Categories: opiniSimponi

Mengidolai Felix Siauw

Share

Siapa sih yang nggak kenal mas Felix Siauw ini?! Penggagas Hijrah Fest di beberapa kota besar. Pengembang konten youtube anak: Nussa dan Rara. Menjadi trendcenter ustaz kekinian yang meninggalkan sekat-sekat konservatif dan tradisional. Sasarannya?! Generasi milenial.

Bagaimana tidak, manusia jaman sekarang, lebih dari berpuluh jam waktu dihabiskan untuk bermain gadget. Anak kecil yang sudah mahir bermain game dan mendownload berbagai aplikasi kesukaan mereka. Anak remaja yang belajar agama melalui youtube. Anak dewasa yang sibuk berdebat di media sosial.

Belakangan ada pernyataan yang cukup menggelitik ketika NU itu dikesankan iri terhadap metode dakwah ustaz hijrah dan Felix Siauw ini. Nyatanya memang NU dan tokohnya kurang begitu diminati oleh para penduduk urban. Para ulama dan kiai NU kurang bisa mengambil hati para pemuda yang semangat-semangatnya berhijrah di media sosial. Selain basis NU adalah di Jawa, yang notabene ketika ngaji menggunakan bahasa Jawa, kiai dan ulama NU juga kurang menyajikan sesuatu yang instan seperti ustaz-ustaz kekinian.

Mereka (kaum hijrah) begitu tertarik dengan dakwah yang instan dan sederhana. Berbeda dengan kajian ulama NU yang terkesan berbelit (ketika menjelaskan melalui kitab kuning). Bagi para santri, tentu itu adalah sebuah berkah karena luasnya ilmu yang perlu dipelajari. Namun bagi para pemuda yang baru belajar agama, hal itu jelas sangat membosankan. Mereka lebih tertarik mendengarkan petuah-petuah rohani Khalid Basalamah satu menit di Instagram daripada mendengarkan satu jam sampai dua jam kajian Gus Baha’ di youtube.

Kembali pada Felix Siauw. Selain cerdik memanfaatkan momentum masyarakat yang bermanja dengan media sosial, dia juga mempunyai pribadi yang menyenangkan bagi penggemarnya. Wajah chinese dan pembawaan yang santun. Aktif menulis dan lihai memainkan pola pikir followernya. Sehingga ketika dia memberikan pernyataan seolah terzolimi, sontak penggemarnya yang puluhan ribu itu mendukungnya.

Perlu diketahui bahwa ternyata Nussa dan Rara merupakan salah satu konten youtube yang tranding di media sosial. Ditambah dengan beberapa tim media yang mendukung editing dan publikasi. Felix Siaw benar-benar di atas angin dalam segi dakwah untuk anak muda. Jauh lebih diminati daripada ceramah ulama sekaliber Quraish Shihab, Gus Mus, Gus Muwafiq, atau bahkan Habib Luthfi.

Baca Juga: Pesan Politik Eks-HTI di Balik Bendera Hitam Putih

Salah Langkah

Perlu diapresiasi langkah dan program yang digagas banom dan organsasi Nahdlatul Ulama. Kekhawatiran masifnya dakwah intoleran dan radikal di media sosial. Akhirnya berbagai pelatihan dan tim dibentuk untuk sama-sama ikut andil menyaingi dakwah ustaz-ustaz sunah. Berbagai akun yang berasas ahlussunah wal jamaah pun bertebaran di media sosial. Sayangnya, mereka masih hanya sebuah platform yang fokus bersaing dengan media yang berbasis wahabi atau salafi atau yang lain.

Walhasil, akun-akun NU selalu tertinggal. Ketika kita sibuk membuat konten untuk melawan atau membentengi akidah dan amaliyan NU, mereka sudah bergeliat dengan konten-konten yang lain. Sedangkan akun-akun dakwah yang disutradarai oleh para intelektual muda bidang media masih tetap istikamah menyerang amaliyah, pergerakan, dan segala yang berkaitan dengan NU. Menariknya lagi, mereka bebas menggunakan istilah-istilah yang bisa membius kawula muda dengan kata semisal, Islam Kaffah, Indonesia Bertauhid, Akun Dakwah, Hijrah, dan lain sebagainya. Istilah yang akan memberikan kesan alam bawah sadar manusia yang kebetulan baru belajar agama tentang besarnya basis Islam yang dibenturkan dengan NU.

Beberapa pelatihan atau seminar yang diselenggarakan oleh NU tentang media, jauh dari yang diharapkan. Seolah kita baru belajar mengidentifikasi kulit, mereka sudah asik memainkan isi. Usaha meniru metode dakwah ustaz sunah adalah hal yang sia-sia. Kalau memang serius bersaing dengan metode dakwah ustaz sunah, bukan dengan cara meniru dan menjelekan cara dakwah mereka. Melainkan bagaimana kita bisa membuat konten kreatif yang beda atau unik dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Saling Mengalahkan

Ketika kita masih sibuk mencari cara “mengalahkan” dakwah mereka, NU akan tertinggal jauh dengan berbagai proses yang akan selalu dikembangkan oleh mereka. Kemudian jika kita melakukan tindakan yang provokatif dan “radikal” untuk menghentikan dakwah mereka, maka kesan NU adalah seperti menjilat ludah sendiri.

Bersaing dengan Felix Siaw dan kawan-kawan yang berdakwah begitu cerdik di media sosial, bukan dilawan dengan otot dan kata-kata hujatan, melainkan dengan strategi dan otak untuk bisa lebih kreaktif membuat konten yang bisa dinikmati oleh muslim Indonesia. Konten yang tentunya tetap dalam jalur asas Nahdlatul Ulama dengan mengedepankan aspek toleransi dan keharmonisan beragama dan bernegara.

Baca Juga: Amir Hizbut Tahrir Meragukan Kesahihan Bendera HTI

Kita masih memutar otak dan strategi dakwah untuk bisa menyaingi Felix Siauw dan lainnya, sedangkan mereka sudah beranjak membuat konten yang lebih menarik lagi. Sebut saja Nussa dan Rara. Strategi dakwah yang jauh dari kesan-kesan khilafah yang selama ini digemborkan. Terlihat santun dengan mengedepankan aspek syar’i. Meskipun beberapa pengamat tetap akan meyakini usaha “pengkhilafahan” dalam proses dakwahnya. Namun tetap kita perlu acungi jempol atas usaha banyak teman hijrah memberikan empati atas strategi dakwahnya. Felix Siauw sangat peka sekali terhadap iklim dan perkembangan zaman, terutama anak-anak muda. Sehingga dengan mudahnya dakwahnya diterima dan disebarluaskan. Sedangkan NU?! Perlu introspeksi lebih mendalam tentang bagaimana mempercantik diri di media sosial.

Zaman sekarang bukan lagi berpikir egois untuk dakwah untuk golongan sendiri. Dakwah harus untuk semua golongan, sehingga NU bisa dinikmati oleh Muhammadiyah, LDII, MTA, eks-HTI, hingga ISIS sekalipun. NU harus bisa menjadi rumah yang mengayomi bukan hanya untuk orang muslim, tapi juga seluruh umat semesta raya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU