Categories: opiniSimponi

Euforia Kemerdekaan

Share

KEMERDEKAAN……

Bangunlah Jiwanya, Bangunglah Raganya,

Untuk Indonesia Raya……

Sepanjang jalan desa satu ke desa yang lain, tampak lampu kelap-kelip mengayun di pinggir jalan dengan sebilah bambu. Cat putih kembali suci setalah setahun tertutup debu. Belum lagi bendera merah-putih yang lumayan lusuh tertancap di beton-beton rumah. Semua sama, mengenang dan memeriahkan euforia kemerdekaan Republik Indonesia ke-74.

Adik-adik di kampung mempersiapkan diri mengikuti beragam perlombaan, mulai dari makan kerupuk, gebuk bantal, balap karung, sepakbola sarung, dan panjat pinang. Sedangkan orang tua sibuk mempersiapkan acara tirakatan mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan. Karang taruna (pemuda) biasanya juga turut mengadakan acara pentas seni untuk semakin menambah semarak 17-an.

Sedikit mengingat kembali, bahwasanya Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Tepatnya hari Jumat bulan Ramadan 1365 H. Jam 10 pagi, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Kemudian disambut pengibaran sangsaka merah-putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 – 8 – ’45

Wakil2 bangsa Indonesia.

Merdeka Berpikir

Hiruk pikuk hari kemerdekaan tidak serta merta diikuti cara pikir yang merdeka. Mampu untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih dan mandiri. Bebas dari keterpaksaan dan tekanan dari faktor di luar diri kita. Tegas mempertimbangkan pilihan maupun tindakannya. Tidak terikat dari paksaan moral tradisi maupun agama. Orang bebas dari sikap rakus dirinya sendiri, ketika ia mempertimbangkan pilihannya.

Penjajahan terjadi ketika orang tidak bebas untuk mempertimbangkan pilihan hidupnya. Orang tidak mau berpikir sendiri, melainkan menyandarkan diri sepenuhnya para moral tradisi ataupun agama yang tidak selalu relevan. Ia hidup atas perintah dan aturan, serta bukan atas pertimbangannya sendiri. Ia dijajah walaupun statusnya berkata merdeka.

Baca Juga: Menangkal Reklamasi Samudera Kesabaran

Para fanatik terjajah ketika iman mendikte mereka untuk berbuat sesuatu, tanpa pertimbangan mandiri. Para fanatik terjajah ketika kemampuan akal budi mereka dipasung oleh sikap percaya buta yang menggambarkan kelemahan serta kekosongan hati. Para fanatik terjajah ketika mereka malas berpikir, dan menyerahkan diri pada otoritas yang tak dapat diandalkan.

Inilah yang terjadi di Indonesia. Kaum fanatik hidup dan menularkan fanatismenya. Akal budi dipasung atas nama kepercayaan buta. Buah dari sikap fanatik adalah intoleransi, yang bermuara pada kekerasan pada yang berbeda.

Merdeka seharusnya bisa memilah apa yang baik dalam dirimnya – konsistensi. Fenomena kemerdekaan semu merajalela ke berbagai sendi kehidupan manusia. Ditambah klaim kemederkaan diri (lebih merdeka daripada yang lain). Indonesia menjadi sarana menggerus sikap fanatik untuk “menjajah” mereka yang tidak sejalan dengan cara berpikirnya.

Bagaimana bisa dikatakan merdeka jika hanya dengan membanggakan diri sendiri atau budayanya sendiri saja sungkan. Lebih parah bagi mereka yang malah menghina jati dirinya. Menganggap usang, dan penyebab segala bentuk kekacauan. Indonesia masa kini tidak semanarik saat para pahlawan berjuang mengorbankan harta dan nyawa demi terciptanya kemandirian mengurus negara.

Pikiran Konservatif

Cara berpikir yang konservatif menambah kaku cara berpikir yang merdeka. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran karena kurangnya wawasan serta ilmu pengetahuan menjadi salah satu dari banyak faktor yang menjadikan diri susah untuk merdeka. Sendiko dawuh kepada panutan. Serasa terkekang segala bentuk kreaktivitas berpikir.

Penjajahan cara pandang dan pola pikir ini sudah merasuk kepada kalangan-kalangan yang semula berikrar tentang sebuah idealisme. Sejak sedia kala, dicekoki dengan doktrin untuk mengaburkan jati diri bangsa dan dirinya sebagai individu. Merasa bangga sebagai penyadur cara berpikir bangsa dan budaya lain. Terlihat istimewa karena berbeda dengan yang lain.

Apalagi jika pola pikir dibenturkan dengan keyakinan atau kepercayaan. Adanya malah saling perang argumen untuk memperebutkan sebuah kebenaran semu. Hasilnya mereka malah terjajah dengan dirinya sendiri.

Saat ini, mulailah merdeka berpikir. Bukan hanya sebatas antusiasme menyambut hari kemerdekan. Dimulai dari membaca dan interaksi (sosialisasi) sampai pada akhirnya menyadari betapa luasnya pengetahuan. Setelahnya patri dalam diri, bahwa kemerdekaan berpikir akan mengikat dan menjadikan manusia-manusia yang berdikari. Bangga akan diri menjadi pewaris kemerdekaan yang sejati.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU