Categories: SimponiWarganet

Muhasabah

Share

Muhasabah merupakan evaluasi atau memberikan penilaian atas diri sendiri terkait apa yang telah diperbuat, diucapkan, bahkan yang telah dipikirkan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Muhasabah diri juga merupakan cara manusia untuk mengenali Allah. Man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa rabbahu (barang siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya). Ungkapan ini  menjelaskan bahwa jika seorang hamba ingin mengenali Tuhannya maka sebaiknya harus mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Rasulullah saw dalam sabdanya, “Orang yang cerdas adalah orang yang melakukan perhitungan pada diri sendiri dan beramal untuk bekal sesudah kematian. Orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti nafsunya dan mengharap kepada Allah tanpa berbuat.” (HR. At-Tirmidzi). Orang yang melakukan muhasabah akan sibuk dengan ketaatan dan tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk perbuatan tidak disukai Allah. Selalu mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah (Saifuddin Amaman dan Abdul Qadir Isa, 2014: 181).

Introspeksi diri atau muhasabah merupakan perbuatan harus dilakukan terus-menerus oleh setiap manusia agar hidupnya terarah ke arah yang lebih baik. Tidak nyeleweng dari aturan Tuhan maupun hukum yang berlaku di masyarakat. Orang yang melakukan introspeksi diri hidupnya akan menjadi semakin bahagia. Karena dapat mengenali dirinya sehingga apa yang perlu dilakukan atau diperbuat oleh dirinya sesuai dengan kehidupan yang dijalaninya. Tentunya sesuai apa yang dimau oleh Allah serta tidak bertentangan dengan sesama manusia. Perilaku muhasabah dapat menjadikan hubungan dengan Allah (hamblum minallah) baik. Selain itu juga hubungan dengan sesama manusia (hamblum minannas) terjalin dengan baik sehingga hubungan vertikal dan horizontal seimbang. Hubungan yang baik kepada Allah dan baik kepada sesama manusia bahkan baik kepada seluruh alam, akan berakibat atau memberikan efek kebahagiaan bagi diri sendiri. Dan keharmonisan akan terjadi.

Baca Juga: Islam Katanya

Muhasabah dalam Agama

Di bulan Ramadan banyak di antara hamba-hamba Allah yang berlomba-lomba melakukan ibadah. Baik ibadah mahdhah (ibadah yang asal perbuatannya dari dalil syariat) dan ibadah ghairu mahdhah (perbuatan yang pada dasarnya bukan ibadah, namun bernialai ibadah karena niat dari perbuatannya). Allah sendiri bahkan memerintahkan hambanya untuk melakukan ibadah sebagaimana firmannya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz-Dzariat: 56). Banyak hamba yang melakukan ibadah tadarus Alquran, melaksanakan salat wajib dan sunah, menuanaikan zakat, menyantuni anak yatim, sedekah, dan sering mengkaji agama.

Setelah bulan Ramadan ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan banyak yang ditinggalkan, seperti salat sunah, bersedekah, dan membaca Alquran. Hal-hal seperti itulah yang perlu dievaluasi oleh setiap hamba, apakah ibadahnya benar-benar untuk Allah. Atau sebagai bentuk meramaikan bulan Ramadan ikut-ikut orang lain. Memurnikan niat dengan tujuan hanya semata-mata untuk Allah sangat diperlukan agar sifat sombong atau sifat takabur tidak ada dalam diri seorang hamba. Niat selain untuk Allah tidak ada dalam hati seorang hamba. Mengevaluasi untuk kembali kekonsintenan (istikamah) dalam beribadah juga perlu dilakukan agar ibadah yang telah dibangun di bulan Ramadan tetap terus-menerus dapat dilakukan. Ibadah yang dilakukan terus-menerus (istikamah) walaupun sedikit lebih baik daripada ibadah yang dilakukan sekali tapi banyak. Istikamah dalam beribadah merupakan perbuatan yang disukai oleh Allah.

Muhasabah dalam Sosial Masyarakat

Introspeksi diri dalam bermasyarakat harus dilakukan oleh setiap rakyat. Rakyat harus sadar diri apakah sudah menjadi rakyat yang benar atau masih menjadi rakyat yang suka “nyinyir”. Suka mencari-cari kesalahan pemerintah tanpa melihat dirinya apakah sudah mampu menjadi rakyat yang benar. Kehidupan ingin ditanggung oleh pemerintah, namun menuruti himbauan-himbauan pemerintah tidak mau menuruti. Tidak sedikit rakyat yang mampu juga meminta bantuan pemerintah, perbuatan ini yang perlu dievaluasi agar bantuan yang digelontorkan pemerintah tepat sasaran. Rakyat harus sadar jika dirinya sebagai orang yang mampu (kaya) ketika mendapat bantuan sebaiknya menolak agar diganti kepada orang yang lebih berhak menerima. Tidak sedikit rakyat dari kalangan mampu meminta insentif atau bantuan pemerintah, terkait hal ini rakyat harus bisa introspeksi diri bahwa dirinya termasuk yang mampu dan tidak berhak mendapat bantuan.

Di dalam sosial masyarakat, setiap rakyat harus dapat mengevaluasi dirinya sendiri. Perbuatan yang dilakukan apakah merugikan tetangga, apakah merugikan masyarakat secara umum. Seringkali ada rakyat yang parkir sembarangan, tanpa menyadari bahwa kendaraannya menganggu orang lain yang ingin lewat. Perbuatan merampas hak orang lain, seperti berdagang di trotoar harus disadari oleh pedagang tersebut bahwa perbuatannya mengganggu orang lain.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga