Categories: opiniSimponi

Mencari Kebahagiaan

Share

“Seseorang sedang mencari kalungnya yang terjatuh di dalam kamar. Lampunya mati, jadi dia menggerayangi ke sana ke mari. Tidak ketemu karena gelap. Selanjutnya ia melihat ke luar kamar begitu terang. Ia mengalihkan fokus dan mencari kalungnya di luar kamar yang terlihat terang.”

Kita sering terjebak pada pemaknaan kebahagiaan. Seolah kebahagiaan kita adalah ketika bisa mendapatkan sesuatu di luar diri kita. Sehingga persepsi dibangun, “Aku bahagia jika bisa mendapatkan sesuatu.”

Sah saja, karena kebahagiaan yang kita dapatkan selama ini memang fana. Jika kita mau merenungi sedikit tentang hakikat kebahagiaan, maka sejatinya bahagia ada di dalam diri kita sendiri. Bukan bergantung kepada orang atau sesuatu yang lain. Sehingga untuk mencari kebahagiaan kita tidak perlu jauh-jauh keluar dari diri kita.

Dalam cerita sedikit di atas, kita menganggap bahwa dengan terangnya sebuah tempat, maka berharap akan menemukan kalung yang sejatinya jatuh di dalam kamar (tempat gelap). Yang seharusnya kita lakukan adalah berpikir bagaimana cara memperbaiki lampu agar bisa menyala, bukan malah mencari cahaya di luar ruangan tempat kalung itu jatuh.

Demikian dengan kita yang seringkali menggantungkan kebahagiaan diri kepada orang lain atau sesuatu yang di luar diri kita. Kebahagiaan itu ada dalam diri kita masing-masing. Tinggal bagaimana cara mengolah kebahagiaan jika ada kerusakan “lampu” dalam diri kita yang membuat diri menjadi tidak terang.

Mulai dari cara yang sederhana dengan memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai seorang hamba yakni mengabdi kepada Tuhannya. Sebagai seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya. Sebagai seorang guru harus mengajar anak didiknya. Sebagai seorang suami harus bisa mencukupi nafkah keluarganya. Dan banyak contoh lainnya.

Kita harus bisa memahami tugas kita masing-masing. Selanjutnya menilai tentang baik dan buruk sebagai perimbangan tanggungjawab atas tugasnya.

Baca Juga: Manusia Virus

Ketika kita sudah menjalankan tugas dengan baik dan benar, maka kita sudah selangkah menuju kebahagiaan. Jadikan tugas adalah kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi berdasarkan identitas yang kita miliki. Selanjutnya adalah meraih keinginan.

Keinginan manusia memang tidak terbatas. Tapi ketika ketidakterbatasan itu mampu dikuasai, maka keinginan akan mudah dicapai. Tentunya tujuan dari keinginan adalah untuk mencapai kebahagiaan. Sedangkan jika kita merenungi lebih jauh lagi, sebenarnya konsep kebahagiaan tentang segala hal bisa didapatkan juga salah. Karena ada fase atau fragmen tersendiri dalam menemukan kebahagiaan.

Mereka yang hidup kaya mungkin memang bahagia, sedangkan yang miskin tidak terlihat bahagia. Tapi kadang di sisi lain keduanya saling ingin menjadi. Sehingga konsep kebahagiaan adalah cara pandang kita melihat sesuatu. Mereka yang kaya ingin hidup sederhana, mereka yang hidup sederhana berlomba-lomba menjadi kaya. Mereka yang alim ingin menjadi bodoh (tidak tahu) karena ringannya beban dalam beribadah, sedangkan orang bodoh ingin menjadi dan terlihat alim agar bisa dikenal masyarakat.

Lalu banyak cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagian. Mulai dari dalam diri. Ingin apa lakukan, selama dalam koridor kemaslahatan. Jangan suka menggantungkan kebahagiaan atau kepuasan hidup kepada orang lain. Karena orang lain tidak akan pernah mampu untuk mencukupi atau memenuhi segala bentuk konsep kebahagiaan kalian.

Singkirkan batasan-batasan yang menghalangi kebahagiaan. Tentang rasa malu, gengsi, takut, dan kekhawatiran lain yang menggagalkan kita untuk mendapatkan kebahagaiaan. Jika masih sulit bagaimana cara memperbaiki “lampu” yang rusak, bertanyalah kepada “teknisi” yang pas untuk kalian. Jika sudah mengetahui kunci menyalakan lampu yang benar, maka jadilah orang yang menerangi banyak orang. Dengan konsep, prinsip, dan nilai dari kebahagiaan.

Tujuan manusia adalah mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan sejati ada di dalam diri kita masing-masing. Semakin mencari keluar, semakin jauh kita mendapatkan kebahagiaan. Dengan mencintai diri kita sendiri, berharaplah agar diri bisa menemukan kebahagiaan tanpa harus bergantung kepada orang lain, apalagi memaksa orang lain untuk memenuhi keinginan atau kebahagiaan kita. Karena setiap manusia selalu mempunyai konsep masing-masing dalam menentukan kebahagiaannya.

Sekali lagi, jika menginginkan sesuatu, mulailah dari dirimu. Jangan menggantungkan kepada orang lain. Karena semua orang atau segala sesuatu adalah cermin dari segala keinginan atas kebahagiaanmu. Maka tularkan kebahagiaan kepada “cermin-cermin” di sekitarmu, jangan menularkan virus kebencian, kesumpekan, dan kestresan di sekitar. Semoga kita termasuk pribadi-pribadi yang selalu bisa menemukan kebahagiaan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU