Untukmu, Muhammadku

Aku lupa, pura-pura lupa.

Bagaimana aku bisa meng-kias-kanmu bulan purnama seperti yang diperumpamakan Jabir bin Sumarah. Sedangkan aku jarang membaca kisahmu, bahkan ada beberapa yang melarangku untuk mengidolaimu.

Seperti cinta kebanyakan dariku. Entah karena mata jasad yang begitu munafik hanya melihat keindahan fisik dari yang terlihat. Sedangkan engkau, Muhammadku, hanya tersurat beberapa kemuliaan sepanjang hidupmu. Aku selalu berusaha, mencintaimu meskipun belum pernah menemuimu.

Katanya kulitmu tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap. Putih kemerah-merahan. Pun rambutmu yang tidak terlalu keriting dan juga lurus tergerai. Hitam pekat. Lebat dan ujung rambutmu menyentuh daun telinga bagian bawah. Engkau yang selalu merawat rambut rambat sehingga selalu tampak indah dan rapi.

Kepalamu yang lumayan besar dengan wajah yang tidak terlalu bulat. Dahi yang lebar dan rata. Sedangkan saat kau menatap, terlihat mata yang lebar dengan bola mata yang sangat putih dan sangat hitam. Terpancar. Bulu mata yang hitam dan lentik dengan pinggiran mata yang terlihat sangat hitam seperti orang yang mengenakan celak.

Alismu melengkung dan panjang sehingga hingga hampir menyatu. Di antara dua alisnya tersebut ada urat yang memerah kalau engkau menahan amarah. Mempunyai pandangan mata yang sangat tajam dan berwibawa. Kerlingan matamu tidak pernah mengisyaratkan hal-hal yang buruk, meski kepada musuhnya sekali pun.

Hidungmu mancung. Meski tidak semancung hidung orang Arab pada umumnya. Hidungnya sangat serasi dengan bentuk dan ukuran wajahnya. Bagian atas hidung bercahaya sehingga orang yang tidak memperhatikannya dengan seksama bakal mengira kalau hidung Nabi bengkok.

Pipimu datar. Jenggot tebal dan cambangnya lebat. Sedangkan mulutmu cenderung besar. Gigi tertata rapi meski sedikit jarang. Terlihat bersih karena selalu menyikat gigi, tidak hanya sesudah dan sebelum tidur tapi juga setelah selesai makan dan juga sebelum salat, dengan menggunakan siwak. Ketika berbicara, di antara gigi depan beliau itu seperti keluar cahaya.

Bahumu bidang. Bulu lebat memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakimu tebal dan halus. Laju langkahmu begitu cepat dan tegap. Saat menoleh, seluruh badan ikut menoleh, menunjukan pribadi yang menghargai siapa pun. Di antara kedua bahumu terdapat khatam al-nubuwwah (tanda kenabian). Perangainya amat lembut dan ramah.

Sosokmu amatlah berwibawa. Pasang mata yang melihat, pastilah akan langsung menaruh hormat padamu, meski baru pertama kali memandang. Siapa pun yang berkumpul dan mengenalimu, ia pasti akan mencintaimu.

.Keringatmu putih bersih mengkilap bagaikan mutiara. Baunya yang sangat harum hingga Ummu Sulaim menjadikannya sebagai parfum. Sungguh tiada parfum yang lebih wangi dari keringatmu.

Akhlakmu adalah cerminan Alquran. Bahkan engkau sendiri adalah Alquran hidup yang hadir di tengah-tengah umat manusia. Membaca dan menghayati akhlakmu berarti membaca dan menghayati isi kandungan Alquran. Itulah kenapa Istrimu, Siti Aisyah berkata, “Akhlak Nabi adalah Alquran.”

يَقُوْلُ مَنْ يَنْعَتُهُ مَا قَبْلَهُ     *    أَوْ بَعْدَهُ رَأَيْتُ قَطُّ مِثْلَهُ

“Siapa pun yang mendeskripsikan sosoknya, pastilah berkata, ‘Belum pernah aku melihat sosok sesempurna Rasulullah’.”

Berikut penjelasan fisik dalam kitab Nur al Mubin fi Mahabbati Sayyidi al Mursalin, karangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

45 Ciri Fisik dan Penampilan Rasulullah

Setidaknya ijinkan aku untuk membayangkan indahnya dirimu, sehingga ada rasa penyesalan belum pernah menjumpaimu. Oh Muhammadku, jika dalam dunia yang fana ini aku belum sempat melihat raut wajahmu, pintaku kelak aku bisa berlinang air mata karena memandangmu. Aku merindukanmu, oh Muhammadku.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad

Puisi Nabi Muhammad Saw

Oleh : Taufiq Ismail

Yaa Nabi Yaa Rasulullah
Cahaya hati kami, kekasih Allah
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fawqa nuri
Engkaulah surya yang menyinari kelamnya hati manusia
Engkaulah purnama penerang gelapnya jiwa manusia
Engkaulah cahaya di atas cahaya

Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa mulia akhlakmu
Bagai cahaya kemuliaan Alquran
Besarnya perjuanganmu menegakkan agama
Agungnya cintamu menyayangi sesama
Harum senyummu pada wajah dunia
Betapa ramah sikapmu tertanam dalam jiwa

Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa indah akhlakmu
Bagai cahaya keindahan Alquran
Rindu kami padamu sepanjang waktu
Engkaulah cermin bagi hidup kami
Engkaulah petunjuk perjalanan kami
Engkaulah mata air hati dan pikiran kami
Wahai teladan yang tak pernah padam

Yaa Nabiyallah, Yaa Habiballah
Betapa suci akhlakmu
Bagai cahaya kesucian Alquran
Hadirkanlah cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahanmu dalam doa kami
Mengalirlah jihadmu dalam hati kami
Tumbuhkanlah akhlaqmu dalam hidup kami

Yaa Nabi Yaa Rasulullah
Pujaan hati kami, kekasih Allah
Anta syamsun anta badrun
Anta nurun fawqa nuri
Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkau cahaya di atas cahaya.


Joko Yuliyanto -Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!