Mengurai Nalar Kusut Kaum Radikal

Kasus seperti ini juga terjadi di semua kelompok radikal dengan level yang berbeda-beda seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), Al-Qaeda, IM (Ikhwanul Muslimin), JI (Jamaah Islamiyah), JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), NII (Negara Islam Indonesia), MIB (Mujahidin Indonesia Barat), MIT (Mujahidin Indonesia Timur), dan lain-lain. Pemahaman “radikal”, eksklusif dan fanatik lahir dari lompatan pemahaman dari akidah langsung ke daulah dan nizham sebagai syarat penerapan syariah. Dalam sosiologi disebut strukturalisme syariah. Sering juga disebut dengan ideologi Islam atau Islam ideologis.

Seharusnya dari akidah memancarkan pengamalan syariah oleh individu bukan menciptakan daulah/nizham. Sesuai dengan definisi syariah yakni khithabusy Syaari muta’aliqu bi af’alil ‘ibad ‘tuntutan Asy-Syaari’ terkait perbuatan hamba. Hamba di sini hamba yang terkena taklif. Syarat taklif antara lain baligh aql atau dewasa yang notabene al-insan bukan ad-daulah/ an-nizham. Dengan kata lain beban penerapan syariah jatuh kepada individu bukan kepada Daulah/ nizham. Hal ini diperkuat dengan ayat-ayat Alquran yang menggandengkan kata iman dengan amal saleh bukan iman dengan daulah.

Daulah/ nizham tidak lahir langsung dari akidah melainkan implikasi dari pengamalan syariah oleh individu. Maksudnya daulah/ nizham adalah instrumen individu-individu untuk menyempurnakan pengamalan syariah. Sebab itu daulah/ nizham hasil ijtihad bukan soal i’tiqad.

Lompatan pemahaman kaum radikal dari akidah langsung ke daulah/ nizham tanpa melalui syariah akibat lemahnya pemahaman mereka tentang syariah, maqashid syariah, fikih dan ushul fikih.

Baca Juga: Pesan Politik Eks-HTI di Balik Bendera Hitam Putih

Alur premisnya sebagai berikut:

  1. Islam kaffah terdiri dari akidahdan syariah.
  2. Syariah dibebankan kepada individu,bukan kepada daulah/nizham sesuai dengan definisi syariah. Karena itu juga yang dihisab di akhirat adalah individu bukan daulah/ nizham. Yang masuk surga atau neraka juga individu bukan daulah/ nizham.
  3. Penerapan syariah juga harus berdasarkan Alqurandan hadis danbukan berdasarkan daulah/ nizham.
  4. Penerapan syariah yang sesuai Alqurandan hadisdirumuskan dalam fikih, ushul fikih, dan maqashid syariah. Daulah/ nizham bukan syarat dan rukun penentu keabsahan dalam penerapan syariah.
  5. Daulah/nizham merupakan instrumen penyempurna dalam penerapan syariah. Bentuk dan sistemnya (kaifiyatnya) tidak dirinci dalam Alqurandan hadis. Kaifiyat bentuk negara dan sistem pemerintahan diserahkan kepada ulama dalam melakukan ijma berdasarkan politik, sosial, dan budaya negara tersebut.
  6. NKRI(Negara Kesatuan Republik Indonesia), ISIS(Islamic State of Iraq and Syria), Al-Qaeda, IM (Ikhwanul Muslimin), JI (Jamaah Islamiyah), JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), NII (Negara Islam Indonesia), MIB (Mujahidin Indonesia Barat), MIT (Mujahidin Indonesia Timur), dan lain-lain semuanya produk ijtihad. Semuanya absah secara syar’i.
  7. Negara Kesatuan Republik Indonesia ajaran Islam karena lahir dari proses ijtihad syar’i. NKRIsudah merupakannegara kesepakatan para alim ulama (ijma). Tujuan NKRI itu sendiri adalah mewujudkan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera sesuai dasar negara, yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar Repubik Indonesia 1945. Ini tujuan yang baik sesuai dengan syariah. Bukankah kita bersepakat bahwa kebaikan itu merupakan ajaran Islam?
  8. Mendirikan daulah di wilayah NKRI termasuk bughat hukumnya haram. Selain itu juga melanggar kaidah ijtihad yang berbunyi al-ijtihadu la yanqushu bil ijtihadi suatu ijtihad tidak bisa dianulir oleh ijtihad yang lain.

Jadi kesimpulannya hidup dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah sesuai syariah Islam dan fardlu ‘ain atau wajib untuk menjaganya. Semoga Indonesia senantiasa menjadi sebuah negara yang nyaman dan penuh kedamaian.


Ayik Heriansyah – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!