan prinsip paradoks. Jadi tidak mungkin seseorang bisa lari dari situasi yang hitam-putih tersebut.

Berparadoks adalah solusi untuk menghentikan perdebatan dan adu argumen. Misalkan kaitanya dalam persoalan agama. Perbedaan ideologi sulit sekali untuk dipecahkan. Meskipun kampanye toleransi atau menghargai perbedaan sering digemborkan oleh tokoh-tokoh pluralisme.

Bahkan perang pemikiran ala paradoks-paradoksan sering membuat seseorang amnesia. Saking asiknya berparadoks, mereka lupa dengan idealismenya sebelumnya. Selain cinta, fanatik juga bisa membutakan manusia.

Pernah sesekali saya diskusi dengan kawan yang ‘lumayan anti-NU’, kemudian saya tanya alasan kenapa membenci NU. Jawabannya aneh, “Orang NU itu sombong, seolah paling paham agama, nyantri dan pandai baca kitab. Sedangkan orang seperti saya itu butuh kajian yang adhem.”

Setelah saya telesuri ke belakang dan menceritakan panjang lebar terjadinya konflik antar aliran atau golongan, akhirnya dia manggut-manggut saja. Seharusnya kalau peka tentang agama sejak dulu kala, kita akan mengerti betapa indahnya dan bahagianya orang beragama. Warga yang bebas melakukan kenduren, yasinan, tahlilan, ziarah, dan ibadah lainnya.

Kemudian muncul beberapa tokoh yang lihai menghipnotis dengan ungkapan halus dan islami mencoba “membenarkan” ritual ibadah yang menurutnya salah selama ini. Para cendikiawan muda NU dan santri pada muncul di media sosial untuk mencoba memberikan pemahaman berdasarkan literasi kitab yang ilmiah. Eh, mereka bilang orang NU itu sombong. Banyak cerita lain yang kita diskusi adu argumen selalu menggunakan kesimpulan konyol tentang sebuah paradoks.

Baca Juga : Papan Panah

NU Selalu Salah

Bagi kawan-kawanku yang baru hijrah, tentu akan kaget kalau saya begitu fanatik terhadap NU. Apalagi jika acuan kawanku tersebut adalah jejering media sosial. Secara NU seperti sebuah organisasi yang mesti dihancurkan untuk mewujudkan cita-cita sebagaian kelompok tersebut. Sayangnya NU tidak tumbang-tumbang dan ke belakang semakin terlihat berkembang. Muncul banyak tokoh ulama yang mempunyai kapasitas keilmuan lebih dibanding imam-imam mereka.

Tudingan terhadap NU itu sebenarnya cuma angin yang sebentar akan hilang. Berbagai isu, fitnah, dan hoax untuk menghancurkan NU begitu gampang dipatahkan argumennya. Demikian jika niat untuk menjatuhkan dengan perasaan membenci, bukan berdasar ilmu dan akhlak.

Berikut adalah beberapa isu atau fitnah yang diciptakan untuk menghancurkan NU!

  1. Tuduhan liberal kepada ketua PBNU dan tokoh NU

Setelah pemaparan panjang lebar, kajian yang ilmiah, serta kemampuan memahami kitab. Akhirnya mereka kewalahan. Misalnya kita bisa simak di pencarian google, Kiai Aqil Siradj sudah perlahan membuktikan kapasitasnya sebagai ketua PBNU. Tidak seperti beberapa tahun ke belakang yang isinya penuh cacian, fitnah, dan umpatan.

  1. Tukang Pembubaran Pengajian

Seringkali saya ditanyai seperti ini. Sedangkan ketika saya menjelaskan kronologi kejadian, mereka tidak percaya. Sampai akhirnya berita dari polisi keluar tentang alasan pembubaran pengajian. Sayangnya setelah alasan dan penjelasan itu muncul, berita di media sosial tidak seviral ketika sehari kasus pembubaran pengajian tersebut terjadi. Seolah kalau NU salah harus segera diberitakan, kalau ternyata NU tidak salah, mereka sembunyi dan melarikan diri.

Baca Juga : Pesan Politik Eks HTI Di Balik Bendera Hitam Putih

  1. Anti Islam

Ini tuduhan yang paling kejam dan sadis. Ada paradigma yang diatur seolah NU itu anti-islam. Pertama dengan seringnya menjalankan ritual bidah – meskipun ketika diajak beradu kajian kitab mereka selalu menolak. Kedua adalah kasus pembakaran bendera tauhid waktu hari santri nasional. Meskipun dijelaskan dengan seksama berdasarkan rujukan kitab, bahwa itu tidak bisa diklaim bendera tauhid (baca: bendera HTI). Kasus itu pun hanya 2 minggu ramai, setelah itu berganti isu lagi.

  1. Penjilat

Ini tentang isu politik nasional. Ketika banyak ponpes yang mendapatkan dana dari pemerintah. Meskipun saat ini ponpes tidak selalu identik dengan NU karena bermunculannya pendirian ponpes yang tidak sejalan dengan ahlussunah waljamaah – an nahdliyah. Sayangnya mereka para penuduh tidak melihat track record pemerintahan sebelumnya. Ketika NU dicekik habis-habisan -khususnya di media sosial dan internet- oleh menteri teknologi dan informatika ketika itu. Untuk hal ini sepertinya butuh kajian yang mendalam, bagaimana situasi perpolitikan berpengaruh terhadap berkembangnya sebuah aliran agama.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU